Jakarta prioritaskan Bogor untuk hibah truk sampah compactor dan mobil pemadam bekas, wujud berbagi armada dalam kawasan aglomerasi
Oleh Sirkularium Editorial Team, 8 menit baca

Pada 29 September 2026 Gubernur Pramono Anung menyatakan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta akan memprioritaskan permohonan Kota Bogor atas truk sampah compactor dan mobil pemadam kebakaran bekas yang masih layak, serta menawarkan ambulans dan bus sekolah. Permohonan yang diajukan sejak pertengahan tahun itu kini berlanjut ke pengajuan tertulis resmi.
Permohonan yang dijawab di peringatan Hari Perhubungan
Pada Selasa, 29 September 2026, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memperingati Hari Perhubungan Nasional dengan upacara tingkat provinsi di Kelapa Gading, Jakarta Utara. Di antara yang hadir adalah Wali Kota Bogor, Dedie A. Rachim, dan wakilnya, Jenal Mutaqin. Kesempatan itu memberi kedua pemerintah daerah ruang untuk menuntaskan urusan yang sudah terbuka sejak pertengahan tahun.
Gubernur Pramono Anung Wibowo menegaskan bahwa Jakarta akan memprioritaskan permohonan hibah kendaraan dari Pemerintah Kota Bogor. Permohonan itu mencakup truk sampah compactor dan mobil pemadam kebakaran bekas yang masih layak pakai. Gubernur bahkan melangkah lebih jauh dari permintaan awal, dengan menawarkan ambulans dan bus sekolah bila Bogor membutuhkannya.
"Kami akan prioritaskan untuk Bogor. Termasuk ambulans kalau memang masih mau. Termasuk bus sekolah." Pramono Anung Wibowo, Gubernur DKI Jakarta
Satu-satunya syarat dari gubernur bersifat prosedural. Ia meminta Bogor mengajukan permohonan secara tertulis agar pemerintah provinsi dapat memprosesnya secara resmi, dan meminta jajaran Pemkot Bogor segera melengkapi dokumennya agar proses hibah dapat dipercepat.
Asal mula permohonan
Bogor pertama kali mengajukan permohonan ini sebelumnya pada tahun yang sama. Ketika kabarnya mengemuka pada Agustus 2026, Wakil Wali Kota Jenal Mutaqin menyebut permohonan itu telah diajukan sekitar tiga pekan sebelumnya, dan Wali Kota Dedie menggambarkannya sebagai langkah wajar antara dua pemerintah daerah bertetangga dalam satu kawasan aglomerasi. Bogor berada di hulu Jakarta, baik secara geografis maupun dalam arus harian komuter, air, dan barang yang mengikat kawasan metropolitan ini.
Pemkot Bogor tidak menyebut jumlah kendaraan. Wali kota mengatakan jumlahnya bergantung pada kemampuan Jakarta, dan yang diminta adalah unit bekas dalam kondisi layak, bukan unit baru. Ia terbuka tentang alasannya. Anggaran Jakarta jauh lebih besar, dan membeli kendaraan berat baru belum memungkinkan dalam ruang fiskal Bogor saat ini. Hibah unit bekas yang terawat memungkinkan kota memperkuat layanan sekarang, sementara rencana pengadaannya sendiri terus berjalan.
Untuk pemadam kebakaran, Jawa Pos melaporkan bahwa prioritasnya adalah mobil damkar bertangga, sejalan dengan pertumbuhan gedung bertingkat dan kawasan industri di kota tersebut. Untuk persampahan, kebutuhannya adalah truk compactor, yaitu truk berbak tertutup dengan mekanisme pemadat hidrolik di bagian belakang yang mampu membawa lebih banyak sampah per perjalanan dan menjaganya tetap tertutup di jalan.
Armada yang sedang diperbarui
Pengangkutan sampah di Bogor bertumpu pada dua jenis kendaraan utama, yaitu dump truck dan truk kontainer, dan armadanya tengah menjalani program perbaikan bertahap. Pada pertengahan 2024 pemerintah kota melaporkan bahwa 20 hingga 30 kendaraan memerlukan perbaikan dan bahwa anggaran pengadaan kendaraan baru tengah disiapkan, disertai permohonan dukungan dari pemerintah pusat. Wakil Wali Kota Jenal Mutaqin menyampaikan tahun ini bahwa beberapa truk mengalami kerusakan di bagian belakang, dan unit dalam kondisi buruk ditarik dari operasi selama perbaikan berlangsung.
DLH Kota Bogor menerapkan aturan itu dalam praktik. Ketika sebuah kontainer yang rusak menarik perhatian publik pada September, Kepala DLH Rudy Mashudi memastikan kontainer tersebut telah ditarik untuk diperbaiki pada hari Sabtu, dan truknya tetap bekerja dengan kontainer pengganti. Peristiwa ini menunjukkan kota yang aktif mengelola armadanya, mengistirahatkan unit yang tidak aman digunakan dan menjaga layanan tetap berjalan dengan unit yang layak.
Armada ini juga menunjukkan ketangguhannya bulan ini. Setelah kebakaran di TPAS Galuga pada awal September, 128 truk Kota Bogor kembali membuang sampah ke lokasi itu pada 9 September dengan jadwal bergilir, hanya satu hari setelah penutupan. Tambahan unit compactor dari Jakarta akan menambah kapasitas dan fleksibilitas operasi tersebut, sekaligus mengurangi beban kendaraan lama selama pengadaan unit pengganti berjalan.
Pilihan truk compactor itu sendiri penting. Dump truck terbuka dan unit kontainer lama membawa sampah dalam keadaan lepas, sehingga muatan per perjalanan terbatas dan sampah terpapar hujan. Bak compactor yang tertutup memadatkan muatan, sehingga setiap kendaraan membawa lebih banyak dan lebih jarang bolak-balik ke tempat pembuangan, menghemat bahan bakar dan waktu kru. Bak tertutup juga menahan air lindi di dalam, bukan membiarkannya menetes ke jalan, yang penting bagi kesehatan publik dan bagi persepsi warga terhadap layanan. Bagi kota yang truknya menempuh rute panjang ke Galuga di Kabupaten Bogor, perjalanan yang lebih sedikit dan lebih bersih per ton adalah keuntungan operasional yang langsung terasa.
Mengapa ini penting bagi ekonomi sirkular
Hibah kendaraan antarpemerintah jarang dibicarakan sebagai kebijakan ekonomi sirkular, padahal dalam praktiknya ini contoh yang jelas. Truk compactor yang telah mencapai akhir masa layanan terencana di salah satu armada pemerintah daerah dengan pendanaan terbaik di Indonesia masih bisa bekerja bertahun-tahun di kota yang lebih kecil. Memindahkannya menjaga aset bernilai tetap produktif, menunda emisi dan kebutuhan material untuk memproduksi unit pengganti, serta menghemat uang publik di kedua sisi. Jakarta terhindar dari biaya dan upaya penghapusan kendaraan. Bogor mendapat tambahan kapasitas dengan biaya yang jauh lebih rendah dibandingkan membeli unit baru.
Pemindahan ini juga sejalan dengan arah kerja sama kawasan. Kerangka tata kelola Jakarta sebagai daerah khusus kini memberi penekanan kuat pada kawasan aglomerasi bersama kota dan kabupaten di sekitarnya, dan persampahan adalah salah satu layanan tempat kerja sama itu paling bernilai secara praktis. Sampah di Jabodetabek tidak mengenal batas administrasi. Sungai membawanya ke hilir, dan kapasitas tempat pembuangan akhir di satu wilayah memengaruhi pilihan wilayah lain.
Bagi Bogor, pengangkutan yang lebih baik juga menjadi prasyarat bagi investasi yang sedang berjalan. Di hulu, kota membuka waste station di Balai Kota pada 26 September, tempat warga dapat menukar sampah anorganik terpilah dengan imbalan digital. Di hilir, fasilitas pengolahan sampah menjadi energi Bogor Raya di Galuga telah memulai pembangunannya pada pertengahan September. Di antara kedua titik itu ada armada pengangkut. Kota yang oleh pemerintahnya pada 2024 disebut menghasilkan sekitar 700 ton sampah per hari, dengan sekitar 18 persen dikurangi melalui 32 TPS3R dan 300 bank sampah, membutuhkan truk yang andal untuk mengangkut sisanya, dan di masa depan untuk mengangkut jenis sampah terpilah secara terpisah.
Pandangan Sirkularium
Keputusan Jakarta memprioritaskan Bogor adalah langkah administratif kecil dengan prinsip yang berguna di baliknya: aset publik sebaiknya dimanfaatkan sepanjang umur kerjanya, dan kawasan aglomerasi sebaiknya berbagi kapasitas ketika satu anggota memiliki lebih dari yang dibutuhkan dan yang lain kekurangan.
Sirkularium melihat tiga cara untuk memaksimalkannya. Pertama, hibah sebaiknya disesuaikan dengan desain layanan Bogor. Truk compactor yang cocok untuk jalan permukiman yang sempit, serta unit yang dapat diatur untuk mengangkut sampah organik dan anorganik terpilah secara terpisah, akan memberi nilai lebih besar daripada sekadar jumlah kendaraan. Kedua, pemeriksaan teknis dan rencana perawatan singkat untuk setiap unit yang dipindahkan, yang disepakati kedua dinas lingkungan hidup, akan memberi keyakinan bagi kedua pihak bahwa kendaraan dapat melayani dengan aman selama periode tertentu. Ketiga, pengaturan ini dapat menjadi mekanisme tetap, bukan sekali jalan. Daftar sederhana tingkat aglomerasi berisi kendaraan milik pemerintah daerah yang mendekati masa penggantian, terbuka bagi pemerintah tetangga, akan memungkinkan Depok, Tangerang, Bekasi, dan Kabupaten Bogor merencanakan pemanfaatan peluang yang sama.
Bagi pembuat kebijakan nasional, kasus ini mengingatkan bahwa kapasitas armada adalah kendala yang kerap terlewat dalam kinerja pengelolaan sampah daerah. Target nasional untuk mengelola seluruh sampah pada 2029 tidak hanya bergantung pada fasilitas pengolahan dan pemilahan dari sumber, tetapi juga pada truk yang menghubungkan keduanya. Pedoman tentang pemindahan kendaraan layak pakai antardaerah, termasuk cara mencatat aset dan memenuhi standar keselamatan, akan membuat kerja sama seperti ini lebih mudah diulang.
Hal yang perlu dicermati selanjutnya adalah pengajuan tertulis dari Bogor serta jumlah dan jenis unit yang dilepas Jakarta. Serah terima sebelum musim hujan, ketika tekanan pengangkutan dan risiko banjir sama-sama meningkat, akan menempatkan kapasitas baru itu tepat pada saat paling dibutuhkan.
Sumber
- ANTARA News, Pemprov DKI memprioritaskan hibah truk damkar dan truk sampah ke Bogor
- Jawa Pos, Pramono merestui permohonan hibah armada damkar bertangga untuk Kota Bogor
- Kompas Megapolitan, Pemkot Bogor mengajukan hibah truk sampah dan mobil damkar bekas pada Agustus
- Detik, DLH Kota Bogor menarik kontainer sampah yang rusak untuk diperbaiki
- Pemerintah Kota Bogor, perbaikan armada pengangkut sampah secara bertahap dan solusi jangka panjang
- ANTARA News, 128 truk sampah Kota Bogor kembali masuk TPAS Galuga pada September






