Program surya 100 gigawatt dimulai di Gilimanuk dengan empat belas lokasi dan 5,3 gigawatt peak
Oleh Sirkularium Editorial Team, 9 menit baca

Presiden Prabowo Subianto meluncurkan program PLTS 100 gigawatt peak di site Gilimanuk, Kabupaten Jembrana, Bali pada 25 Agustus 2026, diawali 14 instalasi di enam provinsi dengan total 5,3 gigawatt peak. Angka pemerintah menempatkan total investasi sekitar USD 73 miliar dan memproyeksikan penghematan subsidi Rp73,9 triliun per tahun bersama penurunan 140 juta ton karbon dioksida.
Presiden Prabowo Subianto meluncurkan program PLTS 100 gigawatt peak pada 25 Agustus 2026 di site PLTS Gilimanuk, Kabupaten Jembrana, Bali. Program ini dibuka dengan 14 instalasi yang tersebar di enam provinsi dengan total 5,3 gigawatt peak, dan pemerintah menetapkan horizon tiga tahun untuk mencapai target penuhnya.
Presiden menyampaikan ambisinya secara lugas. Ia menyatakan pemerintah akan membangun 100 gigawatt, bahwa pemerintah serius, dan bahwa targetnya adalah 100 gigawatt dalam tiga tahun. Sebagai pembanding skala, total kapasitas pembangkitan terpasang Indonesia dari seluruh sumber berada di kisaran 88 gigawatt, yang berarti program sebagaimana dinyatakan akan melipatgandakan armada nasional dengan satu jenis teknologi.
Di mana empat belas lokasi pertama berada
Tahap pembuka terdistribusi sebagai berikut. Jawa Barat memiliki lima instalasi. Jawa Timur memiliki empat. Kepulauan Riau memiliki dua. Jawa Tengah, Bali dan Kepulauan Bangka Belitung masing masing memiliki satu.
Lokasi yang disebutkan pada tahap pertama cukup memberi petunjuk. Di Jawa Barat mencakup Saguling, Purwakarta, Jatiluhur, Cirata dan Jatigede. Jawa Tengah menyumbang Gajah Mungkur. Jawa Timur menyumbang Karangkates, Madura, Pasuruan dan Banyuwangi.
Siapa pun yang mengenal infrastruktur air Indonesia akan mengenali sebagian besar daftar tersebut. Saguling, Jatiluhur, Cirata, Jatigede, Gajah Mungkur dan Karangkates adalah waduk, beberapa di antaranya sudah menampung pembangkit listrik tenaga air.
Pemusatan di Jawa juga layak dicatat. Sembilan dari empat belas lokasi berada di Jawa Barat, Jawa Tengah atau Jawa Timur, yang merupakan tempat permintaan paling berat dan tempat jaringan transmisi paling rapat. Memulai di tempat bebannya sudah ada mengurangi jumlah transmisi baru yang harus dibenarkan tahap pertama. Lokasi sisanya di Bali, Kepulauan Riau dan Bangka Belitung melayani sistem kepulauan, yang pasokan alternatifnya biasanya diesel dan yang keekonomian penggantiannya karena itu lebih kuat.
Waduk mengerjakan bagian yang senyap di sini
Pemilihan lokasi merupakan keputusan rekayasa paling menarik dalam pengumuman ini, dan ia belum mendapat perhatian sebesar angka utamanya.
Waduk yang sudah menopang pembangkit listrik tenaga air datang dengan hal hal yang tidak dimiliki lokasi surya lapangan baru. Lahannya sudah dialokasikan untuk kepentingan publik, sehingga tidak ada persaingan dengan pertanian, permukiman atau pariwisata. Sambungan jaringan sudah ada, dengan ukuran yang disiapkan bagi pembangkit airnya. Jalan akses sudah ada. Tenaga operasi berada di lokasi. Air mendinginkan panel, yang secara moderat memperbaiki keluarannya di iklim tropis, dan naungan panel mengurangi penguapan dari permukaan waduk.
Hasilnya, surya terapung di waduk eksisting menghindari dua kendala yang paling sering memperlambat surya di Indonesia, yakni pembebasan lahan dan akses transmisi. Bahlil Lahadalia, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, menggambarkan penerapannya sebagai memakai beberapa model sekaligus, mencakup rangkaian skala utilitas di tanah, instalasi terapung, sistem atap, dan instalasi di daerah terpencil.
Lahan dan sambungan jaringan adalah dua hal yang memperlambat surya di Indonesia. Waduk yang sudah membangkitkan listrik telah menyelesaikan keduanya sebelum panel pertama tiba.
Alokasi Bali sendiri mengikuti logika yang berbeda. PLN mengembangkan lima klaster surya di provinsi tersebut dengan total 1.000 megawatt peak, ditopang penyimpanan baterai 3.300 megawatt jam, dengan 300 megawatt peak di antaranya berada di Gilimanuk. Komponen penyimpanan yang besar mencerminkan sistem kepulauan yang keluaran suryanya dan permintaan malamnya tidak berimpit.
Apa yang diharapkan dikembalikan program ini
Pemerintah menerbitkan sejumlah proyeksi bersamaan dengan peluncuran.
Total investasi ditempatkan pada kisaran USD 73 miliar, setara lebih dari Rp1.140 triliun. Satu laporan kantor berita menyebut angka dolarnya USD 71,3 miliar terhadap total rupiah yang sama, dan selisih itu layak dicatat ketimbang diselesaikan diam diam, karena besar kemungkinan mencerminkan asumsi nilai tukar yang berbeda.
Penyerapan tenaga kerja diproyeksikan sekitar 5,52 juta lapangan kerja, terurai menjadi 3,465 juta di konstruksi dan 2,053 juta di manufaktur. Pembagian itu penting, karena porsi manufaktur bergantung pada seberapa besar rantai pasok yang dibangun di dalam negeri ketimbang diimpor.
Pada emisi, program ini diproyeksikan memangkas 140 juta ton karbon dioksida per tahun, dengan nilai karbon terkait diperkirakan Rp6,31 triliun setiap tahun. Angka penurunan itu mengandaikan seluruh 100 gigawatt peak terbangun dan beroperasi, sehingga ia menggambarkan program pada saat rampung, bukan sesuatu yang diberikan tahap pertama sendirian.
Sebagian mekanisme di balik angka emisi maupun subsidi adalah penggantian pembangkitan diesel. Pembangkit diesel adalah listrik termahal dalam sistem dan paling intensif emisi per satuan yang disalurkan, dan ia terpusat justru di sistem kepulauan dan terpencil yang disasar program ini. Menggantikannya menghasilkan penghematan per megawatt terpasang yang lebih besar dibanding menggantikan batu bara atau gas yang tersambung jaringan, dan itulah sebabnya proyeksi subsidinya sebesar itu relatif terhadap kapasitas yang terlibat.
Angka dengan relevansi fiskal paling langsung adalah proyeksi penghematan Rp73,9 triliun per tahun pada belanja subsidi. Dibandingkan alokasi subsidi energi Rp272,9 triliun dalam RAPBN 2027, yang Rp130,1 triliun di antaranya untuk listrik, penghematan sebesar itu akan menjadi perubahan berarti pada komitmen berulang, bukan keuntungan sekali jalan.
Pandangan Sirkularium bagi pemerintah dan institusi publik
Tiga pengamatan mengikuti.
Yang pertama menyangkut prinsip pemilihan lokasi. Memilih waduk yang sudah menampung pembangkit adalah logika yang sama dengan yang membuat unit bottoming panas bumi dan surya atap menarik, yakni bahwa memanfaatkan kembali lahan yang sudah dialokasikan dan sambungan jaringan yang sudah ada lebih cepat dan lebih murah daripada mengamankan yang baru. Prinsip ini layak diterapkan secara sistematis ketimbang oportunistis. Inventarisasi nasional atas permukaan waduk yang sesuai bagi surya terapung, diperingkat menurut kapasitas jaringan yang tersedia, akan mengidentifikasi tahap berikutnya sebelum ia dibutuhkan.
Yang kedua menyangkut porsi manufaktur dalam proyeksi lapangan kerja. Angka 2,053 juta pekerjaan manufaktur adalah bagian perkiraan yang paling peka terhadap kebijakan. Ia terwujud hanya jika produksi modul, inverter dan penopang dibangun di dalam negeri pada skala memadai. Ketentuan tingkat komponen dalam negeri, kesiapan kawasan industri dan pelatihan tenaga kerja menentukan apakah porsi itu terealisasi atau apakah program ini terutama menjadi latihan konstruksi dan impor. Institusi publik memiliki pengaruh langsung di sini dan jendela waktu yang sempit untuk menggunakannya.
Yang ketiga menyangkut penyerapan keluarannya. Menambahkan kapasitas sebesar ini ke sistem berukuran sekitar 88 gigawatt menuntut banyak dari transmisi, dari penyimpanan, dan dari fleksibilitas pembangkit termal yang ada. Penyimpanan 3.300 megawatt jam Bali terhadap 1.000 megawatt peak surya menunjukkan para perencana menyadarinya. Rasio yang sama diterapkan secara nasional akan menjadi program penyimpanan yang sangat besar tersendiri, dan akan bijaksana bila perencanaan provinsi dan nasional memperlakukan penyimpanan dan transmisi sebagai komitmen paralel, bukan sebagai pekerjaan lanjutan.
Yang perlu diamati berikutnya adalah kemajuan konstruksi 5,3 gigawatt peak pertama, pengaturan lelang bagi tahap berikutnya, serta apakah kapasitas manufaktur dalam negeri tumbuh seiring pemasangan.
Instalasi tahap pertama menurut provinsi
Values in lokasi
Sumber
- Sekretariat Negara, Presiden Prabowo Luncurkan PLTS 100 GWp, Diawali 14 PLTS Berkapasitas 5,3 GWp
- ANTARA News Bali, Menteri Bahlil: PLTS 100 GWp jadi mesin pertumbuhan ekonomi dengan nilai investasi Rp1.140 T
- detikFinance, Megaproyek PLTS 100 GW Butuh Rp 1.140 T, Kurangi Emisi 140 Juta Ton CO2
- detikFinance, Resmi Meluncur, 14 PLTS Ini Jadi Pembuka Megaproyek 100 GW
- detikFinance, Proyek PLTS 100 GWp Dimulai Hari Ini, Negara Bidik Hemat Rp 74 T/Tahun






