Dua terminal lagi memperoleh sertifikasi bahan bakar penerbangan berkelanjutan menjelang mandat 2027
Oleh Sirkularium Editorial Team, 8 menit baca

Pertamina Patra Niaga memperluas International Sustainability and Carbon Certification ke Aviation Fuel Terminal Juanda dan Integrated Terminal Surabaya, sehingga jaringan tersertifikasinya menjadi lima lokasi. Sertifikasi yang terbit pada 8 Agustus 2026 itu menyiapkan rantai pasok bagi mandat bahan bakar penerbangan berkelanjutan Indonesia yang mulai berlaku pada 2027, dengan bahan bakar yang diolah dari minyak jelantah di Cilacap.
PT Pertamina Patra Niaga memperluas International Sustainability and Carbon Certification, yang dikenal sebagai ISCC, ke dua fasilitas tambahan, sehingga jaringan tersertifikasinya untuk bahan bakar penerbangan berkelanjutan menjadi lima lokasi. Sertifikasi tersebut terbit pada 8 Agustus 2026 dan berlaku selama satu tahun.
Lima lokasi tersertifikasi itu adalah Aviation Fuel Terminal Soekarno Hatta, Aviation Fuel Terminal Halim Perdanakusuma, Aviation Fuel Terminal Ngurah Rai, Aviation Fuel Terminal Juanda, dan Integrated Terminal Surabaya. Dua yang ditambahkan pada 2026 adalah Juanda dan Integrated Terminal Surabaya.
Integrated Terminal Surabaya membawa keistimewaan yang layak dicatat. Ia adalah Integrated Terminal pertama dalam jaringan Pertamina Patra Niaga yang memegang sertifikasi ISCC, yang memperluas standar keberlanjutan melampaui terminal bahan bakar penerbangan khusus dan masuk ke rantai pasok yang lebih luas.
Sertifikasi adalah produknya, sama seperti bahan bakarnya
Naluri kita memperlakukan sertifikasi sebagai administrasi yang melekat pada komoditas fisik. Bagi bahan bakar penerbangan berkelanjutan, keadaannya justru mendekati sebaliknya.
Bahan bakar penerbangan berkelanjutan secara kimia dapat dipertukarkan dengan avtur konvensional setelah dicampur. Maskapai tidak dapat memastikan lewat pemeriksaan bahwa yang masuk ke sayapnya diproduksi dari bahan baku limbah dan bukan dari minyak mentah. Yang membuat bahan bakar itu layak berharga premium, dan yang memungkinkan maskapai memperhitungkannya terhadap kewajiban emisi, adalah rantai kepemilikan terdokumentasi yang membentang dari pengumpulan bahan baku sampai pengolahan, penyimpanan dan pengisian.
ISCC menyediakan persis hal itu. Ia mencakup keterlacakan dan pengelolaan rantai kepemilikan terhadap standar internasional. Tanpanya, molekul yang diproduksi secara berkelanjutan di kilang kehilangan statusnya di suatu titik antara gerbang kilang dan pesawat.
Bagi bahan bakar penerbangan berkelanjutan, sertifikat bukanlah administrasi yang membungkus produk. Ia adalah bagian dari produk yang sesungguhnya dibeli maskapai.
Karena itulah perluasan sertifikasi dari tiga terminal menjadi lima lebih berarti daripada volume fisik yang terlibat. Setiap terminal yang baru tersertifikasi adalah titik tempat klaim keberlanjutan bertahan sepanjang perjalanan alih alih padam.
Alimuddin Baso, Direktur Pemasaran Korporat Pertamina Patra Niaga, menempatkan perluasan ini dalam kerangka cakupan dan kesiapan rantai pasok yang memungkinkan perseroan melayani maskapai secara lebih dekat, dan mengaitkannya dengan pertumbuhan ekosistem SAF nasional.
Dari mana bahan bakarnya berasal
Sisi pasokan rantai ini bermula di dapur rumah tangga dan rumah makan.
Pertamina mengumpulkan minyak jelantah melalui unit UCollect Box yang ditempatkan di SPBU, outlet LPG, rumah sakit, kantor perusahaan dan lokasi mitra, dengan penyetor dibayar sekitar Rp4.000 sampai Rp5.000 per liter ke dompet elektronik terdaftar melalui aplikasi MyPertamina. Mesinnya mengukur volume yang disetorkan dan pembayarannya ditransfer langsung.
Bahan baku itu diolah di green refinery Cilacap, Jawa Tengah, yang memproduksi sekitar 27.000 kiloliter bahan bakar penerbangan berkelanjutan per tahun. Bahan bakar yang dihasilkan sudah memiliki pembeli. Pelita Air mengoperasikan penerbangan Jakarta ke Bali dengan bahan bakar tersebut. Cathay Pacific telah membelinya untuk rute termasuk Jakarta ke Hong Kong.
Agung Wicaksono, Direktur Transformasi Bisnis dan Keberlanjutan Pertamina, berbicara mengenai keandalan bahan bakar itu dari pengalaman langsung, setelah terbang dua jam dengan Pelita Air yang menggunakannya.
Penjualan internasionalnya layak ditegaskan. Maskapai asing yang membeli bahan bakar penerbangan berkelanjutan Indonesia untuk rute internasional berarti produk tersebut bersaing atas dasar mutu dan sertifikasi melawan pemasok global mapan, bukan sekadar memenuhi persyaratan dalam negeri.
Rantai ini juga patut diperhatikan karena memakai aset yang seluruhnya sudah ada. Kilang Cilacap sudah beroperasi. Terminal bahan bakar penerbangan sudah melayani bandara yang sama. Jaringan SPBU tempat UCollect Box dipasang sudah dikunjungi jutaan orang setiap hari. Yang ditambahkan adalah bahan baku baru pada satu ujung, sertifikasi di sepanjang jalurnya, dan mesin pengumpul di ujung lainnya. Pola yang sama muncul pada biometana yang masuk jaringan gas dan pada unit bottoming di lapangan panas bumi yang sudah berproduksi, yakni kapasitas baru yang diperoleh tanpa membangun sistem yang sama sekali baru.
Mengapa waktunya mengarah ke 2027
Mandat bahan bakar penerbangan berkelanjutan Indonesia mulai berlaku pada 2027. Sertifikasi semacam ini butuh waktu untuk diperoleh, berlaku bagi lokasi fisik tertentu, dan kedaluwarsa setiap tahun.
Membangun jaringan terminal tersertifikasi sekarang, dan bukan pada tahun mandatnya dimulai, adalah perbedaan antara persyaratan yang dapat dipenuhi tepat waktu dan persyaratan yang tiba dengan bahan bakar tersedia namun tanpa jalur yang memenuhi syarat menuju pesawat. Masuknya Surabaya juga memperluas jangkauan geografis melampaui Jakarta dan Bali, membuka kemungkinan pembelian sukarela oleh maskapai yang beroperasi di Jawa Timur sebelum kewajiban apa pun berlaku.
Masa berlaku tahunan itu juga perlu dipegang. Berbeda dari terminal yang dibangun sekali, sertifikasi harus diperbarui dan diaudit ulang setiap tahun di setiap lokasi. Hal itu menjadikan jaringan tersertifikasi sebagai komitmen operasional yang berjalan terus, bukan proyek yang selesai, dan berarti jumlah lokasi tersertifikasi dapat turun sebagaimana dapat naik. Mandat yang bersandar pada jaringan ini memerlukan beban pembaruan yang terkelola pada skala yang kelak dicapainya.
Pandangan Sirkularium bagi pemerintah dan institusi publik
Tiga pengamatan mengikuti.
Yang pertama menyangkut struktur ekonomi sirkular yang terlihat di sini. Minyak jelantah adalah aliran limbah dengan dampak pembuangan yang nyata, karena minyak yang dibuang sembarangan merusak drainase dan sistem air. Membayar rumah tangga dan pelaku usaha makanan untuk limbah itu mengubah persoalan pembuangan menjadi pasokan bahan baku dan menciptakan pekerjaan pengumpulan, pengangkutan dan logistik di sepanjang jalannya. Rumah tangga yang memasoknya menerima pembayaran, bukan menanggung biaya pembuangan. Ini salah satu contoh sirkularitas yang lebih bersih karena berjalan tanpa subsidi, dan layak dipelajari sebagai templat bagi aliran limbah tersebar lainnya.
Yang kedua menyangkut infrastruktur yang disertifikasi, bukan dibangun. Kendala yang diatasi di sini bukan kapasitas kilang atau kapasitas terminal, yang keduanya sudah ada. Kendalanya adalah ketiadaan rantai kepemilikan terverifikasi pada titik titik tempat bahan bakar berpindah tangan. Institusi publik yang menilai kesiapan terhadap standar apa pun yang bertaut pada asal usul, baik pada bahan bakar penerbangan, biometana maupun karbon yang diperdagangkan, sebaiknya memperlakukan cakupan sertifikasi sebagai infrastruktur tersendiri dan merencanakannya pada lini masa yang serupa.
Yang ketiga menyangkut pasokan bahan baku sebagai batas yang sesungguhnya. Keluaran Cilacap saat ini 27.000 kiloliter per tahun terhadap mandat yang akan berlaku bagi armada nasional. Penskalaannya akan bergantung pada seberapa banyak minyak jelantah yang dapat dihimpun, dan itu persoalan logistik pengumpulan yang tersebar di jutaan rumah tangga dan pelaku usaha makanan. Pemerintah daerah memegang hubungan yang relevan dengan pasar, pedagang makanan dan administrasi kelurahan, serta berada pada posisi baik untuk memperluas cakupan pengumpulan melampaui kota tempat titik UCollect kini berada.
Yang perlu diamati berikutnya adalah persentase pencampuran yang ditetapkan mandat 2027, apakah sertifikasi meluas ke terminal di luar Jawa dan Bali, serta apakah volume pengumpulan mengimbangi kapasitas pengolahan seiring perluasannya.
Sumber
- detikFinance, Pertamina Perluas Bahan Bakar Pesawat dari Minyak Jelantah ke 5 Lokasi
- CNBC Indonesia, Pertamina Perluas Layanan Avtur Ramah Lingkungan SAF Untuk Penerbangan
- Republika ESG Now, Dukung Penerbangan Lebih Ramah Lingkungan, Pertamina Patra Niaga Perluas Layanan SAF
- detikFinance, Pertamina Olah Minyak Jelantah Jadi Bahan Bakar Pesawat, Dibeli Cathay Pacific
- detikFinance, Minyak Jelantah Jangan Dibuang, Bisa Ditukar Jadi Cuan di SPBU Pertamina






