Lompat ke konten
Sirkularium
Kembali ke Insight
Energi & Iklim

Dalam konversi taksi PGN, bahan bakar tanpa subsidi berharga kurang dari separuh yang bersubsidi

Oleh Sirkularium Editorial Team, 8 menit baca

Teknisi memasang konverter kit gas pada ruang mesin mobil penumpang kecil Indonesia sementara pengemudinya menyaksikan di bengkel konversi

PGN mengonversi 75 kendaraan taksi online ke bahan bakar gas melalui pemasangan konverter kit gratis sepanjang Agustus dan September 2026, yang dipaparkan sebagai bagian City Gas Tour pada 4 September. Pada Rp4.500 per liter setara terhadap Rp10.000 untuk bensin bersubsidi, armada tersebut menghemat sekitar Rp990 juta per tahun atau kurang lebih 55 persen, dan menghindarkan sekitar 73 ton setara karbon dioksida.

Sekilas data
75
Kendaraan yang dikonversi dalam program
55%
Penurunan biaya bahan bakar terhadap bensin bersubsidi
Rp990 juta
Penghematan tahunan gabungan seluruh armada
73 t
Setara karbon dioksida yang dihindarkan per tahun

PT Perusahaan Gas Negara menjalankan program bantuan konversi kendaraan untuk 2026 yang menyasar 75 kendaraan taksi online sepanjang Agustus dan September. Pengemudi menerima pemasangan konverter kit gas secara gratis, sehingga kendaraan mereka dapat berjalan dengan BBG, bahan bakar gas yang dipasok PGN, alih alih bensin konvensional. Program ini dipaparkan sebagai bagian dari City Gas Tour perseroan pada Jumat 4 September 2026, dengan dukungan PGN Gagas dan komunitas kendaraan gas Komogas.

Aritmetika di baliknya diuraikan cukup rinci. Setiap kendaraan diasumsikan memakai sekitar 8 liter setara bensin per hari. Pada 75 kendaraan, angka itu menjadi kurang lebih 15.000 liter setara per bulan dan sekitar 180.000 per tahun. Asumsi 8 liter per hari itu sendiri memberi petunjuk tentang siapa yang disasar, karena ia menggambarkan kendaraan yang bekerja hampir sepanjang hari, bukan mobil keluarga yang dipakai untuk mengantar dan berbelanja.

Perbandingan harganya adalah bagian yang mencolok

Pada Rp4.500 per liter setara, tagihan bahan bakar tahunan untuk volume tersebut mencapai sekitar Rp810 juta. Pada Rp10.000 per liter, tagihannya sekitar Rp1,8 miliar. Selisihnya kurang lebih Rp990 juta per tahun, penurunan sekitar 55 persen.

Yang membuat perbandingan itu tidak lazim adalah bahan bakar mana yang mana. Angka Rp4.500 berlaku bagi gas yang tidak membawa subsidi. Angka Rp10.000 berlaku bagi bensin yang membawanya.

Bahan bakar yang lebih murah di sini justru yang tidak dibayari negara. Pengemudi yang beralih menjadi lebih baik keadaannya, dan tagihan subsidinya mengecil pada saat yang sama.

Itu bukan bentuk lazim dari proposisi peralihan bahan bakar. Biasanya alternatif yang lebih bersih berharga lebih mahal dan kebijakan harus menutup selisihnya dengan insentif. Di sini selisihnya berjalan ke arah sebaliknya, dan ia berjalan sebaliknya bahkan ketika bahan bakar petahana ditahan harganya oleh uang publik.

Dibandingkan alokasi Rp272,9 triliun untuk subsidi energi dalam RAPBN 2027, yang Rp28,7 triliun di antaranya untuk jenis BBM tertentu, mekanisme apa pun yang memindahkan konsumsi keluar dari bensin bersubsidi tanpa meminta konsumennya membayar lebih layak mendapat perhatian jauh melampaui 75 kendaraan yang terlibat.

Dua catatan menyertai pengamatan tersebut. Pembanding Rp10.000 adalah terhadap bensin bersubsidi, sehingga penghematan yang dirasakan pengemudi sebagian merupakan ukuran seberapa jauh harga gas berada di bawah harga yang diatur, bukan semata perolehan efisiensi. Selain itu harga gas bergerak mengikuti pasarnya sendiri, sehingga selisih selebar ini merupakan ciri kondisi saat ini, bukan sifat yang permanen. Kedua hal itu tidak meruntuhkan argumennya. Keduanya berarti program ini sebaiknya dipahami sebagai memanfaatkan selisih yang menguntungkan selama ia ada, dan itu alasan untuk bergerak cepat, bukan alasan untuk ragu.

Mengapa konverter kitnya diberikan gratis

Rancangan program ini menjawab alasan spesifik mengapa konversi tidak terjadi dengan sendirinya.

Riko, yang mewakili komunitas Komogas, menyampaikannya secara langsung. Pemasangan gratis itu berarti karena membiayai konversi secara mandiri merupakan biaya besar bagi pengemudi, terutama yang konsumsi bahan bakarnya tinggi. Orang yang paling diuntungkan biaya operasional lebih rendah justru yang paling tidak sanggup membiayai konversi yang menghadirkannya.

Inilah persis hambatan yang menghentikan program konversi sepeda motor listrik, yang subsidi pemerintahnya Rp10 juta terhadap biaya konversi sekitar Rp15 juta masih menyisakan Rp5 juta untuk ditutup rumah tangga, dan penyerapannya meleset. Pendekatan PGN menghapus biaya di muka sepenuhnya, bukan menguranginya. Bahwa Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral kini sedang meninjau mekanisme skema sepeda motor tersebut, dengan Rp635,24 miliar dialokasikan bagi 63.000 unit pada 2027, membuat perbandingannya tepat waktu.

Fajriyah Usman, Sekretaris Perusahaan PGN, menempatkan pekerjaan ini sebagai kelanjutan mendorong pemanfaatan gas bumi di berbagai sektor termasuk transportasi. Santiaji Gunawan, direktur di PT Gagas Energi Indonesia, menekankan dukungan teknis dan standar keselamatan berdampingan dengan layanan konversinya sendiri, dengan Gagas memberi pendampingan selama konversi dan sesudahnya.

Dampak emisinya nyata namun sedang

Argumen lingkungannya adalah paruh yang lebih kecil dari cerita ini dan sebaiknya disajikan demikian. Bahan bakar gas menghasilkan emisi karbon dioksida sekitar 19 persen lebih rendah dibanding bensin bersubsidi, dan pada 75 kendaraan program ini diproyeksikan menghindarkan sekitar 73 ton setara karbon dioksida per tahun.

Tujuh puluh tiga ton adalah angka kecil. Ia kurang lebih seperseribu dari yang dihindarkan satu klaster biometana industri. Maknanya terletak pada rasionya ketimbang totalnya, dan pada kenyataan bahwa manfaat emisinya datang sebagai hasil sampingan dari keputusan yang secara rasional akan diambil pengemudi atas dasar biaya semata.

Perlu dicatat pula bahwa penurunan 19 persen menggambarkan emisi karbon dioksida pada titik pembakaran. Ia bukan penilaian daur hidup penuh, dan tidak menjadikan gas sebagai bahan bakar nol emisi. Gas tetap bahan bakar fosil. Yang ditawarkannya adalah perbaikan yang tersedia hari ini bagi kendaraan yang sudah beroperasi, tanpa menunggu armadanya berganti, dan itu peran yang berbeda dari peran elektrifikasi dalam jangka panjang.

Pandangan Sirkularium bagi pemerintah dan institusi publik

Tiga pengamatan mengikuti.

Yang pertama menyangkut aritmetika fiskal yang tersembunyi di dalam program ini. Setiap liter bensin bersubsidi yang tergantikan adalah subsidi yang tidak dibayarkan negara. Konverter kit adalah biaya sekali jalan yang menurunkan pengeluaran publik berulang selama kendaraannya berjalan. Dinilai dengan cara itu, bantuan konversi bagi kendaraan berjarak tempuh tinggi bukan terutama program transportasi atau lingkungan. Ia adalah pengurangan subsidi yang kebetulan bersifat sukarela dan populer, dan itu kombinasi yang jarang.

Yang kedua menyangkut penyasaran menurut tingkat pemanfaatan. Tujuh puluh lima kendaraan adalah percontohan. Bila mekanismenya diperbesar, kendaraan yang paling layak dikonversi lebih dahulu adalah yang mengonsumsi bahan bakar bersubsidi paling banyak per tahun, yang berarti taksi daring, pengantaran, logistik dan angkutan umum, bukan mobil pribadi. Logika yang sama berlaku bagi program konversi sepeda motor, yang pengendara berjarak tempuh tinggi mencapai titik impasnya jauh lebih cepat dibanding pengendara sesekali.

Yang ketiga menyangkut jaringan pengisian sebagai kendala yang mengikat. Kendaraan yang sudah dikonversi hanya berguna di tempat gasnya tersedia. Keekonomian yang ditunjukkan di sini tidak akan terulang di kota tanpa infrastruktur pengisian, sehingga cakupan jaringan menjadi hal yang menentukan seberapa jauh ini dapat berjalan. Mengoordinasikan bantuan konversi dengan geografi stasiun gas yang ada dan yang direncanakan akan mencegah keadaan ketika pengemudi memegang kemampuan yang tidak dapat dipakainya dengan nyaman.

Yang perlu diamati berikutnya adalah apakah 75 konversi itu rampung dalam jendela September, apakah penghematan terukurnya sepadan dengan model Rp990 juta, serta apakah skemanya diperluas ke armada komersial yang lebih besar yang bahan bakar bersubsidi tergantikan per kendaraannya paling banyak. Yang juga layak diikuti adalah berapa banyak kendaraan yang bertahan memakai BBG setelah tahun pertama, karena tingkat kesetiaan itulah, bukan jumlah pemasangan, yang menunjukkan apakah penghematannya benar benar terasa dalam praktik sehari hari pengemudi.

BagikanLinkedInWhatsAppFacebookEmail
Sirkularium

Sirkularium adalah lembaga thought-leadership dan advisory yang mempercepat transisi sirkular di sampah, air, dan energi, bekerja bersama pemerintah dan institusi publik.

Di energi dan iklim, Sirkularium mendukung penyusunan data dasar emisi, perencanaan energi terbarukan dan penyimpanan, serta kerangka karbon dan kebijakan yang kuat di lapangan.

Artikel terkait

Hamparan tanaman singkong dan sorgum di perkebunan luas di Kalimantan, dengan ahli agronomi mengambil sampel tanah di latar depan dan pabrik pengolahan di kejauhan
Energi & Iklim

BUMN perkebunan Agrinas Palma Nusantara menyampaikan pada 8 Oktober bahwa pihaknya telah memetakan satu juta hektare lahan khusus untuk jagung, sorgum, dan singkong sebagai bahan baku bioetanol, dengan potensi produksi sekitar 5 juta kiloliter per tahun untuk mendukung campuran 20 persen etanol dalam bensin. Rencana ini menggeser pembahasan E20 dari target pencampuran ke kebun, pabrik, dan perizinan yang akan memasoknya.

Oleh Sirkularium Editorial Team, 8 menit baca

Kontainer berisi sel baterai litium ion dimuat ke kapal kargo di pelabuhan kawasan industri Weda Bay, Halmahera Tengah, dengan bangunan industri dan perbukitan hijau di latar belakang
Energi & Iklim

Presiden Prabowo Subianto meluncurkan ekspor perdana baterai kendaraan listrik Indonesia dan 11 proyek hilirisasi senilai US$10,2 miliar di Indonesia Weda Bay Industrial Park. Babak berikutnya bagi kawasan ini adalah memenuhi kebutuhan listrik 7,1 GW dengan lebih banyak tenaga surya dan angin.

Oleh Sirkularium Editorial Team, 8 menit baca

Panel surya atap di sebuah pabrik pulp dan kertas besar di Indonesia, dengan bangunan pengolahan pabrik di latar belakang
Energi & Iklim

Grup pulp dan kertas ini berkomitmen menggunakan 100 persen listrik terbarukan di seluruh operasinya paling lambat pada 2050, berangkat dari bauran energi 2025 di mana sumber terbarukan, terutama black liquor dari pabriknya sendiri, sudah memasok 57,3 persen total penggunaan energi.

Oleh Sirkularium Editorial Team, 8 menit baca

Reaktor dan jaringan pipa pabrik amonia di kompleks Pupuk Kaltim, Bontang, Kalimantan Timur, pada siang hari
Energi & Iklim

Deklarasi bersama dengan pemegang lisensi teknologi asal Swiss, Casale, pada 6 Oktober menegaskan bahwa Ammonia Pabrik-2 di Bontang hasil revamping menurunkan konsumsi energi dari 39,28 menjadi 35,25 MMBTU per ton sekaligus menaikkan produksi 4,18 persen, menghemat sekitar Rp228 miliar dan 110.000 ton CO2 per tahun.

Oleh Sirkularium Editorial Team, 8 menit baca

Unit pemurnian biogas dan kolam limbah tertutup di samping pabrik kelapa sawit di Sumatera Selatan, dengan jaringan pipa gas menuju stasiun meter
Energi & Iklim

PGN memastikan akan membeli dan menyalurkan biometana dari fasilitas baru di Sumatera Selatan yang dikembangkan perusahaan patungan KIS Biofuels dan Toyota Tsusho. Peletakan batu pertama dilakukan pada 5 Oktober, dengan target sekitar 150.000 MMBtu per tahun untuk Toyota Motor Manufacturing Indonesia dan industri lain mulai 2027.

Oleh Sirkularium Editorial Team, 8 menit baca

Deretan panel surya terapung di permukaan waduk yang tenang di Indonesia dengan dinding bendungan dan perbukitan hijau di latar belakang
Energi & Iklim

Pada 5 Oktober, Masyarakat Energi Terbarukan Indonesia (METI) menemui Wakil Ketua MPR Eddy Soeparno dengan 22 rekomendasi untuk RUU EBET dan usulan memanfaatkan 263 bendungan milik negara, dengan potensi PLTS terapung dan PLTA sekitar 23,9 GW, untuk mempercepat program PLTS 100 GWp.

Oleh Sirkularium Editorial Team, 8 menit baca