Lompat ke konten
Sirkularium
Kembali ke Insight
Energi & Iklim

Dua wilayah kerja panas bumi berpindah tangan saat pemerintah memangkas jalur perizinan

Oleh Sirkularium Editorial Team, 9 menit baca

Kepala sumur eksplorasi panas bumi di lereng gunung berhutan Indonesia dengan uap menyembur dan menara bor terlihat di kejauhan

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral menerbitkan izin wilayah kerja Gunung Ungaran kepada PT PLN dan wilayah kerja Telaga Ranu kepada PT Telaga Ranu Geothermal, yang diumumkan pada konvensi panas bumi di Jakarta. Lima wilayah kerja lain dan tujuh penugasan survei disiapkan untuk 2026, terhadap sumber daya nasional 23.202,77 megawatt yang 2.776,39 megawatt di antaranya sudah terpasang.

Sekilas data
23.203 MW
Sumber daya panas bumi nasional
2.776 MW
Kapasitas panas bumi terpasang saat ini
Rp2,6 T
Target penerimaan negara bukan pajak 2026
USD 1,1 miliar
Target investasi panas bumi 2026

Bahlil Lahadalia, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, menerbitkan surat keputusan yang memberikan dua izin wilayah kerja panas bumi. PT PLN menerima wilayah kerja Gunung Ungaran di Jawa Tengah. PT Telaga Ranu Geothermal menerima wilayah kerja Telaga Ranu.

Pengumumannya disampaikan pada 19 Agustus 2026 di Indonesia International Geothermal Convention and Exhibition di Jakarta oleh Eniya Listiani Dewi, Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan dan Konservasi Energi, yang berterima kasih kepada menteri atas terbitnya surat keputusan izin tersebut.

Dua penugasan survei pendahuluan dan eksplorasi diterbitkan bersamaan. PT Pertamina Geothermal Energy memperoleh Cugudang Panti. PT Cakrawala Bituang Geothermal memperoleh wilayah Bituang. Penugasan survei berbeda dari izin wilayah kerja, karena ia memberi hak memeriksa lebih dahulu tanpa langsung memberi hak mengembangkan, dan biasanya mendahului penetapan wilayah kerja bertahun tahun kemudian.

Jarak yang hendak ditutup izin ini

Angka yang memberi bobot pada pengumuman tersebut adalah angka nasionalnya.

Sumber daya panas bumi Indonesia ditempatkan pada 23.202,77 megawatt. Kapasitas terpasangnya 2.776,39 megawatt. Artinya kurang lebih 88,4 persen sumber dayanya belum dikembangkan, dan itu jarak yang bertahan melalui bertahun tahun perhatian kebijakan.

Sebabnya bukan geologi dan bukan pula minat pengembang. Panas bumi memiliki profil risiko yang khas. Pekerjaan yang mahal, yakni pengeboran eksplorasi, datang sebelum siapa pun tahu apakah sebuah lapangan akan berproduksi secara komersial. Pengembang dapat mengeluarkan biaya besar dan tidak menemukan apa apa. Berbeda dari surya atau angin, yang sumber dayanya dapat diukur dari permukaan dengan keyakinan memadai, panas bumi menuntut pengeboran beberapa kilometer ke dalam tanah untuk memastikan apa yang ada di sana.

Pengembang surya dapat mensurvei lokasi dengan instrumen. Pengembang panas bumi harus mengebor untuk mengetahuinya, dan pengeborannya berbiaya sama entah jawabannya ya atau tidak.

Ketimpangan itulah sebabnya alokasi wilayah kerja lebih berarti di sini dibanding pada teknologi terbarukan lain. Izin wilayah kerja adalah yang memungkinkan pengembang memikul risiko eksplorasi dengan sedikit harapan memulihkannya, karena ia mengamankan hak mengembangkan apa pun yang ditemukan.

Hal itu juga menjelaskan mengapa pekan konvensi yang sama menghasilkan kesepakatan unit bottoming di Ulubelu dan Lahendong, yang menambah kapasitas di lapangan yang sudah terbukti dan berproduksi. Kedua rute itu menjawab ujung yang berlawanan dari persoalan yang sama. Unit bottoming menarik lebih banyak dari geologi yang sudah dipastikan, dengan risiko rendah dan cepat. Wilayah kerja baru menghadapi geologi yang belum dipastikan, dengan risiko tinggi dan lambat, dan itulah satu satunya rute menuju kapasitas di luar apa yang sanggup dihasilkan lapangan eksisting. Program yang bersandar pada satu dan mengabaikan yang lain akan kehabisan perolehan mudah atau tidak pernah memulai yang sulit.

Apa yang ditawarkan berikutnya

Di luar dua izin yang diterbitkan, kementerian menguraikan pipeline untuk 2026.

Lima wilayah kerja lain sedang disiapkan, dengan cadangan gabungan sekitar 304 megawatt dan rencana kapasitas pengembangan sekitar 145 megawatt. Kelimanya adalah Hamiding 50 megawatt, Danau Ranau 40, Songgoriti 40, Oka Ile Ange 10 dan Gunung Sirung 5.

Tujuh wilayah penugasan survei pendahuluan dan eksplorasi juga disiapkan, memuat total sumber daya sekitar 321 megawatt dan kemungkinan cadangan sekitar 247 megawatt, tersebar di Sumatera, Lampung, Sulawesi dan Maluku.

Kapasitas masing masing layak diperhatikan. Pada 5 dan 10 megawatt, Gunung Sirung dan Oka Ile Ange tergolong kecil menurut ukuran pembangkitan skala utilitas. Keduanya tidak kecil relatif terhadap sistem kepulauan yang akan dilayaninya, yang alternatifnya biasanya diesel. Unit panas bumi 10 megawatt di sebuah pulau di kawasan timur menggantikan listrik termahal di negeri ini, dan itu proposisi ekonomi yang berbeda dari menambahkan kapasitas yang sama ke jaringan Jawa dan Bali.

Perizinan adalah kendala yang sedang dibenahi

Butir paling berkonsekuensi justru bukan sebuah izin. Kementerian sedang merevisi peraturannya untuk memadatkan proses perizinan menjadi satu tahap lelang.

Siapa pun yang mengikuti panas bumi Indonesia akan mengenali mengapa itu penting. Proses bertahap, yang membuat pengembang melewati persetujuan terpisah seiring eksplorasi berjalan, telah menambah bertahun tahun pada lini masa proyek dan memasukkan ketidakpastian pada setiap peralihannya. Memadatkannya mengubah perhitungan risiko bagi setiap proyek dalam pipeline, bukan hanya yang sedang ditawarkan sekarang.

Waktu bukan biaya yang netral di sektor ini. Modal eksplorasi dikeluarkan di awal dan tidak menghasilkan apa pun sampai pembangkitnya beroperasi, sehingga setiap tahun penundaan berbunga terhadap imbal hasil akhirnya. Proyek yang menarik dengan jalur enam tahun menuju listrik pertama dapat menjadi tidak layak dibiayai dengan jalur sepuluh tahun, tanpa ada yang berubah pada sumber daya di bawahnya. Reformasi perizinan karena itu merupakan langkah pembiayaan sekaligus langkah administratif.

Terhadap itu, kementerian menargetkan penerimaan negara bukan pajak dari panas bumi sebesar Rp2,6 triliun pada 2026, naik dari Rp2,46 triliun yang terealisasi pada 2025. Investasi ditargetkan USD 1,1 miliar untuk tahun ini, naik hingga USD 2,2 miliar atau sekitar Rp39 triliun bila lelang baru berjalan. Eniya mengaitkan target penerimaan itu langsung dengan aktivitas pengeboran, dengan menyatakan kementerian bersemangat menghadirkan Rp2,6 triliun karena banyak pengeboran yang harus dilakukan.

Pandangan Sirkularium bagi pemerintah dan institusi publik

Tiga pengamatan mengikuti.

Yang pertama menyangkut di mana risiko eksplorasi berada. Reformasi perizinan memperpendek jalurnya namun tidak mengubah siapa yang menanggung bila sebuah sumur kering. Instrumen yang berbagi risiko eksplorasi awal, baik melalui konfirmasi sumber daya yang dibiayai pemerintah, jaminan pengeboran, maupun penyertaan publik bertahap, itulah yang memindahkan panas bumi dari sektor yang izinnya tersedia menjadi sektor yang proyeknya terbiayai. Perubahan perizinan itu perlu, dan ia belum memadai sendirian.

Yang kedua menyangkut memadankan wilayah kerja kecil dengan sistem yang membutuhkannya. Oka Ile Ange dan Gunung Sirung tidak akan menarik minat pengembang sebesar lapangan 50 megawatt di dekat jaringan yang kuat. Padahal keduanya berada di tempat listrik paling mahal disediakan. Rancangan lelang yang mengakui nilai lebih tinggi dari diesel yang digantikan, alih alih memperlakukan semua megawatt setara, akan membuat wilayah ini layak, bukan tersisa.

Yang ketiga menyangkut angka sumber dayanya sendiri. Menyebut potensi 23.202,77 megawatt terhadap 2.776,39 megawatt terpasang memang akurat namun tidak lengkap, karena perkiraan sumber daya mencakup prospek yang belum pernah dibor dan yang kelayakan komersialnya belum diketahui. Angka perencanaan yang jujur lebih kecil dan lebih tidak pasti. Institusi publik yang menetapkan target terhadap angka sumber daya utama sebaiknya jelas bagian mana yang merupakan cadangan terbukti dan bagian mana yang masih perkiraan geologi.

Yang perlu diamati berikutnya adalah terbitnya peraturan perizinan yang direvisi, jadwal lelang bagi lima wilayah kerja tersebut, serta apakah penugasan eksplorasi di Cugudang Panti dan Bituang berlanjut menjadi izin wilayah kerja pada waktunya.

Rencana kapasitas lima wilayah kerja yang ditawarkan untuk 2026

Values in MW

BagikanLinkedInWhatsAppFacebookEmail
Sirkularium

Sirkularium adalah lembaga thought-leadership dan advisory yang mempercepat transisi sirkular di sampah, air, dan energi, bekerja bersama pemerintah dan institusi publik.

Di energi dan iklim, Sirkularium mendukung penyusunan data dasar emisi, perencanaan energi terbarukan dan penyimpanan, serta kerangka karbon dan kebijakan yang kuat di lapangan.

Artikel terkait

Turbin angin di punggung bukit pesisir Sulawesi Selatan dengan waduk atau bendungan pembangkit listrik tenaga air terlihat di lanskap bawahnya
Energi & Iklim

Berbicara seusai rapat kerja bersama Komisi XII DPR RI pada 16 September 2026, Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan dan Konservasi Energi memaparkan alasan memasangkan energi angin dengan tenaga air, dan menyebut tawaran pembiayaan lunak melalui Just Energy Transition Partnership akan diarahkan ke pembangkit angin dan surya terapung. Logikanya bersifat musiman. Angin bertiup paling kuat justru pada bulan bulan ketika muka air waduk menurun.

Oleh Sirkularium Editorial Team, 9 menit baca

Deretan panel surya menutupi atap datar yang luas dari sebuah pusat perbelanjaan besar di Indonesia, dengan teknisi memeriksa rangkaian panel dan panorama kota di belakangnya
Energi & Iklim

Trans Mall Group meresmikan instalasi PLTS atap di enam belas properti di empat belas kota pada 15 September 2026, sebuah portofolio gabungan 12,34 megawatt peak yang diperkirakan menghasilkan 16,8 gigawatt jam listrik bersih per tahun. Grup ini melaporkan efisiensi biaya listrik 8 sampai 10 persen setiap tahun, yang mengubah komitmen keberlanjutan menjadi argumen biaya operasional yang dapat diuji pemilik gedung lain.

Oleh Sirkularium Editorial Team, 9 menit baca

Hamparan sorgum di Lampung di samping unit pengolahan bioetanol skala pilot, dengan teknisi berseragam keselamatan memeriksa peralatan fermentasi dan distilasi
Energi & Iklim

Pertamina New & Renewable Energy meluncurkan Bioethanol Development Center di Tegineneng, Kabupaten Pesawaran, Lampung pada 14 September 2026, disertai perjanjian kerja sama dengan pemerintah provinsi dan nota kesepahaman riset internasional. Kapasitas pilot ini sengaja kecil, 60 kiloliter per tahun, karena dibangun untuk membuktikan bahan baku, proses dan rendemen sebelum modal masuk pada skala besar.

Oleh Sirkularium Editorial Team, 9 menit baca

Interior lini manufaktur sel baterai modern di Jawa Barat dengan peralatan otomatis dan teknisi berpakaian ruang bersih memeriksa gulungan elektroda
Energi & Iklim

PT Contemporary Amperex Technology Indonesia Battery mulai beroperasi bertahap di Karawang pada Juli 2026, sekitar tiga belas bulan setelah peletakan batu pertama. Kapasitas tahap pertamanya 6,9 gigawatt jam per tahun, naik menjadi 15 gigawatt jam pada perluasan penuh terhadap total investasi sekitar USD 1,2 miliar, dengan keluaran terbagi antara kendaraan listrik dan sistem penyimpanan energi baterai.

Oleh Sirkularium Editorial Team, 8 menit baca

Pekerja di lini perakitan modul surya sebuah pabrik Indonesia memeriksa panel fotovoltaik jadi yang ditumpuk untuk pengiriman
Energi & Iklim

Departemen Perdagangan Amerika Serikat memfinalkan keputusan Solar IV pada 11 September 2026, menetapkan margin antidumping 94,36 persen atas sel dan modul silikon kristal Indonesia serta bea imbalan antara 73,2 dan 173,7 persen. Waktunya menempatkan keputusan itu berdampingan dengan dimulainya konstruksi program surya 100 gigawatt peak Indonesia sendiri.

Oleh Sirkularium Editorial Team, 9 menit baca

Panel surya dan turbin angin kecil di samping saluran irigasi yang mengairi sawah bertingkat di Jawa Tengah, dengan petani bekerja di petak sawah di belakangnya
Energi & Iklim

Program MAPAN Pertamina Patra Niaga di Kalijaran, Cilacap menjalankan irigasi pertanian dengan sistem hibrida surya dan angin berkapasitas 15.250 watt peak, yang mengalirkan sekitar 150.000 liter air per hari. Menggantikan pompa diesel menghemat sekitar Rp9 juta per dua musim tanam dan menghindarkan 2.860 kilogram setara karbon dioksida per tahun, dengan 233 orang memperoleh manfaat.

Oleh Sirkularium Editorial Team, 8 menit baca