Pulau berisi 45 keluarga menjadi technopark pertama PLN dan memangkas biaya penyediaannya seperempat
Oleh Sirkularium Editorial Team, 9 menit baca

PLN meresmikan Green Energy Ecosystem Technopark di Pulau Rengit, Belitung pada 22 Agustus 2026, memadukan PLTS agrivoltaik, penyimpanan baterai, turbin angin dan fuel cell hidrogen. Listrik bergerak dari 12 jam pada malam hari menjadi 24 jam, konsumsi rumah tangga naik dari 70 menjadi 172 kilowatt jam, dan biaya penyediaan turun dari Rp16.700 menjadi Rp12.300 per kilowatt jam.
PT PLN meresmikan Green Energy Ecosystem Technopark di Pulau Rengit pada 22 Agustus 2026. Pulau ini berada di Desa Pegantungan, Kecamatan Badau, Kabupaten Belitung, Kepulauan Bangka Belitung. Ia dihuni sekitar 150 jiwa dalam kurang lebih 45 kepala keluarga, sebagian besar keluarga nelayan. Pemberitaan sedikit berbeda mengenai jumlah kepala keluarga, satu menyebut 44 dan lainnya 45.
Sebelum proyek ini, pulau tersebut bertumpu pada dua unit pembangkit diesel dengan total 100 kilowatt, dan listrik tersedia selama 12 jam pada malam hari. Kini listrik menyala 24 jam.
Angka biaya adalah yang pertama perlu dibaca
Perhatian secara alami tertuju pada pergeseran dari 12 jam menjadi 24 jam. Angka yang membawa bobot lebih besar bagi kebijakan adalah apa yang terjadi pada biaya penyediaan.
Biaya pokok penyediaan listrik di Pulau Rengit turun dari Rp16.700 per kilowatt jam menjadi Rp12.300. Itu penurunan sekitar 26 persen, dicapai sembari melipatgandakan jam pelayanan.
Kombinasi ini tidak lazim dan layak direnungkan. Pada kebanyakan sistem, memperpanjang jam layanan menaikkan biaya total, karena lebih banyak bahan bakar dibakar untuk lebih banyak jam. Di sini yang terjadi sebaliknya, karena jam tambahannya dipenuhi dengan surya, penyimpanan dan angin, bukan dengan lebih banyak diesel. Diesel di pulau terpencil mahal bukan terutama karena harga bahan bakarnya, melainkan karena apa yang dibutuhkan untuk mengantarkan bahan bakar itu ke pulau dan menjaga unit pembangkit kecil tetap berjalan di sana.
Melipatgandakan layanan dan memangkas biaya satuan pada saat yang sama hanya mungkin ketika jam tambahannya berasal dari bahan bakar yang berbeda dari jam aslinya.
Proyek ini juga dikreditkan menghindari sekitar 99,5 ton karbon dioksida per tahun. Pada pulau sekecil ini angka tersebut niscaya kecil. Rasio yang diwakilinya adalah bagian yang dapat diskalakan.
Empat teknologi dalam satu sistem kecil
Technopark ini memadukan empat teknologi pembangkitan dan penyimpanan ketimbang bertumpu pada satu sumber.
Komponen suryanya adalah rangkaian agrivoltaik berkapasitas 80 kilowatt peak, dipasang pada struktur yang ditinggikan seluas kurang lebih 800 sampai 1.000 meter persegi, dengan budidaya tetap berjalan di tanah di bawah panel. Penyimpanan baterai disediakan dalam dua unit masing masing 100 kilowatt jam, yang membawa pasokan melewati malam. Turbin angin dengan desain sumbu vertikal maupun horizontal dipasang, dipilih agar bekerja pada kecepatan angin rendah alih alih kecepatan tinggi yang dibutuhkan turbin besar. Fuel cell hidrogen melengkapi rangkaian tersebut.
Pilihan agrivoltaik juga patut dicatat tersendiri. Pada pulau kecil, lahan datar yang dapat dipakai terbatas dan sudah diperebutkan antara permukiman, budidaya dan kegiatan perikanan. Meninggikan panel sehingga tanaman tetap tumbuh di bawahnya berarti pembangkit tidak mengambil lahan dari pangan. Prinsipnya sama dengan surya terapung di waduk dan surya atap di bangunan komersial, yakni menempatkan pembangkitan pada ruang yang sudah terpakai ketimbang menuntut ruang baru.
Alasan memadukan empat teknologi pada sistem yang melayani 45 kepala keluarga bukanlah redundansi demi redundansi. Masing masing menutup mode kegagalan yang berbeda. Surya tidak menghasilkan apa pun pada malam hari dan sedikit saja saat mendung tebal. Baterai menutup waktu petang namun terkuras. Angin berkecepatan rendah dapat membangkitkan ketika surya tidak bisa, termasuk saat mendung dan musim penghujan. Fuel cell memberi keluaran yang dapat diatur dan sama sekali tidak bergantung cuaca. Pada sistem kecil terisolasi tanpa interkoneksi untuk disandari, pelapisan itulah yang membuat pasokan 24 jam menjadi kredibel, bukan sekadar cita cita.
Laboratorium sekaligus sistem kelistrikan
Edwin Nugraha Putra, Direktur Teknologi, Rekayasa dan Keberlanjutan PLN, menggambarkan Pulau Rengit sebagai technopark pertama yang secara resmi dioperasikan PLN, dan menempatkan peresmian itu sebagai momen bersejarah bagi kerja perseroan menuju kemandirian kelistrikan nasional. Ia juga menyatakan sistem tersebut akan dievaluasi untuk menilai peluang penerapan dan replikasinya di wilayah lain.
Tujuan evaluatif itu tertanam dalam desainnya. Fasilitas ini membawa kemitraan riset dengan Universitas Gadjah Mada pada pengembangan fuel cell, Universitas Sebelas Maret pada baterai, dan Universitas Bangka Belitung pada metode agrovoltaik. Ia dimaksudkan berfungsi sebagai lokasi riset dan pembelajaran bagi sistem energi hijau terpadu dalam kondisi kepulauan, bukan semata sebagai pembangkit listrik.
Peresmian dihadiri Hidayat Arsani dari Bangka Belitung, yang jabatannya disebut berbeda antar pemberitaan sebagai gubernur provinsi dan sebagai bupati Belitung, bersama pejabat Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral serta perwakilan Dewan Energi Nasional.
Dampak ekonominya pada pulau tersebut terlihat pada angka konsumsi. Pemakaian listrik rumah tangga naik dari 70 menjadi 172 kilowatt jam. Itu bukan sekadar orang memakai lebih banyak lampu. Pasokan sepanjang waktu memungkinkan penyimpanan dingin, yang memungkinkan keluarga nelayan menahan hasil tangkapan ketimbang menjualnya seketika pada harga berapa pun yang tersedia. Tata letak agrivoltaik menambahkan budidaya di atas tanah yang sama yang ditempati panel.
Pandangan Sirkularium bagi pemerintah dan institusi publik
Tiga pengamatan mengikuti bagi kebijakan dan perancangan program.
Yang pertama menyangkut di mana energi terbarukan paling langsung ekonomis. Sistem kepulauan terpencil yang berjalan dengan diesel memiliki biaya penyediaan tertinggi di negeri ini, yang berarti di sanalah energi bersih menggantikan alternatif yang paling mahal. Rengit memperlihatkan penurunan 26 persen terhadap diesel. Program yang mendahulukan sistem berbiaya tertinggi akan memberi penghematan fiskal lebih besar per satuan terpasang dibanding program yang memulai di tempat listrik jaringan sudah murah, dan pos subsidi merespons langsung pilihan tersebut.
Yang kedua menyangkut penilaian akses berdasarkan jam, bukan berdasarkan sambungan. Rumah tangga yang tercatat teraliri listrik sembari menerima pasokan 12 jam dicatat sama dengan yang menerima 24 jam, padahal perbedaan ekonominya besar, sebagaimana ditunjukkan lonjakan dari 70 menjadi 172 kilowatt jam. Penyimpanan dingin, pendinginan dan aktivitas apa pun yang menuntut kesinambungan mustahil pada sistem 12 jam. Mengukur durasi layanan berdampingan dengan jumlah sambungan akan memberi gambaran lebih akurat tentang di mana elektrifikasi benar benar memungkinkan aktivitas ekonomi.
Yang ketiga menyangkut model technopark itu sendiri. Memasangkan instalasi yang beroperasi dengan kemitraan riset universitas dan penilaian replikasi yang eksplisit hanya sedikit lebih mahal daripada membangun instalasinya saja, dan ia menghasilkan pengetahuan yang dapat dialihkan ketimbang satu aset tunggal. Bagi negara dengan ribuan pulau kecil berpenghuni yang menghadapi kondisi serupa, itu cara masuk akal membelanjakan proyek pertama dalam satu rangkaian. Pertanyaannya adalah apakah evaluasinya dianggarkan dan diterbitkan dalam bentuk yang dapat dipakai operator lain.
Yang perlu diamati berikutnya adalah terbitnya evaluasi sistem Rengit, apakah penurunan biayanya bertahan sepanjang satu tahun penuh termasuk musim penghujan, serta apakah modelnya direplikasi di lokasi kepulauan lain dengan komponen risetnya tetap utuh dan tidak dipangkas demi kecepatan.
Sumber
- detikFinance, Dulu 12 Jam, Kini Listrik di Pulau Rengit Belitung Nyala 24 Jam
- ANTARA News, PLN bangun green energy ecosystem technopark di Pulau Rengit
- Republika, GEET Pulau Rengit Resmi Beroperasi, Dorong Aktivitas Ekonomi Berbasis Energi Hijau
- Listrik Indonesia, PLN Resmikan Energi Hijau Pulau Rengit, Listrik Kini Nyala 24 Jam






