PSEL Keramasan Palembang lakukan pembakaran sampah perdana, dan kota menunjukkan cara membangun kesiapan pasokan
Oleh Sirkularium Editorial Team, 8 menit baca

PSEL Keramasan di Palembang berkapasitas 1.000 ton sampah per hari melakukan pembakaran perdana pada 23 September 2026 dan menerima kunjungan Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan pada 25 September, dengan tiga pekan pengiriman sampah yang dialihkan dan ditimbang kini menjadi model kerja bagi kota tuan rumah PSEL lainnya.
Palembang telah membawa fasilitas pengolahan sampah menjadi energi listriknya dari tahap konstruksi ke tahap commissioning. PSEL Keramasan di Kecamatan Kertapati melakukan pembakaran perdana sampah kota sekitar pukul 23.00 WIB pada 23 September 2026. Dua hari kemudian, Jumat sore 25 September, Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan meninjau fasilitas tersebut bersama Wali Kota Ratu Dewa dan pejabat dari perangkat daerah terkait.
Fasilitas ini dirancang untuk mengolah 1.000 ton sampah per hari dan membangkitkan listrik sekitar 20 megawatt. ANTARA dan Koran Jakarta melaporkan bahwa peresmiannya dijadwalkan pada Desember 2026. Bagi program nasional yang selama ini lebih banyak diukur dari perjanjian yang ditandatangani dan peletakan batu pertama, fasilitas yang benar-benar membakar sampah dan bersiap diresmikan merupakan tonggak penting.
Dari peletakan batu pertama ke pembakaran perdana
Pembakaran perdana adalah titik ketika fasilitas pengolahan sampah menjadi energi berhenti menjadi proyek konstruksi dan mulai menjadi sistem yang beroperasi. Tungku, boiler, turbin, pengolahan gas buang, dan peralatan pemantauan dijalankan bersama untuk pertama kalinya, menggunakan sampah kota yang sesungguhnya, bukan bahan uji.
Pemberitaan menyebut teknologi intinya adalah sistem pembakaran stoker moving grate, rancangan yang paling banyak digunakan di dunia untuk sampah kota campuran. Sampah dimasukkan ke atas grate miring yang bergerak perlahan membawanya melalui tungku, sehingga sampah mengering, menyala, dan terbakar habis secara bertahap. Pengendalian emisinya, sebagaimana dilaporkan Sumsel Pers dan Suara Metropolitan, meliputi semi dry deacidification untuk menetralkan gas asam, injeksi karbon aktif untuk menangkap dioksin dan logam berat, bag filter untuk partikulat, serta Continuous Emission Monitoring System (CEMS) yang mencatat emisi cerobong secara waktu nyata.
Liputan foto ANTARA pada 24 September memperlihatkan bagian kerja proses tersebut: crane sampah yang memindahkan material ke ruang bakar, operator di ruang kendali, dan truk DLH yang berdatangan dari berbagai penjuru kota.
Bagian yang mudah terlewat: kesiapan pasokan
Unsur paling bernilai pelajaran dari kisah Palembang bukan tungkunya, melainkan kerja hulu yang dilakukan kota sebelum pembakaran perdana.
Sejak 1 September 2026, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Palembang mulai mengalihkan sebagian sampah yang sebelumnya dibawa ke TPA Sukawinatan menuju fasilitas PSEL Keramasan. Selama 23 hari antara 1 dan 23 September, DLH mengatur rute armada pengangkut serta menyiapkan penimbangan dan pencatatan setiap pengiriman. Setiap truk diperiksa dan ditimbang sebelum membongkar muatan, dan datanya disimpan agar kota dapat memantau jumlah sampah yang diterima serta mengevaluasi sistem pasokannya.
Wali Kota Ratu Dewa memaknai langkah ini sebagai persiapan untuk menjamin bahan baku. Menurut JPNN, ia menyampaikan bahwa pemerintah kota melalui DLH melakukan berbagai persiapan untuk memastikan ketersediaan bahan baku berupa sampah yang akan diolah di fasilitas PSEL. Ia juga menyebut sistem hulu, mulai dari pengangkutan, pengawasan, hingga pencatatan tonase, sebagai komponen penting pendukung operasional PSEL.
Ahmad Mustain, Kepala DLH Kota Palembang, merumuskan prinsipnya dengan jelas, sebagaimana dilaporkan Monpera:
"PSEL tidak hanya membutuhkan kesiapan fasilitas pengolahan, tetapi juga memerlukan sistem hulu yang kuat."
Hal ini penting karena risiko pasokan bahan baku adalah salah satu penyebab utama fasilitas pengolahan sampah menjadi energi tidak mencapai kinerja optimal. Fasilitas yang dirancang untuk 1.000 ton per hari membutuhkan jumlah itu dikirim secara andal setiap hari, dengan catatan yang dapat dipercaya oleh pengembang, pemberi pinjaman, dan pembeli listrik. Palembang menghasilkan sekitar 1.260 ton sampah per hari menurut angka yang dipublikasikan awal September, sehingga volumenya tersedia. Yang telah ditunjukkan kota ini adalah kerja administratif dan logistik untuk mengubah volume tersebut menjadi pasokan yang terukur dan dapat diandalkan.
Mengapa waktunya penting
Program PSEL nasional yang dipercepat bertujuan menghadirkan kapasitas pengolahan sampah menjadi energi di sejumlah kota besar dalam beberapa tahun ke depan. Sebagian besar tonggak publik sejauh ini berupa perjanjian, pemilihan mitra, dan peletakan batu pertama. Tercapainya pembakaran perdana di Keramasan memberi program ini pengalaman operasional nyata untuk dipelajari.
Kehadiran Zulkifli Hasan di fasilitas tersebut juga mencerminkan bagaimana agenda persampahan kini melibatkan banyak kementerian. Portofolio koordinasinya mencakup Kementerian Lingkungan Hidup, dan kunjungannya menandakan bahwa pemerintah pusat mengikuti pelaksanaan hingga tingkat fasilitas, tidak hanya di tingkat kebijakan.
Kepala DLH Ahmad Mustain menggambarkan fasilitas ini sebagai bagian dari pergeseran dari model lama kumpul, angkut, buang menuju pengelolaan sampah terpadu yang mengutamakan pemulihan nilai dan energi. Bahasa itu sejalan dengan arah nasional yang lebih luas, dan di Keramasan arah tersebut telah menjadi infrastruktur fisik.
Tahapan berikutnya menjelang Desember
Menurut Ahmad Mustain, tahap selanjutnya adalah penyempurnaan proses commissioning, pengujian sistem secara menyeluruh, evaluasi kinerja fasilitas, serta memastikan seluruh aspek teknis dan lingkungan memenuhi ketentuan yang berlaku. Baru setelah itu fasilitas beralih ke operasi penuh.
Commissioning adalah masa belajar, dan penyesuaian merupakan hal yang wajar. Fasilitas akan disetel sesuai nilai kalor dan kadar air sampah Palembang yang sebenarnya, yang di kota tropis cenderung tinggi kandungan organik dan airnya. Kecepatan grate, pasokan udara, dan pembakaran bantu biasanya disesuaikan selama beberapa pekan untuk mencapai pembakaran yang stabil dan keluaran listrik yang konsisten. Sistem pengendalian emisi akan diverifikasi berdasarkan data pemantauan.
Tiga indikator layak diikuti hingga Desember: tonase harian yang benar-benar diterima dan dibakar dibanding rancangan 1.000 ton, stabilitas keluaran listrik menuju 20 MW, dan catatan emisi CEMS.
Pandangan Sirkularium
Bagi pemerintah dan lembaga publik, Keramasan memberi pelajaran praktis yang mudah terlewat di tengah perhatian pada teknologi dan investasi: kesiapan pasokan dibangun oleh pemerintah daerah, dan harus dimulai sebelum fasilitas selesai.
Pendekatan Palembang dapat langsung diterapkan oleh kota tuan rumah PSEL lainnya. Alihkan sebagian aliran sampah dari TPA ke fasilitas beberapa pekan sebelum pembakaran perdana, agar rute dan logistik teruji dalam kondisi nyata. Timbang dan catat setiap pengiriman sejak hari pertama, karena data itu menjadi dasar pembayaran tipping fee, evaluasi kinerja, dan kepercayaan dengan operator. Tetapkan penanggung jawab yang jelas di DLH untuk kesinambungan pasokan. Semua ini tidak memerlukan regulasi baru. Yang dibutuhkan adalah koordinasi dan disiplin, dan Palembang telah menunjukkan hal itu dapat dilakukan dalam hitungan pekan.
Ada pula pelajaran kedua dari angka-angkanya. Fasilitas berkapasitas 1.000 ton per hari di kota yang menghasilkan sekitar 1.260 ton berarti pemilahan di rumah tangga, bank sampah, dan pengolahan organik tetap penting berjalan berdampingan dengan fasilitas. Bahan baku yang terpilah dan lebih kering juga cenderung terbakar lebih efisien, sehingga program hulu dan fasilitas saling menguatkan.
Sirkularium menyarankan Pemerintah Kota Palembang mempertimbangkan penerbitan ringkasan bulanan data jembatan timbang dan pembacaan CEMS selama masa commissioning. Data operasional yang transparan akan memperkuat kepercayaan publik terhadap pengolahan sampah menjadi energi, dan memberi kota lain yang sedang menyiapkan PSEL rujukan yang bersumber dari kondisi nyata Indonesia.
Hal yang perlu dicermati berikutnya: hasil uji commissioning, tanggal peresmian pada Desember, dan apakah catatan tonase menunjukkan fasilitas mendekati kapasitas rancangannya. Jika Keramasan mencapai operasi stabil sesuai jadwal, program PSEL nasional akan memiliki titik rujukan operasional, dan persiapan pasokan Palembang dapat menjadi templat yang diikuti kota lain.
Sumber
- ANTARA Foto, uji coba pembakaran PSEL Keramasan jelang peresmian
- Koran Jakarta, uji coba PSEL Keramasan, 1.000 ton sampah diolah jadi listrik
- Sumsel Pers, PSEL Kota Palembang masuki tahap pembakaran perdana, suplai sampah mulai dioptimalkan
- Monpera, uji pembakaran perdana dicek langsung Menko Zulhas dan Wali Kota
- Suara Metropolitan, PSEL Palembang mulai bakar sampah dan tahap selanjutnya
- JPNN, suplai sampah jadi kunci operasional PSEL Palembang
- Figur News, timbulan sampah harian Palembang






