Lompat ke konten
Sirkularium
Kembali ke Insight
Limbah & Polusi

Bank Indonesia menempatkan usaha kecil di jantung rantai nilai sampah

Oleh Sirkularium Editorial Team, 8 menit baca

Diskusi panel tentang pengelolaan sampah dan ekonomi sirkular di pusat konvensi Jakarta, dengan stan pameran usaha kecil yang memajang produk dari material hasil pemulihan di latar belakang

Pada sesi Sustainable Talk dalam Karya Kreatif Indonesia 2026 di Jakarta pada 23 Agustus, Bank Indonesia dan Pemerintah Provinsi Jakarta memaparkan alasan memperlakukan usaha mikro dan kecil sebagai mata rantai yang bekerja dalam ekonomi sirkular, bukan sekadar penonton, dengan latar angka nasional 24,8 juta ton sampah yang tercatat pada 2025.

Sekilas data
24,8 juta
Ton sampah yang tercatat secara nasional pada 2025 dari 244 kabupaten dan kota
65%
Bagian dari sampah tersebut yang belum terkelola dengan baik
1.950
Pendaftar kompetisi inovasi PERWIRA INTAN 2026
550
Usaha kecil yang berpameran di KKI 2026, ditambah 1.300 lainnya secara daring

Sesi sampah di dalam pameran usaha kecil

Pada 23 Agustus 2026, di Jakarta International Convention Center, sesi Sustainable Talk tentang pengelolaan sampah dan nilai tambah menutup rangkaian Karya Kreatif Indonesia 2026. Acara empat hari tersebut, berlangsung 20 sampai 23 Agustus di Hall A dan B, mempertemukan 550 usaha kecil yang berpameran secara langsung dan 1.300 lainnya yang mengikuti secara daring, dengan keterlibatan 27 kementerian dan lembaga serta 34 mitra strategis.

Sesi ini dibuka oleh Ricky Perdana Gozali, Deputi Gubernur Bank Indonesia, dan oleh Uus Kuswanto, Sekretaris Daerah Provinsi Jakarta, yang mewakili gubernur. Para pembicaranya adalah Kurniawan Agung dari Departemen Ekonomi Keuangan Inklusif dan Hijau Bank Indonesia, Dudi Gardesi Asikin dari Dinas Lingkungan Hidup Jakarta, dan M. Bijaksana Junerosano dari Waste4Change.

Latar acaranya adalah hal yang layak diperhatikan. Ini bukan konferensi lingkungan yang menambahkan panel usaha kecil. Ini pameran usaha kecil, yang diselenggarakan bank sentral, yang menempatkan pengelolaan sampah pada program utamanya. Pembingkaian tersebut memperlakukan pemulihan material sebagai persoalan kewirausahaan, bukan semata persoalan kebersihan.

Inti pesan Gozali pada sesi tersebut dapat dirangkum begini.

Bergerak dari persoalan sampah, menuju pengelolaan sampah, hingga menjadikan sampah bernilai tambah.

Angka nasional di balik sesi ini

Bank Indonesia memaparkan posisi nasional yang ditarik dari sistem informasi pengelolaan sampah nasional. Pada 2025, 244 kabupaten dan kota mencatat 24,8 juta ton sampah. Sekitar 65 persen dari total tersebut belum terkelola dengan baik.

Dibaca sebagai statistik kebersihan, angka itu menggambarkan kesenjangan layanan. Dibaca sebagai statistik kewirausahaan, angka itu menggambarkan material tanpa harga yang berada di luar rantai nilai mana pun. Kedua pembacaan itu benar, dan pembacaan kedualah yang hendak dimajukan sesi ini. Material yang dikumpulkan, dipilah dan dispesifikasikan menjadi bahan baku. Material yang tidak demikian tetap menjadi biaya pembuangan.

Perbedaan itulah tempat usaha kecil memiliki keunggulan struktural yang nyata. Pengumpulan, pemilahan, pembersihan dan manufaktur ulang ringan bersifat padat karya, tersebar secara geografis dan sulit dipusatkan. Kegiatan itu kurang cocok bagi satu fasilitas besar dan sangat cocok bagi banyak pelaku kecil yang bekerja dekat dengan tempat material dihasilkan. Kendala bagi para pelaku itu jarang berupa kemauan. Kendalanya adalah akses pada teknologi, pada pasar dan pada dukungan teknis, dan justru itulah rangkaian celah yang dapat dijawab program bank sentral.

Apa yang dikomitmenkan Bank Indonesia

Tiga komitmen keluar dari sesi ini, dan masing-masing cukup konkret untuk diikuti.

Pertama, penerbitan pedoman model bisnis usaha kecil berkelanjutan, yang memberi pelaku usaha sebuah acuan terdokumentasi alih-alih mengharuskan masing-masing merancang bisnis sirkular dari nol.

Kedua, PERWIRA INTAN 2026, kompetisi kewirausahaan inklusif dan berkelanjutan. Kompetisi ini menarik 1.950 pendaftar dari kalangan wirausaha, akademisi dan masyarakat umum. Dari jumlah itu, 200 proposal dipilih untuk pelatihan dan pendampingan. Lima inovasi terbaik kemudian memperoleh fasilitasi business matching, kemitraan dengan Bank Indonesia dan kunjungan studi ke pelaku pertanian mapan.

Corong seleksi itu layak dibaca cermat. Kompetisi yang berakhir pada acara penganugerahan tidak mengubah banyak hal. Kompetisi ini menyempit secara sengaja menuju business matching, yaitu tahap ketika sebuah inovasi bertemu pembeli. Dua ratus peserta yang menerima pelatihan sama pentingnya dengan lima finalis, karena di lapisan itulah kapabilitas benar-benar dibangun.

Ketiga, komitmen ke dalam. Bank Indonesia menerapkan praktik sirkular pada operasinya sendiri, mengubah sisa kertas dari pengolahan uang menjadi suvenir dan menjadi pembenah tanah biochar, dengan menggandeng usaha kecil untuk mengerjakannya. Lembaga yang telah menjalankan konversi itu di dalam gedungnya sendiri dapat menjelaskan prosesnya secara kredibel kepada pihak lain.

Bagian Jakarta dalam gambaran ini

Dudi Gardesi Asikin membawa lapisan operasional dari sisi kota. Pendekatan Jakarta bertumpu pada Instruksi Gubernur Nomor 5 Tahun 2026, yang mewajibkan rumah tangga memilah sampah dari sumber ke dalam empat arus: organik, anorganik, bahan berbahaya dan beracun, serta residu.

Pembagian empat arus itu penting bagi argumen kewirausahaan. Pemilahan dua arah organik dan anorganik menghasilkan campuran material daur ulang yang masih memerlukan pemilahan lanjutan sebelum ada yang mau membelinya. Memisahkan bahan berbahaya sebagai arus tersendiri menaikkan kualitas sekaligus keamanan sisanya, dan itulah yang membuat fraksi anorganik layak dikumpulkan secara komersial. Dengan kata lain, instruksi Jakarta bukan sekadar aturan kebersihan. Instruksi itu adalah spesifikasi mutu bahan baku.

Memadukannya dengan kerja pembiayaan dan akses pasar bank sentral adalah kombinasi yang berguna. Aturan kota memperbaiki materialnya. Program pembiayaan membangun pelaku yang dapat memanfaatkannya. Tidak satu pun dari keduanya mencapai banyak hal bila berdiri sendiri.

Pandangan Sirkularium bagi pemerintah dan institusi publik

Tiga catatan bagi para pengambil kebijakan.

Pertama, soal di mana kebijakan ekonomi sirkular ditempatkan. Menempatkan sampah dalam program acara usaha kecil bank sentral, yang dibuka seorang deputi gubernur dan seorang sekretaris daerah, menandakan hal ini diperlakukan sebagai kebijakan ekonomi dan bukan semata kebijakan lingkungan. Itu berpengaruh pada pos anggaran dan pada instansi mana yang merasa memiliki. Pemerintah provinsi dan kabupaten sebaiknya menimbang apakah kerja ekonomi sirkular mereka hanya berada di dinas lingkungan hidup, dan apakah dinas ekonomi serta koperasi sudah berada di ruangan yang sama.

Kedua, soal bentuk dukungan. Struktur PERWIRA INTAN, dengan 1.950 pendaftar menyempit menjadi 200 penerima pendampingan dan 5 yang mencapai business matching, adalah acuan yang wajar untuk direplikasi di daerah. Unsur pentingnya adalah dukungan yang tidak berhenti pada penghargaan. Pemerintah daerah yang menyelenggarakan kompetisi serupa sebaiknya membangun tahap pertemuan dengan pembeli sejak awal, dan menerbitkan apa yang sebenarnya dijual lima usaha terpilih itu dan kepada siapa.

Ketiga, soal data. Angka 24,8 juta ton berasal dari 244 kabupaten dan kota. Indonesia memiliki jauh lebih banyak daripada itu, sehingga gambaran nasionalnya dirakit dari pelaporan yang belum menyeluruh. Itu bukan kritik terhadap sistemnya, yang terus membaik, tetapi berarti porsi 65 persen yang belum terkelola sebaiknya dibaca sebagai perkiraan terbaik yang tersedia, bukan sebagai sensus. Daerah yang belum melapor ke sistem nasional akan memperkuat perencanaan nasional sekaligus kelayakan investasinya sendiri dengan mulai melapor, karena investor yang menghitung fasilitas pemulihan material membutuhkan angka volume yang dapat dipertanggungjawabkan.

Yang perlu dipantau berikutnya: terbitnya pedoman model bisnis berkelanjutan, identitas lima inovasi PERWIRA INTAN yang mencapai business matching beserta pembeli yang dipertemukan dengan mereka, serta apakah pemilahan empat arus di Jakarta menghasilkan perbaikan terukur pada mutu material yang sampai ke bank sampah dan pendaur ulang.

Gagasan berguna dari sesi ini cukup sederhana untuk dibawa ke pembahasan anggaran. Sampah yang dipilah dengan benar adalah persediaan. Sirkularium akan terus mengikuti bagaimana gagasan itu dibiayai.

Corong seleksi PERWIRA INTAN 2026

Values in pendaftar

BagikanLinkedInWhatsAppFacebookEmail
Sirkularium

Sirkularium adalah lembaga thought-leadership dan advisory yang mempercepat transisi sirkular di sampah, air, dan energi, bekerja bersama pemerintah dan institusi publik.

Di limbah dan polusi, Sirkularium membantu merancang sistem pengumpulan, pemilahan, dan pemulihan, menyusun kebijakan dan peta jalan, serta mengubah sampah menjadi sumber daya yang terkelola.

Artikel terkait

Para bankir dan pejabat pembiayaan proyek di sekitar meja meninjau tata letak fasilitas pengolahan sampah menjadi energi, dengan fasilitas PSEL modern yang sedang dibangun tampak di layar di belakang mereka
Limbah & Polusi

Pada 16 Oktober 2026, Danantara Investment Management dan anak usahanya di bidang pengolahan sampah menjadi energi, Denera, menetapkan 34 institusi keuangan sebagai anggota lenders panel program PSEL Indonesia, dengan minat pembiayaan indikatif lebih dari tiga kali estimasi kebutuhan utang program.

Oleh Sirkularium Editorial Team, 8 menit baca

Nelayan di sebuah pelabuhan perikanan Indonesia memilah dan mengikat jaring insang nilon serta tali yang sudah usang di dermaga untuk dikumpulkan dan didaur ulang, dengan kapal ikan bersandar di belakangnya
Limbah & Polusi

Kementerian Kelautan dan Perikanan menerbitkan Keputusan Direktur Jenderal Perikanan Tangkap Nomor 23 Tahun 2026, pedoman nasional pengelolaan alat penangkapan ikan yang ditinggalkan, hilang, dibuang, maupun yang sudah habis masa pakainya dengan prinsip 3R. Uji coba dimulai di tiga pelabuhan perikanan, didukung mitra lapangan di Merauke, Muncar, Pengambengan dan Gresik.

Oleh Sirkularium Editorial Team, 8 menit baca

Foto udara kawasan TPST Bantargebang dengan lahan yang telah dibersihkan dan diratakan untuk fasilitas pengolahan sampah menjadi energi listrik di samping zona timbunan sampah yang ada
Limbah & Polusi

Gubernur Pramono Anung menyampaikan pada 7 Oktober bahwa persoalan penyediaan lahan yang selama ini menahan fasilitas pengolahan sampah menjadi energi listrik Jakarta di Bantargebang telah menemukan jalan keluar, dan kota berharap masuk batch ketiga program nasional agar pembangunan dapat dimulai sebelum akhir 2026.

Oleh Sirkularium Editorial Team, 8 menit baca

Mahasiswa berjaket almamater membantu warga memilah sampah rumah tangga organik dan anorganik ke dalam tempat sampah berlabel di sebuah permukiman di Bandung
Limbah & Polusi

Pemerintah Provinsi Jawa Barat menerjunkan 25.000 mahasiswa ke 52 kecamatan di Bandung Raya selama tiga bulan, dengan pengakuan setara 10 SKS, untuk membantu rumah tangga memilah dan mengurangi sampah dari sumber. Targetnya pengurangan 20 persen yang memperpanjang usia TPA Sarimukti hingga fasilitas Legok Nangka beroperasi.

Oleh Sirkularium Editorial Team, 8 menit baca

Pejabat Pemerintah Kota Kendari di TPAS Puuwatu, Sulawesi Tenggara, di samping lahan yang direncanakan untuk fasilitas pengolahan sampah terpadu, dengan alat berat memadatkan sampah di sel yang ada
Limbah & Polusi

Kendari menjadi satu dari empat penerima di Sulawesi dalam Local Service Delivery Improvement Project yang didukung Bank Dunia, pada penyerahan di Makassar tanggal 6 Oktober. Kota ini berencana mengarahkan program senilai Rp107 miliar tersebut untuk fasilitas pengolahan sampah di TPAS Puuwatu dan sistem layanan yang berjalan dari pemilahan di rumah tangga hingga pemrosesan akhir.

Oleh Sirkularium Editorial Team, 8 menit baca

Petugas dan ekskavator mengangkat kayu, bambu, dan sampah plastik yang hanyut dari saringan sampah di Sungai Ciliwung, Jakarta Selatan, dengan tumpukan material organik hasil pilahan di tepi sungai
Limbah & Polusi

Gubernur Pramono Anung menyampaikan pada 5 Oktober bahwa Jakarta akan mereplikasi saringan sampah terpadu TB Simatupang, yang menangkap hampir 30 persen sampah yang terbawa Sungai Ciliwung dan mengolah sebagian besarnya menjadi kompos dan woodchip, di 11 sungai lain di ibu kota.

Oleh Sirkularium Editorial Team, 8 menit baca