Lompat ke konten
Sirkularium
Kembali ke Insight
Energi & Iklim

Dewan Energi Nasional mengarahkan bioetanol menuju bauran 50 persen

Oleh Sirkularium Editorial Team, 9 menit baca

Pabrik gula atau penyulingan bioetanol di Indonesia dengan bahan baku tebu dan tangki penyimpanan yang terlihat

Pada sidang paripurna pertama Dewan Energi Nasional pada 2026, yang digelar di Istana Merdeka pada 17 September dan dipimpin Presiden Prabowo Subianto, pemerintah diinstruksikan menyiapkan langkah konkret menuju bauran bensin E50, melanjutkan program biodiesel yang telah mengeluarkan satu jenis solar dari daftar impor. Instruksi ini mengubah target bauran menjadi pertanyaan pasokan agroindustri.

Sekilas data
4 juta kl
Bioetanol yang dibutuhkan per tahun untuk E20
39 sampai 40 juta kl
Konsumsi bensin nasional per tahun
2 juta ha
Lahan tebu yang sedang disiapkan
18 sampai 20 hari
Ketahanan stok BBM nasional yang dilaporkan

Dewan Energi Nasional menggelar sidang paripurna pertamanya pada 2026 di Istana Merdeka, Kamis 17 September, dipimpin Presiden Prabowo Subianto selaku Ketua Dewan Energi Nasional, dengan Wakil Presiden Gibran Rakabuming sebagai Wakil Ketua dan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Bahlil Lahadalia, sebagai Ketua Harian. Sidang mempertemukan anggota dewan dari unsur pemerintah, akademisi dan pemangku kepentingan, termasuk Menteri Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi, Brian Yuliarto, Menteri Lingkungan Hidup, Jumhur Hidayat, Menteri Perhubungan, Dudy Purwagandhi, Menteri Sekretaris Negara, Prasetyo Hadi, dan Sekretaris Kabinet, Teddy Indra Wijaya. Anggota dewan Satya Widya Yudha dan Johni Jonatan Numberi turut hadir. Dewan bersidang di bawah pimpinan Presiden dua kali setahun, sehingga setiap sidang berbobot sebagai forum penetapan arah, bukan koordinasi rutin.

Sejumlah instruksi lahir dari pertemuan itu. Yang paling panjang jangkauannya menyangkut bioetanol.

Dari hasil biodiesel yang terbukti menuju padanannya di bensin

Penalaran yang disampaikan seusai sidang berangkat dari apa yang sudah berhasil. Bahlil menyebut program biodiesel sebagai rujukan, dengan catatan bahwa langkah ke bauran 50 persen berbasis sawit telah mengeluarkan solar jenis CN48 dari daftar impor Indonesia. Itu hasil nyata yang dicapai melalui kombinasi mandat, bahan baku dalam negeri dan industri pengolahan yang sudah mapan.

Bapak Presiden tadi memerintahkan untuk segera menyusun langkah langkah yang sama untuk kita membangun E50.

Instruksi itu meminta padanannya di sisi bensin. Indonesia saat ini menjual bauran etanol 5 persen pada jaringan ritel yang masih terbatas. Jalur yang telah diumumkan bergerak ke bauran 10 persen pada 2027 dan bauran 20 persen pada 2028. Arahan Presiden memperluas cakrawala hingga bauran 50 persen, tanpa tanggal yang melekat, dan itu cara yang tepat memperlakukan target yang kelayakannya bergantung pada pembangunan sisi pertanian yang belum terjadi.

Besaran peluangnya ditentukan oleh konsumsi. Penggunaan bensin nasional berada di kisaran 39 sampai 40 juta kiloliter per tahun, berhadapan dengan kapasitas kilang dalam negeri yang dilaporkan 14,3 juta kiloliter. Konsumsi solar berada pada orde yang serupa, sekitar 39 juta kiloliter per tahun. Setiap satu persen bauran yang dipenuhi dari biomassa domestik berarti satu persen volume itu bersumber dari dalam negeri, dengan nilai yang tertahan di pertanian dan pengolahan Indonesia alih alih mengalir ke luar sebagai pembayaran bahan bakar.

Pertanyaannya adalah bahan baku, dan bahan baku adalah soal agroindustri

Mandat E20 diperkirakan membutuhkan sekitar 4 juta kiloliter bioetanol per tahun. E50 akan menuntut jauh lebih banyak. Tiga bahan baku telah diidentifikasi, yaitu tebu beserta tetesnya, singkong dan jagung.

Di titik inilah program ini menjadi pertanyaan ekonomi sirkular, bukan semata pertanyaan energi. Tetes tebu bukan komoditas yang ditanam untuk bahan bakar. Tetes tebu adalah sirup sisa setelah kristalisasi gula, produk samping yang sudah dihasilkan pabrik gula dalam volume besar dan secara historis berujung pada pemanfaatan bernilai lebih rendah. Mengarahkannya menjadi etanol berkualitas bahan bakar menaikkan nilai yang dipulihkan dari tebu yang memang sudah digiling, sebelum satu hektare pun ditanam. Logika yang sama berlaku bagi residu pengolahan singkong dan jagung. Bagi ekonomi yang sedang memperluas basis pengolahan pangannya, aliran residu adalah kelas aset yang sudah tersedia dan sebagian besar belum terhitung.

Luas tanam adalah separuh lainnya. Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan, menyampaikan bahwa sekitar 2 juta hektare lahan tebu sedang disiapkan di Jawa, Sumatera dan Papua, dengan Kementerian Pertanian memimpin penyiapan lahan dan Danantara ditunjuk mengembangkan industri pengolahan etanol.

Dua tahun mendatang kita sudah bisa produksi paling kurang E20.

Ketersediaan lahan diakui sebagai kendala utama, dan pemetaan sedang berjalan untuk mengidentifikasi di mana luasan itu dapat diamankan. Urutan pekerjaan penting di sini. Kapasitas etanol yang dibangun berdekatan dengan pabrik gula yang sudah ada, berjalan lebih dulu dengan tetes tebu dan baru kemudian dengan tebu khusus, dapat mulai berproduksi sementara program penanaman menuju kematangannya. Urutan seperti itu memperpendek masa ketika modal menganggur menunggu panen.

Apa lagi yang dibahas dewan

Instruksi bioetanol berada di dalam agenda ketahanan energi yang lebih luas. Bahlil melaporkan stok dan cadangan bahan bakar nasional berada pada ketahanan 18 sampai 20 hari, angka yang diminta Presiden untuk dijaga pada tingkat aman.

Dewan juga membahas produksi hulu. Arahannya adalah mempercepat eksplorasi di berbagai cekungan dan blok prospektif, serta menerapkan teknologi modern untuk meremajakan sumur tua alih alih memperlakukannya sebagai sumur habis. Sekitar 45.000 sumur rakyat akan dibawa ke dalam pengelolaan profesional sesuai peraturan yang berlaku, dengan pengawasan terhadap penjualan tanpa izin. Badan tata kelola baru untuk sektor minyak dan gas, yang ditempatkan langsung di bawah Presiden, turut dibahas. Selain itu, sidang menekankan kerja sama antara pemerintah, akademisi dan dunia usaha dalam menyusun kebijakan energi ke depan, sejalan dengan komposisi dewan itu sendiri.

Bagi kalangan yang bekerja pada transisi energi, benang merahnya adalah substitusi impor yang dibangun di atas sumber daya domestik. Meremajakan sumur yang sudah ada, memformalkan produksi rakyat dan mencampurkan etanol domestik ke dalam bensin adalah teknik yang berbeda untuk tujuan yang sama, yaitu memenuhi permintaan dari kapasitas yang sudah ada atau dapat dibangun di dalam negeri.

Pandangan Sirkularium

Tiga implikasi praktis mengikuti bagi pemerintah dan institusi publik.

Pertama, kendala yang mengikat untuk E20 dan tahapan di atasnya bersifat agroindustri, bukan otomotif. Kesesuaian mesin pada bauran 10 dan 20 persen sudah dipahami secara internasional. Mengamankan 4 juta kiloliter etanol berkualitas bahan bakar per tahun adalah tugas yang lebih berat, dan itu diwujudkan oleh pabrik gula, penyulingan, logistik serta program penanaman. Pemerintah provinsi di wilayah penghasil tebu, bersama instansi yang menangani lahan dan pertanian, dengan demikian menjadi aktor sentral dalam sebuah kebijakan energi, dan siklus perencanaan mereka perlu diselaraskan dengan tenggat bauran 2027 dan 2028, bukan berjalan terpisah.

Kedua, aliran residu layak diinventarisasi secara resmi. Sebelum lahan baru dibuka, negara akan terbantu oleh catatan terbuka mengenai berapa banyak tetes tebu, limbah singkong dan residu pengolahan jagung yang dihasilkan setiap tahun, di mana lokasinya, dan untuk apa saat ini dimanfaatkan. Inventarisasi itu akan menetapkan berapa besar dari kebutuhan 4 juta kiloliter yang dapat dipenuhi dari material yang sudah beredar, sekaligus mengidentifikasi pemanfaatan yang bersaing, termasuk pakan ternak dan kebutuhan industri pangan, sehingga program etanol dirancang bersama mereka, bukan berhadapan dengan mereka.

Ketiga, preseden biodiesel sebaiknya dipelajari sebagai model kelembagaan, bukan hanya sebagai hasil kebijakan. Keluarnya solar CN48 dari daftar impor mengikuti bertahun tahun penyusunan mandat, aliran dana, infrastruktur pencampuran dan standar mutu yang dibangun secara berurutan. Mendokumentasikan instrumen mana yang paling menentukan, dan berapa lama masing masing matang, memberi program etanol jadwal yang realistis serta dasar yang dapat dipertahankan untuk investasi yang akan diminta dari sektor swasta.

Apa yang perlu diamati berikutnya cukup jelas. Peta jalan yang diminta disusun kementerian, dan apakah peta jalan itu melekatkan tanggal serta volume pada E50. Hasil pemetaan lahan untuk program 2 juta hektare. Konfirmasi tahapan E10 pada 2027 sebagai uji pertama apakah pasokan sanggup memenuhi mandat yang berlipat. Dan sejauh mana gelombang pertama kapasitas etanol baru ditempatkan di dekat pabrik gula yang sudah ada, yang akan menunjukkan apakah peluang residu ditangkap lebih dulu sebelum penanaman baru diandalkan.

Jalur bauran etanol yang disampaikan

Values in % etanol

BagikanLinkedInWhatsAppFacebookEmail
Sirkularium

Sirkularium adalah lembaga thought-leadership dan advisory yang mempercepat transisi sirkular di sampah, air, dan energi, bekerja bersama pemerintah dan institusi publik.

Di energi dan iklim, Sirkularium mendukung penyusunan data dasar emisi, perencanaan energi terbarukan dan penyimpanan, serta kerangka karbon dan kebijakan yang kuat di lapangan.

Artikel terkait

Hamparan tanaman singkong dan sorgum di perkebunan luas di Kalimantan, dengan ahli agronomi mengambil sampel tanah di latar depan dan pabrik pengolahan di kejauhan
Energi & Iklim

BUMN perkebunan Agrinas Palma Nusantara menyampaikan pada 8 Oktober bahwa pihaknya telah memetakan satu juta hektare lahan khusus untuk jagung, sorgum, dan singkong sebagai bahan baku bioetanol, dengan potensi produksi sekitar 5 juta kiloliter per tahun untuk mendukung campuran 20 persen etanol dalam bensin. Rencana ini menggeser pembahasan E20 dari target pencampuran ke kebun, pabrik, dan perizinan yang akan memasoknya.

Oleh Sirkularium Editorial Team, 8 menit baca

Kontainer berisi sel baterai litium ion dimuat ke kapal kargo di pelabuhan kawasan industri Weda Bay, Halmahera Tengah, dengan bangunan industri dan perbukitan hijau di latar belakang
Energi & Iklim

Presiden Prabowo Subianto meluncurkan ekspor perdana baterai kendaraan listrik Indonesia dan 11 proyek hilirisasi senilai US$10,2 miliar di Indonesia Weda Bay Industrial Park. Babak berikutnya bagi kawasan ini adalah memenuhi kebutuhan listrik 7,1 GW dengan lebih banyak tenaga surya dan angin.

Oleh Sirkularium Editorial Team, 8 menit baca

Panel surya atap di sebuah pabrik pulp dan kertas besar di Indonesia, dengan bangunan pengolahan pabrik di latar belakang
Energi & Iklim

Grup pulp dan kertas ini berkomitmen menggunakan 100 persen listrik terbarukan di seluruh operasinya paling lambat pada 2050, berangkat dari bauran energi 2025 di mana sumber terbarukan, terutama black liquor dari pabriknya sendiri, sudah memasok 57,3 persen total penggunaan energi.

Oleh Sirkularium Editorial Team, 8 menit baca

Reaktor dan jaringan pipa pabrik amonia di kompleks Pupuk Kaltim, Bontang, Kalimantan Timur, pada siang hari
Energi & Iklim

Deklarasi bersama dengan pemegang lisensi teknologi asal Swiss, Casale, pada 6 Oktober menegaskan bahwa Ammonia Pabrik-2 di Bontang hasil revamping menurunkan konsumsi energi dari 39,28 menjadi 35,25 MMBTU per ton sekaligus menaikkan produksi 4,18 persen, menghemat sekitar Rp228 miliar dan 110.000 ton CO2 per tahun.

Oleh Sirkularium Editorial Team, 8 menit baca

Unit pemurnian biogas dan kolam limbah tertutup di samping pabrik kelapa sawit di Sumatera Selatan, dengan jaringan pipa gas menuju stasiun meter
Energi & Iklim

PGN memastikan akan membeli dan menyalurkan biometana dari fasilitas baru di Sumatera Selatan yang dikembangkan perusahaan patungan KIS Biofuels dan Toyota Tsusho. Peletakan batu pertama dilakukan pada 5 Oktober, dengan target sekitar 150.000 MMBtu per tahun untuk Toyota Motor Manufacturing Indonesia dan industri lain mulai 2027.

Oleh Sirkularium Editorial Team, 8 menit baca

Deretan panel surya terapung di permukaan waduk yang tenang di Indonesia dengan dinding bendungan dan perbukitan hijau di latar belakang
Energi & Iklim

Pada 5 Oktober, Masyarakat Energi Terbarukan Indonesia (METI) menemui Wakil Ketua MPR Eddy Soeparno dengan 22 rekomendasi untuk RUU EBET dan usulan memanfaatkan 263 bendungan milik negara, dengan potensi PLTS terapung dan PLTA sekitar 23,9 GW, untuk mempercepat program PLTS 100 GWp.

Oleh Sirkularium Editorial Team, 8 menit baca