Tiga puluh empat lembaga keuangan bergabung dalam lenders panel PSEL Danantara, minat melampaui tiga kali kebutuhan utang
Oleh Sirkularium Editorial Team, 8 menit baca

Pada 16 Oktober 2026, Danantara Investment Management dan anak usahanya di bidang pengolahan sampah menjadi energi, Denera, menetapkan 34 institusi keuangan sebagai anggota lenders panel program PSEL Indonesia, dengan minat pembiayaan indikatif lebih dari tiga kali estimasi kebutuhan utang program.
Program nasional pengolahan sampah menjadi energi listrik di Indonesia telah melewati tonggak yang tenang namun menentukan. Pada Jumat, 16 Oktober 2026, PT Danantara Investment Management (DIM) dan anak usahanya, PT Daya Energi Bersih Nusantara (Denera), mengumumkan bahwa 34 institusi keuangan telah resmi ditetapkan sebagai anggota lenders panel untuk program Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL). Hasil utamanya adalah besarnya minat. Minat pembiayaan indikatif dari panel melampaui tiga kali estimasi kebutuhan utang program.
Bagi program yang meminta pemerintah daerah menyerahkan sampah residunya selama puluhan tahun, dan meminta mitra teknologi membangun fasilitas berkapasitas minimal 1.000 ton per hari, pertanyaan tentang siapa yang akan meminjamkan dana selalu berada di dekat pusat perhatian. Pengumuman ini memberikan jawaban pertama yang kredibel.
Dari undangan terbuka pada Juli hingga panel yang ditetapkan pada Oktober
Prosesnya dimulai pada 22 Juli 2026, ketika Denera membuka pendaftaran bagi bank dan lembaga pembiayaan infrastruktur melalui PT Indonesia Infrastructure Finance (IIF), yang berperan sebagai penasihat keuangan sekaligus konsultan pembentukan panel. Pendaftaran melalui IIF berlangsung hingga 28 Juli 2026, dilengkapi undangan langsung kepada institusi dalam dan luar negeri. Setiap pendaftar kemudian dinilai berdasarkan kapasitas keuangan, rekam jejak dalam pelaksanaan pembiayaan infrastruktur, fleksibilitas solusi yang dapat ditawarkan, serta kesesuaian strategis dengan program PSEL.
Kurang dari tiga bulan kemudian, panel sudah terbentuk. Ke-34 anggotanya mencakup sumber modal yang beragam. Menurut pernyataan yang dimuat ANTARA, Republika, Kontan, dan Koran Jakarta, anggota panel meliputi institusi pembiayaan proyek internasional yang berpengalaman dalam pembiayaan lintas negara, bank pembangunan multilateral, lembaga pembiayaan pembangunan bilateral, lembaga pembiayaan infrastruktur, dan pengelola dana iklim. Dari dalam negeri, panel mencakup bank-bank Himbara, bank swasta nasional, bank internasional yang beroperasi di Indonesia, dan bank syariah. Rincian per kategori belum dipublikasikan, dan jumlah anggota panel masih dapat bertambah seiring berkembangnya pipeline proyek.
Stefanus Ade Hadiwidjaja, Managing Director Investment DIM, menyebut penetapan 34 institusi tersebut sebagai pencapaian penting bagi program. Ia menjelaskan bahwa panel ini memungkinkan DIM dan Denera memetakan kapasitas dan minat calon pemberi pinjaman sebelum proses pembiayaan formal dimulai, termasuk jenis pinjaman yang tersedia, tenor, fasilitas nontunai, dan struktur lain yang sesuai dengan masing-masing proyek.
Minat pembiayaan indikatif yang mencapai lebih dari tiga kali estimasi kebutuhan utang menunjukkan besarnya potensi dukungan bagi program PSEL. Stefanus Ade Hadiwidjaja, Managing Director Investment, Danantara Investment Management
Angka di balik pengumuman
Angka yang dirilis sengaja bersifat umum. Danantara belum mempublikasikan nilai rupiah estimasi kebutuhan utang, maupun nilai absolut minat indikatif. Yang dibagikan adalah rasionya, dan rasio itulah yang penting.
Pemberitaan sebelumnya memberi gambaran model pembiayaannya. Pada Februari 2026, Investortrust melaporkan bahwa proyek PSEL direncanakan dengan struktur sekitar 70 persen utang dan 30 persen ekuitas, dengan Danantara memegang sedikitnya 30 persen ekuitas dan mitra teknologi juga ikut mengambil porsi ekuitas. Saat itu Chief Investment Officer Danantara, Pandu Sjahrir, menegaskan bahwa pembiayaan tidak akan terbatas pada bank BUMN, dengan tujuan agar semua bank dapat ikut serta. Panel bulan Oktober ini mewujudkan niat tersebut, dengan pemberi pinjaman swasta, internasional, dan syariah duduk bersama Himbara.
Persyaratan pasokan minimum 1.000 ton sampah per hari untuk setiap lokasi, yang juga disebut dalam pemberitaan Februari tersebut, menjelaskan mengapa utang menjadi inti model ini. Fasilitas sebesar ini membutuhkan modal awal yang besar, masa konstruksi yang panjang, serta pinjaman bertenor panjang yang stabil. Basis pemberi pinjaman yang beragam, baik dari segi sumber maupun instrumen, lebih mampu memenuhi kebutuhan tersebut dibanding satu kelompok bank saja.
Denera sendiri masih muda. Perusahaan ini berdiri pada 1 April 2026 dan dibentuk oleh BPI Danantara melalui DIM, sebagai perusahaan pengelolaan sampah terintegrasi sekaligus induk yang mengonsolidasikan proyek PSEL di seluruh Indonesia. Mandatnya adalah mempercepat pembangunan infrastruktur pengolahan sampah melalui kolaborasi dengan pemerintah pusat dan daerah, mitra teknologi, dan para pemangku kepentingan lainnya, dalam kerangka Peraturan Presiden Nomor 109 Tahun 2025.
Mengapa kedalaman pemberi pinjaman penting bagi kota dan kabupaten
Bagi pemerintah daerah, lenders panel mungkin tampak sebagai urusan para pemodal di Jakarta. Dalam praktiknya, panel ini menentukan apa yang terjadi di lapangan. Sebuah fasilitas PSEL baru bergerak dari peletakan batu pertama menuju operasi ketika pembiayaannya mencapai financial close. Minat pemberi pinjaman yang dalam dan kompetitif cenderung memperbaiki syarat yang ditawarkan, yang pada gilirannya mendukung pengaturan biaya layanan pengolahan sampah yang lebih berkelanjutan dan operasi jangka panjang yang lebih kuat.
Keragaman panel juga membawa kekuatan tersendiri. Lembaga pembiayaan pembangunan multilateral dan bilateral biasanya membawa keahlian perlindungan lingkungan dan sosial yang membantu proyek memenuhi standar internasional. Pengelola dana iklim dapat menghadirkan modal konsesional ketika proyek menghasilkan pengurangan metana yang terukur dengan mengalihkan sampah organik dan sampah campuran dari pembuangan terbuka dan TPA. Bank syariah memperluas pilihan instrumen. Bank dalam negeri membawa pemahaman lokal dan likuiditas rupiah, yang mengurangi ketidaksesuaian mata uang bagi proyek yang pendapatan listriknya diterima dalam rupiah dari PLN.
M. Ramadhan Harahap, Chief Financial Officer Denera, menyampaikan apresiasi atas partisipasi dan kepercayaan institusi keuangan yang telah bergabung dalam panel. Ia berharap kolaborasi ini dapat terbangun dengan baik dan menjadi fondasi bagi kerja sama yang produktif dalam program PSEL.
Membaca minat indikatif secara cermat
Danantara menyampaikan hasil ini dengan terukur, dan kehati-hatian itu layak diikuti. Pandu Sjahrir menekankan bahwa kesiapan pembiayaan tidak hanya diukur dari besarnya minat yang diterima. Setiap komitmen tetap harus melalui due diligence dan komite kredit internal masing-masing pemberi pinjaman sebelum menjadi pendanaan nyata. Pernyataan resmi menegaskan hal yang sama: setiap pembiayaan akan tunduk pada evaluasi kelayakan, due diligence, persetujuan internal, dan pemenuhan persyaratan yang berlaku.
Kelebihan minat yang bersifat indikatif adalah sinyal kepercayaan, belum merupakan financial close. Kerja untuk mengubah minat ini menjadi perjanjian pinjaman kini bergeser ke tingkat proyek, kota demi kota.
Cara pandang ini konstruktif. Ia menetapkan harapan yang realistis bagi mitra daerah dan publik, serta memusatkan perhatian pada tugas praktis ke depan: dokumen proyek yang bankable, komitmen pasokan sampah yang jelas dari pemerintah daerah, data volume dan komposisi sampah yang andal, serta pengaturan pembelian listrik dengan PLN yang terdefinisi dengan baik. Proyek yang datang ke meja pemberi pinjaman dengan unsur-unsur ini dalam kondisi baik adalah proyek yang paling mungkin mengubah minat menjadi pendanaan dengan cepat.
Langkah berikutnya bagi pipeline PSEL
Panel ini hadir pada saat program sedang sibuk. Lokasi seperti PSEL Keramasan di Palembang, yang tampil dalam foto sejumlah pemberitaan pengumuman ini, sedang bergerak melalui tahap konstruksi dan komisioning, sementara aglomerasi lainnya sedang menjalani seleksi mitra dan penyiapan lahan. Setiap proyek akan membutuhkan paket pembiayaannya sendiri, dan panel ini memberi Denera peta siap pakai tentang siapa yang dapat meminjamkan, dengan syarat apa, dan dalam instrumen apa.
Beberapa tonggak layak dicermati dalam beberapa bulan mendatang. Pertama adalah financial close pertama di bawah kerangka panel, yang akan menunjukkan bagaimana minat indikatif diterjemahkan menjadi syarat pinjaman yang sebenarnya. Kedua adalah keterbukaan komposisi panel per kategori, yang akan membantu pasar memahami keseimbangan antara modal domestik dan internasional. Ketiga adalah apakah pembiayaan iklim distrukturkan secara eksplisit berdasarkan hasil pengurangan metana, yang akan memperkuat dasar iklim program dan dapat menurunkan biaya modal.
Pandangan Sirkularium
Sirkularium memandang pembentukan lenders panel beranggotakan 34 institusi ini sebagai langkah penting dan positif bagi agenda pengolahan sampah menjadi energi di Indonesia. Panel ini menjawab salah satu pertanyaan paling sering diajukan tentang program, yaitu apakah modal dalam skala besar tersedia, dengan sinyal yang jelas bahwa modal itu ada. Panel ini juga mencerminkan proses yang baik: undangan terbuka, penasihat keuangan independen melalui IIF, penyaringan berdasarkan kapasitas dan kesesuaian, serta catatan yang transparan tentang apa arti minat indikatif dan apa yang belum.
Bagi pemerintah dan lembaga publik, implikasinya adalah bahwa kendala utama kini bergeser dari ketersediaan pembiayaan ke kesiapan proyek. Pemerintah daerah yang ingin memperoleh manfaat sebaiknya memprioritaskan tiga hal. Pertama, mengamankan dan mendokumentasikan pasokan sampah yang andal, karena ambang 1.000 ton per hari bergantung pada kerja sama tingkat aglomerasi antara kota dan kabupaten yang bertetangga. Kedua, berinvestasi pada data sampah yang akurat, termasuk komposisi dan nilai kalor, agar mitra teknologi dan pemberi pinjaman dapat menilai risiko dengan yakin. Ketiga, tetap menjalankan program pengurangan dan pemilahan di hulu secara paralel, karena pemilahan dari sumber yang dikelola dengan baik meningkatkan kualitas bahan baku dan mendukung tujuan ekonomi sirkular yang berjalan berdampingan dengan pemulihan energi.
Bagi para pemodal, panel ini menciptakan pintu masuk terstruktur ke pipeline infrastruktur nasional dengan dukungan kebijakan yang jelas di bawah Peraturan Presiden Nomor 109 Tahun 2025. Bagi publik, ini menjadi pengingat bahwa transisi dari pembuangan terbuka menuju pengolahan sampah modern sedang dibangun langkah demi langkah, dengan pembiayaan, tata kelola, dan kesiapan daerah bergerak maju bersama. Sirkularium akan mengikuti financial close pertama di bawah panel ini serta komposisi pemberi pinjaman ketika diungkapkan.
Sumber
- ANTARA News, Danantara: 34 institusi keuangan gabung sebagai lenders panel PSEL
- Republika, Minat pembiayaan tinggi, 34 institusi keuangan gabung lenders panel PSEL Danantara
- Kontan, Danantara gandeng 34 lembaga keuangan untuk danai proyek sampah jadi listrik
- Jawa Pos, 34 institusi keuangan biayai proyek PSEL, IIF jadi financial advisor
- Koran Jakarta, Danantara kerahkan 34 lembaga keuangan untuk program PSEL
- Investortrust, Bank swasta boleh ikut danai proyek waste to energy
- Republika, Danantara buka pendaftaran lenders panel untuk proyek PSEL (Juli 2026)






