Lompat ke konten
Sirkularium
Kembali ke Insight
Limbah & Polusi

Jakarta akan memperluas model saringan sampah Ciliwung ke 11 sungai lain

Oleh Sirkularium Editorial Team, 8 menit baca

Petugas dan ekskavator mengangkat kayu, bambu, dan sampah plastik yang hanyut dari saringan sampah di Sungai Ciliwung, Jakarta Selatan, dengan tumpukan material organik hasil pilahan di tepi sungai

Gubernur Pramono Anung menyampaikan pada 5 Oktober bahwa Jakarta akan mereplikasi saringan sampah terpadu TB Simatupang, yang menangkap hampir 30 persen sampah yang terbawa Sungai Ciliwung dan mengolah sebagian besarnya menjadi kompos dan woodchip, di 11 sungai lain di ibu kota.

Sekilas data
11 sungai
Sungai di Jakarta yang akan dipasangi saringan dengan model TB Simatupang
Hampir 30%
Porsi sampah Ciliwung yang ditangkap dan diolah di saringan TB Simatupang
32.677 t
Sampah yang ditangani di saringan sejak Agustus 2023 hingga 12 September 2026
17.920 t
Dari jumlah itu, diolah menjadi 5.645 t kompos dan 12.275 t woodchip

Jakarta mengambil fasilitas yang sudah terbukti berjalan di satu sungai dan berencana mengulanginya di seluruh kota. Pada Senin, 5 Oktober 2026, Gubernur Pramono Anung meninjau Saringan Sampah TB Simatupang (SSTBS), saringan sampah terpadu di Sungai Ciliwung di Jagakarsa, Jakarta Selatan, dan mengumumkan bahwa Pemerintah Provinsi DKI Jakarta akan mengembangkan penanganan serupa di 11 sungai lain yang mengalir melalui ibu kota.

Sungai yang disebut adalah Kali Sunter, Cipinang, Jatikramat, Baru Timur, Baru Barat, Angke, Grogol, Krukut, Buaran, Kalimalang, dan Cakung. Bersama Ciliwung, sungai-sungai ini mencakup sebagian besar dari 13 sungai yang menurut gubernur mengalir di Jakarta. Pengumuman tersebut diberitakan pada hari yang sama oleh ANTARA, detikNews, Kompas, Republika, Okezone, dan Koran Jakarta, serta oleh CNN Indonesia, iNews, dan NU Online keesokan paginya.

Apa yang diumumkan gubernur di TB Simatupang

Pramono didampingi Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta Dudi Gardesi, Wali Kota Jakarta Timur Munjirin, dan Wali Kota Jakarta Selatan Syafrin Liputo. Tujuan kunjungannya adalah melihat sampah ditangani di tepi hulu kota, sebelum terbawa menyusuri Ciliwung menuju Pintu Air Manggarai di pusat Jakarta.

Pesan utamanya adalah replikasi. Di lokasi, gubernur menyampaikan kepada wartawan bahwa kota akan mengembangkan penanganan seperti ini di 11 sungai di Jakarta, dan ia membacakan sendiri daftarnya. Ia membingkai perluasan ini sebagai bagian dari pergeseran agar sampah tidak lagi ditangani secara terpisah.

Dengan demikian, penanganan sampah tidak lagi dilakukan secara parsial. Penanganan dilakukan secara lebih holistik dan terencana, kata Gubernur Pramono Anung di saringan TB Simatupang.

Gubernur mengaitkan saringan sungai secara langsung dengan bagian lain sistem persampahan kota. Ia menyebut fasilitas refuse-derived fuel (RDF) di Rorotan dan Bantargebang, program pengolahan sampah menjadi energi listrik, serta jaringan TPS3R di tingkat lingkungan, dan mengatakan bahwa jika semuanya berjalan baik bersama saringan ini, beban sampah yang tiba di Pintu Air Manggarai dapat berkurang. Desk foto detik dan Republika sama-sama menyebut 11 fasilitas yang direncanakan sebagai Saringan Sampah Terpadu (SST), dengan tujuan mengurangi volume sampah yang dikirim ke TPST Bantargebang.

Cara kerja saringan Ciliwung saat ini

SSTBS lebih dari sekadar penghalang di badan air. Seperti digambarkan Kabar Jakarta dan Ipol.id, material yang hanyut di Ciliwung tertahan di saringan, diangkat dengan alat berat, lalu dipilah, dicacah, dan diolah sesuai jenisnya. Koran Jakarta melaporkan bahwa lokasi ini menggunakan ekskavator untuk mengangkat sampah dan mesin pencacah industri untuk mengolahnya.

Komposisinya penting. Kompas melaporkan bahwa minimal 8 ton sampah dari hulu Ciliwung terangkut setiap hari, dan 70 persen di antaranya adalah kayu dan bambu. Itulah sebabnya hasil olahannya didominasi produk organik. Pramono menyebut sebagian besar sampah yang ditangkap adalah sampah organik, dan pemberitaan mencatat produknya berupa kompos, woodchip, media pakan maggot, serta material yang dapat menjadi bahan baku RDF. Residu yang tidak dapat dimanfaatkan dipres dan dikirim lebih lanjut.

Data DLH yang dikutip Sudut Pandang dan Sketsindonews memberikan gambaran paling jelas tentang rekam jejak fasilitas ini. Sejak Agustus 2023 hingga 12 September 2026, SSTBS telah menangani 32.677 ton sampah, atau rata-rata sekitar 30,2 ton per hari. Dari jumlah tersebut, 17.920 ton telah diolah, terdiri atas 5.645 ton kompos dan 12.275 ton woodchip. Dengan kata lain, lebih dari separuh seluruh sampah yang tertangkap saringan telah diubah menjadi produk yang bisa dimanfaatkan.

Fasilitas ini juga terbukti mampu menghadapi lonjakan. Kabar Jakarta mencatat bahwa pada Maret 2025, setelah hujan deras di Bogor, lebih dari 1.500 ton sampah kiriman diangkat di SSTBS. Media yang sama melaporkan bahwa pada 2023 fasilitas ini telah mengonversi 145.290 kilogram sampah hasil penyaringan menjadi RDF.

Catatan tentang angka. Sumber yang berbeda menggambarkan ukuran kinerja yang berbeda pula. Kompas menyebut minimal 8 ton terangkut per hari, Kabar Jakarta mengutip dokumen kinerja DLH 2023 yang mencatat kapasitas sekitar 15 ton per hari serta laporan Januari 2026 yang menyebut sekitar 8 ton per hari dalam kondisi normal, sementara data kumulatif DLH menghasilkan rata-rata 30,2 ton per hari. Angka-angka ini tidak saling bertentangan, melainkan mengukur hal yang berbeda: asupan harian rutin dibandingkan rata-rata jangka panjang yang mencakup lonjakan saat hujan deras seperti pada Maret 2025. Volume sampah sungai sangat bergantung pada curah hujan dan debit air di hulu.

Mengapa menahan sampah di sungai itu penting

Bagi Jakarta, sampah sungai adalah persoalan pengendalian banjir sekaligus persoalan persampahan. Material yang lolos dari saringan hulu terus bergerak ke kawasan perkotaan yang padat, tempat ia dapat menumpuk di pintu air dan rumah pompa serta memperlambat aliran air. Okezone melaporkan gubernur menyebut saringan ini membantu mengurangi beban sampah Jakarta dan menjadi cara pengendalian banjir. Kabar Jakarta mencatat peran saringan paling penting ketika hujan deras di Bogor dan Depok membawa sampah dalam jumlah besar ke ibu kota.

Ini juga persoalan kebocoran sampah ke laut. Sampah yang tidak tertangkap di sungai pada akhirnya akan sampai ke laut. Setiap saringan yang dipasang di sungai menjadi titik pengumpulan tetap yang mengubah sampah tersebar dan sulit dijangkau menjadi aliran material yang dapat dihitung, dipilah, dan diolah. Dengan timbulan sampah Jakarta sekitar 9.000 ton per hari menurut Kabar Jakarta, titik tangkap yang andal di setiap sungai utama menambah lapisan perlindungan bagi Teluk Jakarta tanpa bergantung pada setiap rumah tangga.

Dudi Gardesi menjelaskan logikanya secara lugas.

Sampah kita tahan dan tangani lebih awal. Jadi, bukan menunggu sampah menumpuk di hilir baru kemudian dibersihkan, kata Kepala DLH DKI Jakarta Dudi Gardesi.

Ia menambahkan bahwa yang dibangun kota bukan hanya saringan sampah, melainkan sistem pengelolaan yang lebih utuh. Hal ini sejalan dengan arah kebijakan Instruksi Gubernur Nomor 5 Tahun 2026, yang menggeser Jakarta dari pola lama angkut dan buang menjadi pilah, angkut, dan olah, sebagaimana dicatat NU Online dan Koran Jakarta.

Dari sampah sungai menjadi kompos, woodchip, dan bahan bakar

Pengalaman Ciliwung menunjukkan bahwa sampah sungai bukan sekadar beban pembuangan. Karena sebagian besar berupa kayu dan bambu, sampah ini sangat cocok untuk dipulihkan. Woodchip dapat menjadi bahan biomassa atau bahan pencampur pengomposan, kompos mengembalikan unsur hara ke taman dan ruang hijau, dan fraksi nonorganik yang lebih kering dapat menjadi RDF.

Kaitannya dengan kapasitas RDF Jakarta cukup signifikan. Kompas melaporkan bahwa fasilitas RDF Rorotan di Jakarta Utara diproyeksikan mengolah 548 ton sampah per hari pada 2026, lalu stabil di kisaran 1.000 ton per hari pada 2027 hingga 2029. Kabar Jakarta melaporkan bahwa DLH sejak 2025 telah merencanakan peningkatan fasilitas TB Simatupang dengan tambahan mesin dan peralatan agar lebih banyak sampah badan air dapat diolah menjadi RDF. Ketika 11 saringan baru beroperasi, saringan tersebut dapat memasok fraksi terpilah yang stabil ke jaringan itu, sementara porsi organik tetap diolah di lokasi menjadi kompos dan woodchip.

Inilah ekonomi sirkular dalam tataran praktis. Alih-alih mengangkat sampah dari sungai lalu mengangkutnya ke Bantargebang, model saringan memilah di titik tangkap dan mengirim setiap fraksi ke pemanfaatan terbaiknya.

Pandangan Sirkularium

Bagi pemerintah dan lembaga publik, pengumuman Jakarta ini menawarkan sejumlah pelajaran yang berguna.

Pertama, replikasikan yang sudah punya rekam jejak. SSTBS memiliki tiga tahun data operasional, komposisi material yang diketahui, dan rangkaian hasil olahan yang jelas. Membangun 11 saringan baru di atas fondasi tersebut mengurangi risiko teknis dan memungkinkan kota merencanakan kapasitas dengan angka nyata, bukan perkiraan. Mempublikasikan data operasional setiap lokasi baru dalam format yang sama akan memudahkan perbandingan kinerja dan perbaikannya dari waktu ke waktu.

Kedua, rancang setiap saringan sesuai sungainya. Ciliwung membawa banyak kayu dan bambu dari kawasan hulu yang berhutan. Sungai seperti Angke, Grogol, atau Cakung melintasi kawasan permukiman dan industri yang lebih padat sehingga kemungkinan membawa lebih banyak plastik dan sampah rumah tangga campuran. Studi karakterisasi di setiap lokasi sebelum perancangan akan membantu menyesuaikan peralatan pemilahan, ruang penyimpanan, dan jalur penyerapan hasil dengan material yang sebenarnya, terutama fraksi plastik yang lebih cocok didaur ulang atau dijadikan RDF daripada dikomposkan.

Ketiga, rencanakan untuk puncak, bukan rata-rata. Lonjakan lebih dari 1.500 ton pada Maret 2025 menunjukkan bahwa ujian sesungguhnya bagi saringan sungai datang pada musim hujan. Ruang penumpukan sementara, peralatan bergerak yang dapat berpindah antarlokasi, dan kesepakatan dengan penyerap RDF dan kompos untuk menampung lonjakan akan membantu jaringan ini bekerja saat paling dibutuhkan.

Keempat, teruskan kerja di hulu. Saringan adalah jaring pengaman, bukan pengganti pemilahan di sumber. Gerakan pilah sampah berdasarkan Instruksi Gubernur Nomor 5 Tahun 2026 dan jaringan TPS3R mengurangi sampah yang masuk ke sungai sejak awal, sementara kerja sama dengan Bogor dan Depok di daerah tangkapan hulu dapat mengurangi sampah yang mengalir ke Jakarta dari luar.

Yang perlu dicermati selanjutnya: jadwal pembangunan dan anggaran untuk 11 saringan terpadu, sungai mana yang diprioritaskan lebih dulu, apakah peningkatan TB Simatupang untuk produksi RDF berjalan, dan bagaimana saringan tersebut terhubung dengan fasilitas RDF Rorotan seiring peningkatan kapasitasnya. Jika terlaksana sesuai rencana, Jakarta akan memiliki jaringan titik pengumpulan sungai di seluruh kota, yang masing-masing mengubah sampah yang dulu menjadi kiriman banjir menjadi kompos, woodchip, dan bahan bakar.

Hasil saringan TB Simatupang, Agustus 2023 hingga 12 September 2026

Values in ton

BagikanLinkedInWhatsAppFacebookEmail
Sirkularium

Sirkularium adalah lembaga thought-leadership dan advisory yang mempercepat transisi sirkular di sampah, air, dan energi, bekerja bersama pemerintah dan institusi publik.

Di limbah dan polusi, Sirkularium membantu merancang sistem pengumpulan, pemilahan, dan pemulihan, menyusun kebijakan dan peta jalan, serta mengubah sampah menjadi sumber daya yang terkelola.

Artikel terkait

Foto udara kawasan TPST Bantargebang dengan lahan yang telah dibersihkan dan diratakan untuk fasilitas pengolahan sampah menjadi energi listrik di samping zona timbunan sampah yang ada
Limbah & Polusi

Gubernur Pramono Anung menyampaikan pada 7 Oktober bahwa persoalan penyediaan lahan yang selama ini menahan fasilitas pengolahan sampah menjadi energi listrik Jakarta di Bantargebang telah menemukan jalan keluar, dan kota berharap masuk batch ketiga program nasional agar pembangunan dapat dimulai sebelum akhir 2026.

Oleh Sirkularium Editorial Team, 8 menit baca

Mahasiswa berjaket almamater membantu warga memilah sampah rumah tangga organik dan anorganik ke dalam tempat sampah berlabel di sebuah permukiman di Bandung
Limbah & Polusi

Pemerintah Provinsi Jawa Barat menerjunkan 25.000 mahasiswa ke 52 kecamatan di Bandung Raya selama tiga bulan, dengan pengakuan setara 10 SKS, untuk membantu rumah tangga memilah dan mengurangi sampah dari sumber. Targetnya pengurangan 20 persen yang memperpanjang usia TPA Sarimukti hingga fasilitas Legok Nangka beroperasi.

Oleh Sirkularium Editorial Team, 8 menit baca

Pejabat Pemerintah Kota Kendari di TPAS Puuwatu, Sulawesi Tenggara, di samping lahan yang direncanakan untuk fasilitas pengolahan sampah terpadu, dengan alat berat memadatkan sampah di sel yang ada
Limbah & Polusi

Kendari menjadi satu dari empat penerima di Sulawesi dalam Local Service Delivery Improvement Project yang didukung Bank Dunia, pada penyerahan di Makassar tanggal 6 Oktober. Kota ini berencana mengarahkan program senilai Rp107 miliar tersebut untuk fasilitas pengolahan sampah di TPAS Puuwatu dan sistem layanan yang berjalan dari pemilahan di rumah tangga hingga pemrosesan akhir.

Oleh Sirkularium Editorial Team, 8 menit baca

Menteri Lingkungan Hidup dan Bupati Klungkung meninjau mesin pirolisis dan tumpukan briket green coal di TOSS Center, Kusamba, Bali
Limbah & Polusi

Menteri Lingkungan Hidup Mohammad Jumhur Hidayat meninjau TOSS Center di Kusamba, Klungkung, pada 3 Oktober dan menyatakan lini pirolisisnya, yang ditargetkan mengolah 26 hingga 30 ton sampah per hari, dapat direplikasi di daerah lain. Kementerian juga menawarkan diri menghubungkan produsen bahan bakar dari sampah di daerah dengan pembeli industri besar, mata rantai yang selama ini dimintakan bantuannya oleh pemerintah kabupaten.

Oleh Sirkularium Editorial Team, 8 menit baca

Pekerja membalik tumpukan kompos di fasilitas TPS3R di dalam Kawasan Industri Pulogadung, Jakarta Timur, dengan bangunan pabrik dan bedeng pembibitan hijau di latar belakang
Limbah & Polusi

PT JIEP, pengelola Kawasan Industri Pulogadung seluas 433 hektare, melaporkan produksi 54.612,8 kilogram kompos dari sampah organik kawasan sejak 2023 dan memperluas dukungan pemilahan kepada tenant, sekolah, lingkungan RT/RW, serta petugas PPSU sejalan dengan Instruksi Gubernur DKI Jakarta Nomor 5 Tahun 2026.

Oleh Sirkularium Editorial Team, 8 menit baca

Kepala sumur penangkap gas TPA dengan pipa kuning yang muncul dari sel sampah yang telah ditutup tanah di sebuah TPA perkotaan, dengan siluet kota di kejauhan
Limbah & Polusi

Perusahaan pengelola energi terbarukan Oikos Earth pada 1 Oktober mengusulkan agar Makassar menangkap gas metana dari TPA Tamangapa yang telah beroperasi puluhan tahun dan mengubahnya menjadi kredit karbon serta biometana terkompresi untuk industri. Tawaran ini dibangun di atas sumur gas yang sudah terpasang dan kebijakan kota sejak Agustus yang hanya menerima sampah residu di TPA.

Oleh Sirkularium Editorial Team, 8 menit baca