Lompat ke konten
Sirkularium
Kembali ke Insight
Limbah & Polusi

Madiun menempatkan Rp10 juta di belakang setiap RT dalam gerakan pemilahan sampah

Oleh Sirkularium Editorial Team, 8 menit baca

Relawan lingkungan berrompi hijau membantu warga memilah sampah rumah tangga ke dalam wadah organik, anorganik dan residu berlabel di sebuah gang kampung di Madiun

Pada 24 Agustus 2026 Pemerintah Kota Madiun memastikan dana operasional Rp10 juta siap disalurkan ke sekitar 1.025 rukun tetangga di kota tersebut, dengan pencairan dimulai paling lambat 31 Agustus. Dana itu menopang program pemilahan sampah rumah tangga yang menargetkan pengurangan 30 persen dari 120 ton per hari yang masuk ke TPA Winongo.

Sekilas data
Rp10 juta
Dana operasional yang dialokasikan untuk setiap rukun tetangga
1.025
Rukun tetangga di Madiun yang menerima alokasi tersebut
Rp10,25 miliar
Total yang disiapkan kota untuk program ini
30%
Target pengurangan dari sekitar 120 ton per hari yang masuk ke TPA Winongo

Tanggal pencairan, bukan sekadar target

Pada Senin 24 Agustus 2026, dalam rapat rutin administrasi di Balai Kota Madiun, pemerintah kota memastikan dana operasional untuk pemilahan sampah rumah tangga siap disalurkan. Setiap rukun tetangga, satuan lingkungan paling dasar dalam administrasi daerah di Indonesia, menerima Rp10 juta. Dengan sekitar 1.025 RT di seluruh kota, total komitmennya melampaui Rp10,25 miliar.

Plt Wali Kota F Bagus Panuntun meminta dana itu segera bergerak, dengan mencatat bahwa warga sudah menunggu dan menetapkan 31 Agustus sebagai batas dimulainya pencairan. Sekretaris Daerah Soeko hadir dalam rapat tempat penyaluran tersebut dibahas.

Rincian yang membuat hal ini menonjol adalah tanggalnya. Pemerintah daerah di Indonesia kerap mengumumkan program persampahan. Lebih sedikit yang melekatkan tenggat pencairan yang spesifik pada pos anggaran yang spesifik untuk jenjang administrasi yang spesifik. Instruksi pada 24 Agustus bukan untuk merencanakan program. Instruksinya adalah memasukkan dana ke 1.025 rekening dalam pekan itu juga.

Madiun juga berpacu dengan angka serapannya sendiri. Sampai Agustus kota ini mencatat realisasi anggaran sekitar 43,3 persen, dan jajarannya diarahkan mempercepat belanja. Persampahan adalah salah satu pos tempat percepatan itu memiliki hasil fisik yang melekat padanya.

Apa yang sebenarnya dibeli Rp10 juta di tingkat RT

Alokasi tersebut menutup kebutuhan sarana dan biaya operasional pemilahan serta pengolahan sampah organik dan anorganik di dalam setiap RT. Pemberitaan pada Juli mencatat bahwa setelah potongan administrasi, angka yang tersedia dalam praktik mendekati Rp9 juta per satuan.

Jumlah itu tidak besar, dan justru di situlah maknanya. Rp9 sampai 10 juta tidak membangun fasilitas. Jumlah itu membeli tong, gerobak, sarung tangan, mesin pencacah atau komposter, serta biaya operasional beberapa bulan bagi beberapa ratus rumah tangga. Dikalikan 1.025 satuan, jumlah itu menjadi jaringan pengolahan terdistribusi yang dirakit tanpa pembebasan lahan, tanpa pengadaan pabrik besar, dan tanpa jadwal konstruksi.

Struktur itu cocok dengan persoalan spesifik yang dihadapi Madiun. TPA Winongo menerima sekitar 120 ton sampah per hari. Kota ini hendak memangkasnya 30 persen, kira-kira 36 ton per hari. Pengurangan sebesar itu tidak memerlukan fasilitas besar. Yang diperlukan adalah beberapa ratus intervensi kecil yang bekerja pada waktu bersamaan, dan persis itulah yang dihasilkan alokasi per RT.

Dengan program ini, kami berharap 30 persen sudah bisa dikurangi di tingkat masyarakat.

Itu Feti Indriani, Plt Kepala Dinas Lingkungan Hidup Madiun, yang menjelaskan di mana pengurangan tersebut diharapkan terjadi. Rumusannya layak dicatat. Targetnya ditetapkan di tingkat masyarakat, bukan di pintu TPA, sehingga tanggung jawabnya berada pada satuan yang sama dengan penerima dana.

Empat arus dan kalender pengangkutan

Program ini mewajibkan rumah tangga memilah ke dalam empat arus: organik, anorganik, residu, serta bahan berbahaya dan beracun. Sampah organik diarahkan ke pengomposan bila memungkinkan. Material anorganik seperti botol dan kantong plastik didaur ulang atau dijual. Hanya residu yang sebenarnya, material yang tidak layak dipulihkan, yang masuk ke TPA.

Madiun memadukan empat arus itu dengan sesuatu yang sering tertinggal: kalender pengangkutan. Sampah organik diangkut pada Kamis dan Minggu, anorganik pada hari lainnya. Penerapannya bertahap sesuai kesiapan dan kapasitas sarana masing-masing lingkungan.

Aturan pemilahan tanpa jadwal pengangkutan yang selaras cenderung gagal dengan pola yang dapat ditebak. Rumah tangga memilah dengan benar, satu truk mengangkut semuanya tercampur, warga menyaksikannya, dan partisipasi merosot dalam hitungan pekan. Menerbitkan arus mana yang diangkut pada hari mana adalah tindakan administratif kecil yang melindungi keseluruhan program, karena membuat pemilahan itu terlihat di sepanjang rantai.

Setiap RT juga diwajibkan melaporkan perkembangan melalui aplikasi yang disiapkan kota. Hal itu mengubah 1.025 upaya terpisah menjadi kumpulan data yang dapat ditindaklanjuti, dan memberi dinas lingkungan hidup cara melihat lingkungan mana yang perlu didukung alih-alih menunggu angka TPA memberitahu mereka berbulan-bulan kemudian.

Pendekar Hijau, lapisan antara kebijakan dan rumah tangga

Program ini dijalankan melalui Pendekar Hijau, tim relawan lingkungan yang ditempatkan di setiap RT, yang dilatih sejak pertengahan Juli 2026 menjelang peluncuran. Perannya adalah edukasi dan pendampingan berkelanjutan kepada rumah tangga, bukan penindakan.

Program yang lebih luas, Pilah dari Rumah, diluncurkan pada Festival Madiun Hijau di Pahlawan Street Center pada 31 Juli 2026, dengan ikrar publik yang melibatkan ketua RT dan RW, organisasi masyarakat, penarik gerobak sampah, penyapu jalan, para relawan Pendekar Hijau dan tokoh setempat. Penyerahan simbolis alokasi Rp10 juta menjadi bagian dari acara tersebut.

Menyertakan penarik gerobak sampah dan penyapu jalan dalam peluncuran adalah rincian yang layak disorot. Merekalah yang rutinitas hariannya paling berubah ketika pemilahan menjadi wajib, dan kerja sama merekalah yang menentukan apakah material yang sudah dipilah tetap terpilah. Program yang memperlakukan mereka sebagai objek aturan baru alih-alih sebagai pesertanya cenderung menemui keengganan diam-diam justru pada titik ketika material berpindah tangan.

Pandangan Sirkularium bagi pemerintah dan institusi publik

Tiga catatan bagi pemerintah daerah yang menimbang struktur serupa.

Pertama, soal desain fiskal. Menyalurkan pendanaan persampahan melalui jenjang RT adalah pilihan yang berarti. Pilihan itu menempatkan anggaran kecil pada tingkat tempat perilaku pemilahan sesungguhnya terbentuk, menghindari siklus pengadaan, dan menghasilkan kapasitas dengan cepat. Imbal baliknya adalah pengawasan: 1.025 pencairan kecil lebih sulit diaudit daripada satu kontrak besar. Aplikasi pelaporan adalah jawaban Madiun atas hal itu, dan apakah aplikasi itu bekerja adalah hal yang perlu diperiksa sebelum menyalin model ini.

Kedua, soal menyesuaikan intervensi dengan celahnya. Madiun membutuhkan sekitar 36 ton per hari pengalihan. Kota ini memilih instrumen yang sebanding dengan angka tersebut alih-alih mengadakan fasilitas berukuran untuk persoalan yang lebih besar. Pemerintah daerah kerap melakukan sebaliknya, menetapkan spesifikasi infrastruktur berdasarkan total timbulan alih-alih berdasarkan kekurangan yang sebenarnya. Menyelaraskan instrumen dengan celahnya biasanya lebih murah dan lebih cepat.

Ketiga, soal kalender pengangkutan. Ini rincian operasional paling dapat dialihkan dalam program tersebut dan hampir tanpa biaya untuk diadopsi. Kota mana pun yang memberlakukan pemilahan wajib sebaiknya menerbitkan, pada saat yang sama, arus mana yang diangkut pada hari mana. Tanpa itu, kepatuhan rumah tangga akan luruh berapa pun besar dana yang menopang kampanyenya.

Yang perlu dipantau berikutnya: apakah pencairan benar-benar dimulai paling lambat 31 Agustus di seluruh 1.025 satuan atau hanya di sebagian kecamatan, apa yang ditunjukkan aplikasi pelaporan tentang tingkat partisipasi pada triwulan pertama, dan apakah tonase yang tiba di TPA Winongo bergerak turun secara terukur di bawah 120 ton per hari menjelang akhir tahun.

Madiun telah menetapkan tanggal, jumlah dan angka yang hendak dicapai. Sirkularium akan terus mengikuti apakah ketiganya bertemu.

BagikanLinkedInWhatsAppFacebookEmail
Sirkularium

Sirkularium adalah lembaga thought-leadership dan advisory yang mempercepat transisi sirkular di sampah, air, dan energi, bekerja bersama pemerintah dan institusi publik.

Di limbah dan polusi, Sirkularium membantu merancang sistem pengumpulan, pemilahan, dan pemulihan, menyusun kebijakan dan peta jalan, serta mengubah sampah menjadi sumber daya yang terkelola.

Artikel terkait

Para bankir dan pejabat pembiayaan proyek di sekitar meja meninjau tata letak fasilitas pengolahan sampah menjadi energi, dengan fasilitas PSEL modern yang sedang dibangun tampak di layar di belakang mereka
Limbah & Polusi

Pada 16 Oktober 2026, Danantara Investment Management dan anak usahanya di bidang pengolahan sampah menjadi energi, Denera, menetapkan 34 institusi keuangan sebagai anggota lenders panel program PSEL Indonesia, dengan minat pembiayaan indikatif lebih dari tiga kali estimasi kebutuhan utang program.

Oleh Sirkularium Editorial Team, 8 menit baca

Nelayan di sebuah pelabuhan perikanan Indonesia memilah dan mengikat jaring insang nilon serta tali yang sudah usang di dermaga untuk dikumpulkan dan didaur ulang, dengan kapal ikan bersandar di belakangnya
Limbah & Polusi

Kementerian Kelautan dan Perikanan menerbitkan Keputusan Direktur Jenderal Perikanan Tangkap Nomor 23 Tahun 2026, pedoman nasional pengelolaan alat penangkapan ikan yang ditinggalkan, hilang, dibuang, maupun yang sudah habis masa pakainya dengan prinsip 3R. Uji coba dimulai di tiga pelabuhan perikanan, didukung mitra lapangan di Merauke, Muncar, Pengambengan dan Gresik.

Oleh Sirkularium Editorial Team, 8 menit baca

Foto udara kawasan TPST Bantargebang dengan lahan yang telah dibersihkan dan diratakan untuk fasilitas pengolahan sampah menjadi energi listrik di samping zona timbunan sampah yang ada
Limbah & Polusi

Gubernur Pramono Anung menyampaikan pada 7 Oktober bahwa persoalan penyediaan lahan yang selama ini menahan fasilitas pengolahan sampah menjadi energi listrik Jakarta di Bantargebang telah menemukan jalan keluar, dan kota berharap masuk batch ketiga program nasional agar pembangunan dapat dimulai sebelum akhir 2026.

Oleh Sirkularium Editorial Team, 8 menit baca

Mahasiswa berjaket almamater membantu warga memilah sampah rumah tangga organik dan anorganik ke dalam tempat sampah berlabel di sebuah permukiman di Bandung
Limbah & Polusi

Pemerintah Provinsi Jawa Barat menerjunkan 25.000 mahasiswa ke 52 kecamatan di Bandung Raya selama tiga bulan, dengan pengakuan setara 10 SKS, untuk membantu rumah tangga memilah dan mengurangi sampah dari sumber. Targetnya pengurangan 20 persen yang memperpanjang usia TPA Sarimukti hingga fasilitas Legok Nangka beroperasi.

Oleh Sirkularium Editorial Team, 8 menit baca

Pejabat Pemerintah Kota Kendari di TPAS Puuwatu, Sulawesi Tenggara, di samping lahan yang direncanakan untuk fasilitas pengolahan sampah terpadu, dengan alat berat memadatkan sampah di sel yang ada
Limbah & Polusi

Kendari menjadi satu dari empat penerima di Sulawesi dalam Local Service Delivery Improvement Project yang didukung Bank Dunia, pada penyerahan di Makassar tanggal 6 Oktober. Kota ini berencana mengarahkan program senilai Rp107 miliar tersebut untuk fasilitas pengolahan sampah di TPAS Puuwatu dan sistem layanan yang berjalan dari pemilahan di rumah tangga hingga pemrosesan akhir.

Oleh Sirkularium Editorial Team, 8 menit baca

Petugas dan ekskavator mengangkat kayu, bambu, dan sampah plastik yang hanyut dari saringan sampah di Sungai Ciliwung, Jakarta Selatan, dengan tumpukan material organik hasil pilahan di tepi sungai
Limbah & Polusi

Gubernur Pramono Anung menyampaikan pada 5 Oktober bahwa Jakarta akan mereplikasi saringan sampah terpadu TB Simatupang, yang menangkap hampir 30 persen sampah yang terbawa Sungai Ciliwung dan mengolah sebagian besarnya menjadi kompos dan woodchip, di 11 sungai lain di ibu kota.

Oleh Sirkularium Editorial Team, 8 menit baca