Lompat ke konten
Sirkularium
Kembali ke Insight
Energi & Iklim

Peningkatan kapasitas panas bumi menjadi aset karbon yang diperdagangkan saat bursa mencari pasokan

Oleh Sirkularium Editorial Team, 9 menit baca

Menara pendingin dan perpipaan uap di pembangkit listrik tenaga panas bumi di perbukitan Jawa Barat dengan hutan lebat mengelilingi instalasinya

PLN Indonesia Power menandatangani amendemen kedua perjanjian jual beli pengurangan emisi bersama South Pole AG yang mencakup peningkatan kapasitas PLTP Gunung Salak berkapasitas 180 megawatt, yang dirampungkan pada konvensi energi terbarukan di Jakarta. Ia menambah pasokan bagi bursa karbon nasional yang memuat 3,1 juta ton unit terdaftar, tempat kredit energi terbarukan diperdagangkan sekitar Rp144.000 per ton.

Sekilas data
180 MW
Kapasitas terpasang Gunung Salak, tiga unit 60 megawatt
3,1 juta t
Setara karbon dioksida yang terdaftar di bursa
Rp144.000
Perkiraan harga per ton bagi kredit energi terbarukan
47
Proyek terdaftar, mencakup 4,6 juta ton per tahun

PT PLN Indonesia Power menandatangani amendemen kedua perjanjian jual beli pengurangan emisi bersama South Pole AG, yang mencakup peningkatan kapasitas Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi Gunung Salak. Penandatanganannya berlangsung pada 2 September 2026 di konvensi IndoEBTKE ConEx di JIEXPO Kemayoran, Jakarta.

PLN Indonesia Power diwakili Julita Indah, Direktur Pengembangan Bisnis dan Niaga. South Pole AG diwakili Fadri Mokolintad, spesialis pengembangan bisnis teknologi berkelanjutan untuk Asia Tenggara. Gunung Salak, di Bogor, mengoperasikan tiga unit berkapasitas 60 megawatt dengan total 180 megawatt.

Mekanismenya sederhana pada asasnya. Menaikkan keluaran di pembangkit panas bumi yang sudah ada menggantikan pembangkitan yang jika tidak akan menghasilkan emisi. Kuantitas yang dihindarkan itu, setelah diverifikasi, menjadi aset karbon yang dapat dijual.

Yang membuatnya patut dicatat adalah pekerjaan yang mendasarinya berupa peningkatan kapasitas, bukan pembangkit baru. Lapangannya sudah berproduksi, sambungannya sudah ada, dan keluaran tambahannya berasal dari memperoleh lebih banyak dari yang sudah terpasang. Panas bumi Indonesia belakangan menyaksikan beberapa kesepakatan berbentuk serupa, termasuk unit bottoming di Ulubelu dan Lahendong yang menarik daya dari brine yang memang sudah dipompa. Pendapatan karbon melekat sangat baik pada kategori proyek tersebut, karena garis dasar emisinya sudah mapan dan keluaran tambahannya mudah diukur terhadapnya.

Posisinya dalam pasar yang masih mencari pasokan

Perjanjian ini terbaca berbeda bila ditempatkan terhadap keadaan bursa karbon Indonesia.

Hingga pertengahan 2026 bursa tersebut memuat sekitar 3,1 juta ton setara karbon dioksida dalam unit terdaftar, yang sebagian besar berasal dari proyek berbasis teknologi ketimbang berbasis alam. Proyek terdaftar berjumlah 47, mencakup kurang lebih 4,6 juta ton emisi tahunan. Ary Sudijanto, Deputi Bidang Pengendalian Perubahan Iklim dan Pengelolaan Nilai Ekonomi Karbon, menggambarkan volume perdagangannya masih rendah meskipun infrastruktur dan regulasinya sudah memadai.

Terhadap itu, satu proyek panas bumi tambahan yang masuk pipeline bukanlah tambahan yang dapat diabaikan. Daftar proyek terdaftarnya sudah condong ke sektor energi, termasuk Lahendong unit 5 dan 6 yang dioperasikan Pertamina Geothermal Energy serta PLTM Gunung Wugul yang dioperasikan PLN Indonesia Power sendiri. Gunung Salak melanjutkan pola yang sudah mapan ketimbang membuka jalan baru, dan itu justru yang dibutuhkan pasar yang masih tipis.

Bursa dengan 47 proyek di dalamnya tidak memiliki persoalan permintaan yang dapat diselesaikan dengan menunggu. Setiap proyek terverifikasi yang bertambah merupakan porsi lebih besar dari pasar yang masih sedang dirakit.

Bernadus Sudarmanta, Direktur Utama PLN Indonesia Power, menempatkan pekerjaan ini sebagai pengembangan energi terbarukan yang tidak hanya berbicara tentang penyediaan energi lebih bersih, dengan pengurangan emisi dikelola sebagai nilai tambah berkelanjutan. Yuliot Tanjung, Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, mengaitkan percepatan transisi energi dengan ketahanan energi di tengah kondisi geopolitik global.

Jarak harga antara efisiensi dan energi terbarukan

Angka yang paling layak direnungkan bukanlah volumenya. Melainkan berapa nilai dari jenis pengurangan yang berbeda.

Proyek efisiensi energi diperdagangkan sekitar Rp58.000 per ton setara karbon dioksida. Proyek energi terbarukan diperdagangkan sekitar Rp144.000. Satu ton yang dihindarkan dengan membangkitkan secara bersih karena itu bernilai kurang lebih dua setengah kali satu ton yang dihindarkan dengan mengonsumsi lebih sedikit.

Tidak ada dasar fisik bagi perbedaan tersebut. Satu ton yang tidak diemisikan tetap satu ton yang tidak diemisikan, apa pun rute yang menghasilkan penghematannya. Jaraknya mencerminkan cara pasar menilai jenis proyek, dan ia membawa konsekuensi, yakni menarik modal menuju proyek pembangkitan dan menjauh dari proyek efisiensi, padahal efisiensi kerap merupakan cara yang lebih murah untuk menghindarkan satu ton sejak awal.

Sudijanto menyatakan kedua harga itu belum mencerminkan biaya yang sesungguhnya dibutuhkan untuk menggenjot dekarbonisasi. Itu penilaian yang terus terang, dan ia menunjuk kendala yang sebenarnya. Pengembang proyek yang memutuskan apakah akan menempuh verifikasi akan menimbang biaya administrasi pendaftaran terhadap harga yang diperoleh kreditnya. Pada Rp58.000 per ton, sangat banyak proyek efisiensi tidak akan melewati ambang tersebut.

Apa yang bisa diisi pipeline-nya

Pemerintah telah mengidentifikasi dari mana volume yang lebih besar mungkin datang. Penangkapan dan penyimpanan karbon ditempatkan pada kisaran 4 juta ton per tahun. Penerapan biodiesel B50 diperkirakan 44 sampai 47 juta ton per tahun. Perluasan surya membawa potensi pengurangan 140 juta ton.

Angka angka itu jauh melampaui 3,1 juta ton yang kini terdaftar. Jarak antara potensi dan pasokan terdaftar bukan soal apakah pengurangannya terjadi. B50 sudah disalurkan secara nasional dan program suryanya sedang dibangun. Jaraknya soal apakah pengurangan tersebut diukur, diverifikasi dan didaftarkan dalam bentuk yang dapat diperdagangkan bursa.

Pemerintah juga menempuh jalur lain untuk menebalkan pasar, yakni penerapan perdagangan karbon melalui pasar sukarela serta mekanisme Pasal 6 Perjanjian Paris yang ditujukan menaikkan permintaan domestik sekaligus harganya. Keduanya bekerja pada sisi permintaan, sementara pendaftaran proyek bekerja pada sisi pasokan, dan sebuah bursa membutuhkan keduanya bergerak bersama agar harganya berarti.

Pandangan Sirkularium bagi pemerintah dan institusi publik

Tiga pengamatan mengikuti.

Yang pertama menyangkut mengoreksi diskon efisiensi. Bila kredit efisiensi bernilai kurang dari separuh yang diperoleh kredit terbarukan, pasar sedang mengarahkan investasi menjauh dari abatemen termurah yang tersedia. Institusi publik dapat menjawabnya melalui preferensi pengadaan, melalui metodologi yang mengurangi beban verifikasi pada proyek efisiensi, atau dengan membeli kredit efisiensi secara langsung. Membiarkan selisihnya tanpa ditelaah berarti penghematan subsidi dan emisi yang tersedia dari efisiensi industri tetap tidak terwujud sementara modal memusat pada pembangkitan.

Yang kedua menyangkut pendaftaran sebagai langkah yang mengikat. Volume potensial pada biodiesel dan surya sudah ada sebagai aktivitas fisik. Yang belum ada adalah rantai pengukuran dan verifikasi yang mengubah pengurangan emisi menjadi unit yang dapat diperdagangkan. Rantai itu merupakan infrastruktur administratif, dan membangunnya jauh lebih murah daripada membangun proyeknya sendiri. Lembaga yang mampu membakukan pemantauan dan pelaporan bagi program yang sudah berjalan akan memperbesar pasokan bursa tanpa perlu abatemen baru apa pun.

Yang ketiga menyangkut badan usaha milik negara sebagai pasokan jangkar. PLN Indonesia Power dan Pertamina Geothermal Energy termasuk sedikit entitas yang memiliki skala, proyek terverifikasi dan kapasitas teknis untuk mendaftar secara konsisten. Pipeline mereka sesungguhnya merupakan lantai pasar. Memperlakukan pengembangan aset karbon sebagai bagian baku dari setiap proyek pembangkitan milik negara, alih alih sebagai inisiatif yang ditempuh kasus per kasus, akan memberi bursa kedalaman yang kini belum dimilikinya.

Yang perlu diamati berikutnya adalah apakah unit Gunung Salak merampungkan verifikasi dan penerbitannya, apakah jarak harga efisiensi dan terbarukan menyempit, serta apakah program B50 dan surya dibawa ke dalam metodologi terdaftar mendekati potensi yang dinyatakannya.

BagikanLinkedInWhatsAppFacebookEmail
Sirkularium

Sirkularium adalah lembaga thought-leadership dan advisory yang mempercepat transisi sirkular di sampah, air, dan energi, bekerja bersama pemerintah dan institusi publik.

Di energi dan iklim, Sirkularium mendukung penyusunan data dasar emisi, perencanaan energi terbarukan dan penyimpanan, serta kerangka karbon dan kebijakan yang kuat di lapangan.

Artikel terkait

Hamparan tanaman singkong dan sorgum di perkebunan luas di Kalimantan, dengan ahli agronomi mengambil sampel tanah di latar depan dan pabrik pengolahan di kejauhan
Energi & Iklim

BUMN perkebunan Agrinas Palma Nusantara menyampaikan pada 8 Oktober bahwa pihaknya telah memetakan satu juta hektare lahan khusus untuk jagung, sorgum, dan singkong sebagai bahan baku bioetanol, dengan potensi produksi sekitar 5 juta kiloliter per tahun untuk mendukung campuran 20 persen etanol dalam bensin. Rencana ini menggeser pembahasan E20 dari target pencampuran ke kebun, pabrik, dan perizinan yang akan memasoknya.

Oleh Sirkularium Editorial Team, 8 menit baca

Kontainer berisi sel baterai litium ion dimuat ke kapal kargo di pelabuhan kawasan industri Weda Bay, Halmahera Tengah, dengan bangunan industri dan perbukitan hijau di latar belakang
Energi & Iklim

Presiden Prabowo Subianto meluncurkan ekspor perdana baterai kendaraan listrik Indonesia dan 11 proyek hilirisasi senilai US$10,2 miliar di Indonesia Weda Bay Industrial Park. Babak berikutnya bagi kawasan ini adalah memenuhi kebutuhan listrik 7,1 GW dengan lebih banyak tenaga surya dan angin.

Oleh Sirkularium Editorial Team, 8 menit baca

Panel surya atap di sebuah pabrik pulp dan kertas besar di Indonesia, dengan bangunan pengolahan pabrik di latar belakang
Energi & Iklim

Grup pulp dan kertas ini berkomitmen menggunakan 100 persen listrik terbarukan di seluruh operasinya paling lambat pada 2050, berangkat dari bauran energi 2025 di mana sumber terbarukan, terutama black liquor dari pabriknya sendiri, sudah memasok 57,3 persen total penggunaan energi.

Oleh Sirkularium Editorial Team, 8 menit baca

Reaktor dan jaringan pipa pabrik amonia di kompleks Pupuk Kaltim, Bontang, Kalimantan Timur, pada siang hari
Energi & Iklim

Deklarasi bersama dengan pemegang lisensi teknologi asal Swiss, Casale, pada 6 Oktober menegaskan bahwa Ammonia Pabrik-2 di Bontang hasil revamping menurunkan konsumsi energi dari 39,28 menjadi 35,25 MMBTU per ton sekaligus menaikkan produksi 4,18 persen, menghemat sekitar Rp228 miliar dan 110.000 ton CO2 per tahun.

Oleh Sirkularium Editorial Team, 8 menit baca

Unit pemurnian biogas dan kolam limbah tertutup di samping pabrik kelapa sawit di Sumatera Selatan, dengan jaringan pipa gas menuju stasiun meter
Energi & Iklim

PGN memastikan akan membeli dan menyalurkan biometana dari fasilitas baru di Sumatera Selatan yang dikembangkan perusahaan patungan KIS Biofuels dan Toyota Tsusho. Peletakan batu pertama dilakukan pada 5 Oktober, dengan target sekitar 150.000 MMBtu per tahun untuk Toyota Motor Manufacturing Indonesia dan industri lain mulai 2027.

Oleh Sirkularium Editorial Team, 8 menit baca

Deretan panel surya terapung di permukaan waduk yang tenang di Indonesia dengan dinding bendungan dan perbukitan hijau di latar belakang
Energi & Iklim

Pada 5 Oktober, Masyarakat Energi Terbarukan Indonesia (METI) menemui Wakil Ketua MPR Eddy Soeparno dengan 22 rekomendasi untuk RUU EBET dan usulan memanfaatkan 263 bendungan milik negara, dengan potensi PLTS terapung dan PLTA sekitar 23,9 GW, untuk mempercepat program PLTS 100 GWp.

Oleh Sirkularium Editorial Team, 8 menit baca