Jawa Barat terjunkan 25.000 mahasiswa ke permukiman Bandung Raya untuk memangkas 1.000 ton sampah per hari
Oleh Sirkularium Editorial Team, 8 menit baca

Pemerintah Provinsi Jawa Barat menerjunkan 25.000 mahasiswa ke 52 kecamatan di Bandung Raya selama tiga bulan, dengan pengakuan setara 10 SKS, untuk membantu rumah tangga memilah dan mengurangi sampah dari sumber. Targetnya pengurangan 20 persen yang memperpanjang usia TPA Sarimukti hingga fasilitas Legok Nangka beroperasi.
Jawa Barat memilih manusia sebagai garis pertama dalam menjawab tekanan pada TPA regional utamanya. Pemerintah provinsi mengumumkan pekan ini bahwa 25.000 mahasiswa akan menghabiskan tiga bulan, mulai Oktober 2026, mendampingi rumah tangga di 52 kecamatan di Bandung Raya untuk memilah dan mengurangi sampah dari sumber. Keikutsertaan ini akan diakui setara 10 satuan kredit semester (SKS).
Targetnya konkret. Bandung Raya menghasilkan sekitar 5.000 ton sampah per hari. Provinsi menargetkan pengurangan 20 persen, atau sekitar 1.000 ton per hari, sebelum sampah sampai ke TPA Sarimukti di Kabupaten Bandung Barat. Capaian ini akan membantu Sarimukti tetap beroperasi hingga Desember 2029 dan menjembatani kawasan ini menuju fasilitas pengolahan sampah menjadi energi Legok Nangka, yang direncanakan beroperasi penuh pada 2030.
Isi program
Sekretaris Daerah Jawa Barat Herman Suryatman menjelaskan rencana ini, yang dilaporkan Suara Jabar pada 6 Oktober serta ANTARA, detikNews, dan Koran Jakarta pada 7 Oktober. Mahasiswa akan dibekali modul dan perangkat digital, lalu ditempatkan di permukiman untuk mendampingi warga memisahkan sampah organik dari sampah lainnya di tingkat rumah tangga. Menurut detikJabar, provinsi berkoordinasi dengan 90 perguruan tinggi, dan upaya ini didukung 1.728 aparatur Kota Cimahi yang diterjunkan untuk edukasi warga, bersama TNI, Gerakan Pramuka, dan Satgas Citarum Harum.
Targetnya adalah mengurangi sampah dari sumbernya hingga 20 persen, ujar Herman Suryatman.
Program ini merupakan perluasan dari model yang sudah diuji. Uji coba sebelumnya di Kecamatan Arcamanik, Kota Bandung, melibatkan sekitar 500 mahasiswa selama tiga bulan. ANTARA, detikNews, dan Suara Jabar sama sama melaporkan bahwa uji coba tersebut memangkas timbulan sampah sekitar 20 persen dan melipatgandakan tingkat pemilahan di rumah tangga yang didampingi. Rencana provinsi adalah mereplikasi hasil tersebut di seluruh Bandung Raya.
Herman lugas menjelaskan mengapa pendekatan ini bertumpu pada manusia. Koran Jakarta mengutipnya bahwa kuncinya tetap sumber daya manusia, dan bahwa perubahan perilaku tidak semudah membalikkan telapak tangan, tetapi harus dilakukan.
Mengapa Sarimukti menentukan jadwal
Urgensinya berasal dari TPA Sarimukti, yang melayani kota dan kabupaten di Bandung Raya. Satu satunya area aktif, Zona 5, seluas 6,3 hektare dan dirancang menampung sekitar 1,8 juta meter kubik, atau 700.000 ton. Pada 6 Oktober, detikJabar melaporkan sekitar 560.000 ton telah ditimbun, sekitar 80 persen dari kapasitas.
Arief Perdana, Kepala UPTD Pengelolaan Sampah Dinas Lingkungan Hidup Jawa Barat, menyampaikan bahwa jika sisa kapasitas dibandingkan dengan sampah yang masuk, Zona 5 diperkirakan penuh pada November 2026, padahal semula dirancang bertahan hingga Agustus 2027. Herman memberi rentang sedikit lebih lebar, dengan menyebut provinsi memperkirakan zona tersebut penuh antara Oktober dan akhir tahun. Sirkularium mencantumkan kedua perkiraan, yang mengarah pada kesimpulan yang sama: beberapa bulan ke depan sangat menentukan.
Arief menyebut dua alasan praktis percepatan ini. Pemadatan kurang efektif dari rencana karena keterbatasan alat berat, dan kiriman dari kota sekitar tetap melebihi kuota yang disepakati. Sekitar 30 persen Zona 5 telah ditutup tanah, tetapi sampah baru kemudian ditimbun di atas area yang sudah ditutup.
Rencana dari hulu hingga hilir
Program mahasiswa adalah bagian hulu dari strategi lebih luas yang disusun provinsi dalam tiga tingkat.
Di hulu, fokusnya adalah pengurangan di sumber dan pemilahan rumah tangga. Selain melalui mahasiswa, setiap kota dan kabupaten menerima permintaan pengurangan setiap dua minggu, dan pengurangan sampah ditetapkan sebagai indikator kinerja aparatur desa, menurut detikJabar.
Di tengah, provinsi ingin fasilitas yang ada bekerja dengan kapasitas penuh. Fasilitas ini mencakup TPS3R, pusat pemilahan, fasilitas refuse-derived fuel (RDF), pengomposan, dan budi daya maggot. Herman menjelaskan bahwa pemisahan sampah organik di sumber adalah yang memungkinkan fasilitas ini berjalan sesuai rancangan, karena semuanya bergantung pada pasokan yang lebih bersih dan sudah terpilah.
Di hilir, provinsi menyiapkan sejumlah langkah di Sarimukti. Dalam jangka pendek, provinsi berencana meningkatkan pemadatan dengan dukungan Bina Marga. Arief menyampaikan bahwa provinsi akan menggunakan mesin pemadat berkapasitas 12 ton, dibandingkan peralatan 4 ton yang tersedia saat ini, dengan ITB menganalisis metode yang paling efektif. Menaikkan ketinggian Zona 5 dan membuka kembali sementara Zona 4 yang sudah ditutup juga menjadi pilihan hingga akhir tahun. Untuk 2027, rencananya mencakup teknologi pirolisis bersama TNI, pengolahan RDF bersama mitra pihak ketiga, penambangan TPA untuk memulihkan ruang dari sampah lama, dan pemanfaatan gas. Jika fasilitas tersebut tertunda, Zona 3 dan 4 dapat diaktifkan kembali, yang memerlukan pembangunan dinding penahan senilai sekitar Rp24 miliar.
Mengapa model mahasiswa layak dicermati
Banyak kota di Indonesia telah menjalankan kampanye pemilahan. Yang membedakan pendekatan Jawa Barat adalah perpaduan skala, struktur, dan insentif.
Skalanya signifikan. Dua puluh lima ribu orang terlatih yang tersebar di 52 kecamatan dapat menjangkau jauh lebih banyak rumah tangga, lebih sering, dibandingkan staf dinas lingkungan hidup sendiri. Durasi tiga bulan sesuai dengan periode ketika uji coba Arcamanik menunjukkan hasil yang terukur.
Strukturnya menghubungkan program dengan pengakuan akademik formal. Konversi kegiatan menjadi 10 SKS memberi alasan bagi perguruan tinggi untuk memasukkannya ke kurikulum dan memberi alasan bagi mahasiswa untuk menjalaninya dengan sungguh sungguh. Dengan keterlibatan 90 perguruan tinggi, program ini juga membentuk angkatan lulusan yang memiliki pengalaman praktis dalam pengelolaan sampah berbasis masyarakat, keterampilan yang akan dibutuhkan pemerintah daerah selama bertahun tahun.
Insentif bagi rumah tangga bersifat praktis. Ketika sampah organik dipisahkan di rumah, sampah tersebut dapat diarahkan ke pengomposan, budi daya maggot, atau biogas alih alih ke TPA. Sampah organik umumnya merupakan fraksi terberat dan terbasah dari sampah rumah tangga, sehingga memisahkannya memberi dampak terbesar pada tonase.
Pandangan Sirkularium
Bagi pemerintah dan lembaga publik, program Jawa Barat menawarkan model untuk tahun tahun jembatan antara TPA hari ini dan fasilitas pengolahan masa depan.
Pertama, perubahan perilaku dapat diorganisasi dalam skala besar. Uji coba Arcamanik memberi bukti; provinsi kini memperluasnya dengan target yang jelas. Provinsi lain yang memiliki klaster perguruan tinggi, dari Yogyakarta hingga Makassar dan Malang, dapat mengadaptasi model yang sama dengan bekerja sama dengan kampus untuk pengakuan SKS dan dengan kecamatan untuk penempatan.
Kedua, pengukuran akan menentukan kredibilitas. Target 20 persen dan 1.000 ton sudah jelas. Memantaunya melalui data jembatan timbang di Sarimukti serta di fasilitas TPS3R dan RDF, yang dipublikasikan secara berkala, akan menunjukkan apakah program berjalan dan di mana dukungan perlu difokuskan. Data yang sama akan membantu menentukan ukuran Legok Nangka dan fasilitas hilir lainnya secara tepat.
Ketiga, capaian perlu dipertahankan setelah mahasiswa selesai bertugas. Pendampingan tiga bulan dapat membentuk kebiasaan, tetapi mempertahankannya memerlukan pengangkutan terpilah yang andal, kapasitas yang cukup di fasilitas pengomposan dan TPS3R untuk menerima sampah organik, serta pemimpin desa yang memperlakukan pengurangan sampah sebagai tugas berkelanjutan, sebagaimana dimaksud indikator kinerja tersebut.
Yang perlu dicermati berikutnya: hasil awal dari 52 kecamatan, tren jembatan timbang di Sarimukti selama Oktober dan November, hasil analisis pemadatan dari ITB, keputusan tentang Zona 4 serta kemitraan pirolisis dan RDF 2027, dan kemajuan di Legok Nangka. Jika program mahasiswa mendekati targetnya, program ini akan memberi Bandung Raya waktu yang berharga dan menawarkan Indonesia cara yang dapat direplikasi untuk melibatkan perguruan tinggi dalam salah satu tantangan layanan publik yang paling mendesak.
Sumber
- ANTARA News, 25 ribu mahasiswa dilibatkan kelola sampah Jabar sebagai pengganti SKS (7 Oktober 2026)
- detikNews, Pemprov Jabar libatkan 25.000 mahasiswa untuk dampingi warga kelola sampah (7 Oktober 2026)
- Suara Jabar, 25 ribu mahasiswa diterjunkan dengan target 1.000 ton per hari (6 Oktober 2026)
- Koran Jakarta, 25.000 mahasiswa dilibatkan untuk edukasi pengelolaan sampah di Bandung Raya (7 Oktober 2026)
- detikJabar, Jabar sasar sampah dari hulu hingga hilir saat Sarimukti terancam overload (7 Oktober 2026)
- detikJabar, usia TPA Sarimukti hanya sampai November 2026 dengan kapasitas sisa 20 persen (6 Oktober 2026)
- detikJabar, Pemprov Jabar siapkan pemadatan sampah di Sarimukti (6 Oktober 2026)
- detikJabar, sederet upaya perpanjang napas operasional TPA Sarimukti (7 Oktober 2026)






