Lompat ke konten
Sirkularium
Kembali ke Insight
Energi & Iklim

Dua unit bottoming mengubah brine panas bumi yang sudah dipompa menjadi 45 megawatt

Oleh Sirkularium Editorial Team, 8 menit baca

Uap mengepul dari perpipaan pembangkit listrik tenaga panas bumi Indonesia di antara perbukitan berhutan, dengan unit siklus biner dan peralatan pendingin di latar depan

PLN Indonesia Power dan Pertamina Geothermal Energy menandatangani letter of intent pada Indonesia International Geothermal Convention and Exhibition ke-12 yang mencakup Unit Binary Bottoming Ulubelu 30 megawatt di Lampung dan unit 15 megawatt di Lahendong, Sulawesi Utara. Keduanya memanfaatkan sisa panas pada brine yang sudah dibawa ke permukaan oleh pembangkit eksisting, menambah kapasitas tanpa membuka wilayah kerja baru.

Sekilas data
45 MW
Kapasitas gabungan dua unit bottoming
30 MW
Unit Binary Bottoming Ulubelu, Lampung
15 MW
Unit Binary Bottoming Lahendong, Sulawesi Utara
230 MW
Potensi dalam kerangka kerja sama yang lebih luas

PT PLN Indonesia Power dan PT Pertamina Geothermal Energy menandatangani letter of intent mengenai pembelian listrik dari dua proyek panas bumi dengan total 45 megawatt, yang dirampungkan pada Indonesia International Geothermal Convention and Exhibition ke-12 di Jakarta International Convention Center. Pemberitaan menempatkan penandatanganan antara 19 dan 21 Agustus, dan surat tersebut memformalkan ketentuan tarif yang telah disepakati para pihak lebih awal pada 2026.

Kapasitas itu terbagi menjadi dua unit. Unit Binary Bottoming Ulubelu di Lampung mencakup 30 megawatt. Unit Binary Bottoming Lahendong di Sulawesi Utara mencakup sisanya sebesar 15 megawatt. Keduanya berada di lapangan yang sudah berproduksi.

Apa yang sesungguhnya dilakukan teknologi bottoming

Rekayasa di sinilah yang membuat pengumuman ini lebih berarti daripada yang tersirat dari ukurannya.

Pembangkit panas bumi konvensional mengambil fluida panas dari reservoir, memakai uapnya untuk memutar turbin, dan menyisakan brine yang masih membawa panas namun tidak cukup tekanan atau temperatur untuk menjalankan turbin yang sama. Secara historis brine itu dikembalikan ke dalam tanah. Unit binary bottoming mengambil brine tersebut sebelum reinjeksi dan memindahkan panasnya ke fluida kerja sekunder dengan titik didih lebih rendah, yang menguap dan memutar turbin kedua.

Hasilnya adalah listrik tambahan dari fluida yang memang sudah diekstraksi, sudah dipompa, dan sudah ditangani peralatan permukaan yang ada. Tidak diperlukan sumur baru untuk memasoknya. Tidak ada reservoir baru yang dikuras.

Dinyatakan dalam bahasa efisiensi, perubahan ini menaikkan seberapa banyak listrik yang dihasilkan lapangan dari setiap satuan fluida yang diproduksinya. Reservoirnya tidak berubah dan laju ekstraksinya tidak berubah. Yang membaik adalah proporsi panas tersedia yang berakhir sebagai daya, alih alih kembali ke bawah tanah tanpa dimanfaatkan. Ini prinsip yang sama dengan pemulihan panas buang di pabrik industri, diterapkan pada pembangkit listrik dan bukan pada tungku, dan termasuk kategori langkah yang menaikkan keluaran tanpa menaikkan masukan.

Pemanfaatan teknologi bottoming adalah salah satu cara mengoptimalkan sumber daya panas bumi di wilayah kerja yang sudah kita pegang.

Penjelasan itu datang dari Bernadus Sudarmanta, Direktur Utama PLN Indonesia Power, dan menyatakan intinya dengan tepat. Ia menempatkan pekerjaan di Lahendong dan Ulubelu sebagai mengubah potensi yang ada menjadi energi bersih yang andal sekaligus memperkuat kemandirian energi nasional. Ahmad Yani, Direktur PGE, mewakili sisi sumber daya dalam kesepakatan ini.

Kapasitas tanpa wilayah kerja baru

Frasa yang layak diperhatikan dalam bahasa resminya adalah wilayah kerja panas bumi, yang biasa disingkat WKP. Mengamankan WKP baru termasuk langkah paling lambat dalam pengembangan panas bumi di Indonesia. Ia melibatkan risiko eksplorasi, modal pengeboran yang dikeluarkan sebelum ada kepastian sumber daya, perizinan lintas otoritas, serta perundingan dengan masyarakat dan pengguna lahan.

Unit bottoming menghindari semua itu. Sumber dayanya terbukti karena sudah berproduksi. Sumurnya ada. Jalan akses, sambungan transmisi, dan tenaga operasi juga sudah ada. Yang ditambahkan adalah penukar panas, turbin sekunder, dan perangkat penunjang yang menyertainya. Dibandingkan panas bumi lapangan baru, profil risikonya nyaris tidak sebanding.

Karena itu 45 megawatt jenis ini tidak setara dengan 45 megawatt pengembangan lapangan baru. Ia hadir lebih cepat, membawa risiko eksplorasi yang jauh lebih kecil, dan memperbaiki keekonomian aset yang sudah ada di neraca. Letter of intent ini digambarkan sebagai tahap awal dari kerangka yang lebih luas antara PLN Indonesia Power, PT PLN dan PGE, dengan potensi pengembangan mencapai 230 megawatt.

Tahun keseratus panas bumi Indonesia

Waktunya membawa bobot simbolik yang dicatat para pejabat di konvensi tersebut. Panas bumi Indonesia menelusuri asalnya pada pengeboran di Kamojang pada 1926, yang menjadikan 2026 sebagai tahun keseratus. Para pembicara juga menyoroti sifat yang membedakan panas bumi dari energi terbarukan variabel yang mendominasi investasi saat ini, yakni kemampuannya membangkitkan listrik sepanjang waktu.

Bahlil Lahadalia, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, menyampaikan ambisinya secara lugas, bahwa energi panas bumi tidak boleh hanya tersimpan di dalam bumi atau berhenti sebagai angka, melainkan harus menjadi listrik yang memberi manfaat bagi masyarakat, menggerakkan ekonomi dan memperkuat kemandirian energi nasional. Ia mengaitkan realisasinya dengan kolaborasi antara regulator, PLN, pengembang dan pemangku kepentingan lain. Eniya Listiani Dewi, Direktur Jenderal Energi Baru dan Terbarukan, juga termasuk pejabat yang hadir.

Pembingkaian itu layak dicatat karena menunjuk jarak antara perkiraan sumber daya dan kapasitas terpasang, yang selama ini menjadi ciri menetap panas bumi Indonesia. Unit bottoming tidak menutup jarak tersebut sendirian. Namun ia memperlihatkan rute kemajuan yang tidak bergantung pada penyelesaian jarak itu lebih dahulu.

Pembedaan itu penting bagi cara terbaik memaknai satu abad. Seratus tahun pengeboran telah menghasilkan armada operasi yang besar, dan setiap pembangkit di dalamnya dirancang menurut standar zamannya sendiri. Lapangan yang mulai beroperasi puluhan tahun lalu dibangun ketika konversi temperatur rendah belum semapan dan seekonomis sekarang. Meninjau kembali aset tersebut dengan teknologi masa kini adalah latihan yang berbeda dari mencari lapangan baru, dan di situ satu abad rekam jejak operasi menjadi keunggulan, bukan beban warisan.

Pandangan Sirkularium bagi pemerintah dan institusi publik

Tiga hal mengikuti bagi kebijakan dan perencanaan.

Yang pertama, optimalisasi aset eksisting layak mendapat tempat tersendiri dalam perencanaan kapasitas. Target nasional biasanya dinyatakan sebagai kapasitas baru, yang mengarahkan perhatian pada lokasi baru. Padahal keluaran yang dipulihkan dari lapangan produksi hadir lebih cepat dan dengan risiko lebih rendah dibanding setara dari pengembangan lapangan baru. Dokumen perencanaan dan proses pengadaan yang memperlakukan optimalisasi brownfield sebagai kategori tersendiri, dengan pipeline dan targetnya sendiri, akan memunculkan peluang yang saat ini kalah bersaing melawan proyek berukuran besar.

Yang kedua, tarifnya diselesaikan sebelum letter of intent, bukan sesudahnya. Ketentuan komersial yang disepakati lebih awal itulah yang memungkinkan proyek yang secara teknis sederhana bergerak tanpa perundingan berkepanjangan. Bagi institusi publik yang bertindak sebagai pembeli atau regulator, menetapkan perlakuan tarif yang dapat diprediksi bagi kapasitas tambahan di lapangan eksisting akan membuat sekelompok proyek serupa berjalan di atas dasar standar, bukan kasus per kasus.

Yang ketiga, replikasi. Indonesia mengoperasikan banyak lapangan panas bumi yang brine-nya direinjeksikan pada temperatur yang masih menyimpan energi bermanfaat. Jika unit bottoming layak di Ulubelu dan Lahendong, penilaian yang sama patut dijalankan secara sistematis di seluruh armada operasi. Inventarisasi nasional atas panas yang dapat dipulihkan di lapangan produksi akan murah disusun dibandingkan kapasitas yang bisa diidentifikasikannya.

Yang perlu diamati berikutnya adalah konversi letter of intent menjadi perjanjian jual beli listrik yang mengikat, jadwal konstruksi kedua unit, serta apakah kerangka 230 megawatt dipecah menjadi tahapan lanjutan yang mengikuti logika brownfield yang sama.

BagikanLinkedInWhatsAppFacebookEmail
Sirkularium

Sirkularium adalah lembaga thought-leadership dan advisory yang mempercepat transisi sirkular di sampah, air, dan energi, bekerja bersama pemerintah dan institusi publik.

Di energi dan iklim, Sirkularium mendukung penyusunan data dasar emisi, perencanaan energi terbarukan dan penyimpanan, serta kerangka karbon dan kebijakan yang kuat di lapangan.

Artikel terkait

Hamparan tanaman singkong dan sorgum di perkebunan luas di Kalimantan, dengan ahli agronomi mengambil sampel tanah di latar depan dan pabrik pengolahan di kejauhan
Energi & Iklim

BUMN perkebunan Agrinas Palma Nusantara menyampaikan pada 8 Oktober bahwa pihaknya telah memetakan satu juta hektare lahan khusus untuk jagung, sorgum, dan singkong sebagai bahan baku bioetanol, dengan potensi produksi sekitar 5 juta kiloliter per tahun untuk mendukung campuran 20 persen etanol dalam bensin. Rencana ini menggeser pembahasan E20 dari target pencampuran ke kebun, pabrik, dan perizinan yang akan memasoknya.

Oleh Sirkularium Editorial Team, 8 menit baca

Kontainer berisi sel baterai litium ion dimuat ke kapal kargo di pelabuhan kawasan industri Weda Bay, Halmahera Tengah, dengan bangunan industri dan perbukitan hijau di latar belakang
Energi & Iklim

Presiden Prabowo Subianto meluncurkan ekspor perdana baterai kendaraan listrik Indonesia dan 11 proyek hilirisasi senilai US$10,2 miliar di Indonesia Weda Bay Industrial Park. Babak berikutnya bagi kawasan ini adalah memenuhi kebutuhan listrik 7,1 GW dengan lebih banyak tenaga surya dan angin.

Oleh Sirkularium Editorial Team, 8 menit baca

Panel surya atap di sebuah pabrik pulp dan kertas besar di Indonesia, dengan bangunan pengolahan pabrik di latar belakang
Energi & Iklim

Grup pulp dan kertas ini berkomitmen menggunakan 100 persen listrik terbarukan di seluruh operasinya paling lambat pada 2050, berangkat dari bauran energi 2025 di mana sumber terbarukan, terutama black liquor dari pabriknya sendiri, sudah memasok 57,3 persen total penggunaan energi.

Oleh Sirkularium Editorial Team, 8 menit baca

Reaktor dan jaringan pipa pabrik amonia di kompleks Pupuk Kaltim, Bontang, Kalimantan Timur, pada siang hari
Energi & Iklim

Deklarasi bersama dengan pemegang lisensi teknologi asal Swiss, Casale, pada 6 Oktober menegaskan bahwa Ammonia Pabrik-2 di Bontang hasil revamping menurunkan konsumsi energi dari 39,28 menjadi 35,25 MMBTU per ton sekaligus menaikkan produksi 4,18 persen, menghemat sekitar Rp228 miliar dan 110.000 ton CO2 per tahun.

Oleh Sirkularium Editorial Team, 8 menit baca

Unit pemurnian biogas dan kolam limbah tertutup di samping pabrik kelapa sawit di Sumatera Selatan, dengan jaringan pipa gas menuju stasiun meter
Energi & Iklim

PGN memastikan akan membeli dan menyalurkan biometana dari fasilitas baru di Sumatera Selatan yang dikembangkan perusahaan patungan KIS Biofuels dan Toyota Tsusho. Peletakan batu pertama dilakukan pada 5 Oktober, dengan target sekitar 150.000 MMBtu per tahun untuk Toyota Motor Manufacturing Indonesia dan industri lain mulai 2027.

Oleh Sirkularium Editorial Team, 8 menit baca

Deretan panel surya terapung di permukaan waduk yang tenang di Indonesia dengan dinding bendungan dan perbukitan hijau di latar belakang
Energi & Iklim

Pada 5 Oktober, Masyarakat Energi Terbarukan Indonesia (METI) menemui Wakil Ketua MPR Eddy Soeparno dengan 22 rekomendasi untuk RUU EBET dan usulan memanfaatkan 263 bendungan milik negara, dengan potensi PLTS terapung dan PLTA sekitar 23,9 GW, untuk mempercepat program PLTS 100 GWp.

Oleh Sirkularium Editorial Team, 8 menit baca