Lompat ke konten
Sirkularium
Kembali ke Insight
Energi & Iklim

Perjanjian serapan lima belas tahun mengubah limbah cair pabrik sawit menjadi gas jaringan untuk industri

Oleh Sirkularium Editorial Team, 9 menit baca

Instalasi digester anaerob dan penangkapan gas di samping kolam limbah cair pabrik kelapa sawit Indonesia, dengan perpipaan menuju unit kompresi dan injeksi

PT reNIKOLA Primer Energi dan PT Pertagas Niaga menandatangani perjanjian jual beli biometana terkompresi berjangka lima belas tahun pada 19 Agustus 2026, yang menghimpun gas terbarukan dari delapan pabrik kelapa sawit PTPN IV di Sumatera Utara. Klaster senilai USD 40 juta itu diperkirakan mengalirkan lebih dari 830.000 MMBtu per tahun ke jaringan gas yang sudah ada melalui stasiun injeksi biometana khusus pertama di Indonesia.

Sekilas data
830.000 MMBtu
Produksi tahunan pada kapasitas penuh
320.000 tCO2e
Emisi yang dihindari per tahun
USD 40 juta
Investasi klaster delapan pabrik
15 tahun
Jangka waktu perjanjian serapan

PT reNIKOLA Primer Energi dan PT Pertagas Niaga menandatangani perjanjian jual beli gas biometana terkompresi berjangka lima belas tahun pada 19 Agustus 2026, yang membangun landasan komersial bagi apa yang kedua pihak sebut sebagai ekosistem biometana pertama di Indonesia yang tersambung ke jaringan gas nasional. Gas tersebut berasal dari limbah cair pabrik kelapa sawit di delapan pabrik milik PT Perkebunan Nusantara IV di Sumatera Utara.

Strukturnya perlu diuraikan dengan jelas. PT reNIKOLA Primer Energi, yang dikenal sebagai PT RPE, adalah anak perusahaan Indonesia dari pengembang energi terbarukan Malaysia reNIKOLA Holdings Sdn Bhd, dan berperan memproduksi gas. PT Pertagas Niaga, anak perusahaan PT Pertamina Gas, membelinya selama lima belas tahun dan menyalurkannya kepada konsumen industri. PTPN IV memasok bahan baku dari pabrik yang sudah dioperasikannya. Investasi klaster delapan fasilitas itu disebut USD 40 juta, dengan keluaran pada kapasitas penuh diperkirakan melampaui 830.000 MMBtu per tahun.

Mengapa stasiun injeksi adalah bagian yang menentukan

Unsur yang membedakan proyek ini dari pekerjaan biogas sebelumnya adalah infrastruktur, bukan kimianya. Pertagas akan membangun stasiun injeksi biometana khusus pertama di Indonesia di sekitar Kawasan Ekonomi Khusus Sei Mangkei. Stasiun itu menjadi titik sambung antara produksi dan jaringan distribusi gas bumi yang sudah ada.

Konsekuensinya, gas terbarukan menjangkau konsumen industri tanpa ada pihak yang harus membangun sistem distribusi paralel. Proyek biogas di pabrik sawit selama ini bersifat tertutup, melayani pabriknya sendiri atau beban di dekatnya, dengan surplus yang terbatas karena ketiadaan jalur ke pasar. Titik injeksi mengubah sekumpulan instalasi yang terisolasi menjadi pasokan yang dapat dibeli konsumen industri mana pun yang tersambung.

Dengan mempertemukan pemasok bahan baku, penyedia infrastruktur gas dan permintaan pasar jangka panjang, kami membangun ekosistem biometana yang dapat diskalakan.

Rumusan tersebut, dari Dr Amran Yusof, Chief Executive Officer dan Direktur PT RPE, menunjuk tiga bagian yang selama ini kerap absen secara bersamaan ketimbang satu per satu. Toto Yulianto, Direktur Utama PT Pertagas Niaga, menggambarkan kolaborasi ini dengan nada serupa, yakni menciptakan jalur bagi biometana untuk diintegrasikan ke dalam jaringan gas yang sudah ada dan sudah menjangkau industri. Jatmiko, Direktur Utama PTPN IV, mewakili sisi bahan baku dalam kesepakatan ini.

Logika sirkular limbah cair pabrik sawit

Limbah cair pabrik kelapa sawit, yang di sektor ini dikenal sebagai POME, adalah residu cair dari proses pengolahan. Bila dibiarkan di kolam terbuka, ia terurai secara anaerob dan melepaskan metana, gas dengan efek pemanasan jangka pendek yang jauh lebih besar daripada karbon dioksida. Menangkap metana tersebut dan meningkatkan mutunya hingga kualitas pipa menangani emisi yang jika tidak akan tetap terjadi, sekaligus menghasilkan bahan bakar yang dapat dijual dari tindakan yang sama.

Efek yang diproyeksikan adalah 320.000 ton setara karbon dioksida yang dihindari setiap tahun. Sumber menyatakan kuantitas yang sama dengan cara kedua, yakni setara dengan tidak membakar sekitar 161 juta kilogram batu bara per tahun. Kedua pembingkaian itu menggambarkan satu hasil. Residu yang sebelumnya merupakan kewajiban pembuangan berubah menjadi masukan energi, dan emisi yang menyertai pembuangan tersebut tidak terjadi.

Inilah argumen ekonomi sirkular dalam bentuknya yang paling dapat diuji. Materialnya memang sudah dihasilkan. Infrastruktur untuk memindahkan produknya sebagian besar sudah ada. Yang belum ada adalah pembeli yang bersedia berkomitmen cukup lama untuk membenarkan modal, dan itulah persisnya yang diberikan perjanjian serapan lima belas tahun. Pengembangan ini juga diperkirakan menciptakan ratusan lapangan kerja di kawasan tersebut.

Perlu dicatat pula bahwa gas yang dihasilkan menggantikan gas bumi pada titik pemakaian industri, bukan menambah pasokan di atasnya. Konsumen industri yang tersambung ke jaringan distribusi Sei Mangkei menerima molekul dengan spesifikasi yang sama dan melalui pipa yang sama, sehingga tidak diperlukan penyesuaian pada peralatan pembakaran di sisi pengguna. Karakteristik itu penting bagi industri yang terikat pada proses termal dengan toleransi sempit, seperti pengolahan makanan, tekstil dan kimia, yang selama ini paling sulit didekarbonisasi karena panas prosesnya tidak mudah dielektrifikasi.

Dari nota kesepahaman menuju komitmen mengikat

Perjanjian ini tidak datang tanpa preseden. Pada Juni 2025 reNIKOLA dan Pertagas menandatangani nota kesepahaman mengenai pengembangan biogas terpadu di Sumatera dan Kalimantan, mencakup produksi, pemurnian dan distribusi, dengan niat yang dinyatakan untuk tersambung ke jaringan gas nasional.

Pada tahap itu kedua pihak menyebut hambatannya secara terbuka. Mengamankan pasokan bahan baku limbah yang stabil adalah satu hal. Mengelola sumber limbah yang tersebar adalah hal lain. Gamal Imam Santoso, Direktur Utama Pertagas, saat itu menyatakan kemitraan tersebut dapat menjadi model bagi upaya energi terbarukan yang lebih luas di Indonesia.

Jarak antara nota kesepahaman itu dan perjanjian Agustus 2026 adalah jarak antara niat dan kelayakan pendanaan. Menghimpun delapan pabrik dalam satu skema pasokan merupakan jawaban langsung atas persoalan penyebaran. Komitmen lima belas tahun dari anak perusahaan Pertamina Gas merupakan jawaban langsung atas persoalan serapan. Urutan ini sendiri memberi pelajaran, karena memperlihatkan apa yang harus diselesaikan sebelum modal dapat masuk.

Pandangan Sirkularium bagi pemerintah dan institusi publik

Tiga pengamatan mengikuti bagi kebijakan dan implementasi.

Yang pertama menyangkut agregasi sebagai prinsip desain. Satu pabrik kelapa sawit jarang menghasilkan gas yang cukup untuk membenarkan sambungan jaringan sendirian. Delapan pabrik dalam satu struktur komersial dapat melakukannya. Indonesia memiliki sekitar tiga ribu pabrik kelapa sawit, sebagian besar secara individual terlalu kecil untuk berarti bagi jaringan gas dan secara kolektif signifikan. Kebijakan yang mendorong pengklasteran, baik melalui perlakuan perizinan, perencanaan infrastruktur bersama maupun standar sambungan yang ditulis untuk pasokan teragregasi, menjawab alasan struktural mengapa sumber daya ini tetap kurang dimanfaatkan.

Yang kedua menyangkut nilai infrastruktur yang sudah ada. Dekarbonisasi yang paling efisien kerap adalah jenis yang memanfaatkan kembali aset yang sudah tertanam. Jaringan gas yang dibangun untuk pasokan fosil dapat mengalirkan gas terbarukan dengan satu titik injeksi dan satu spesifikasi. Institusi publik yang menilai ke mana modal terbatas diarahkan sebaiknya menimbang investasi injeksi dan interkoneksi terhadap pembangunan baru, karena yang pertama dapat membuat volume pasokan yang jauh lebih besar, yang selama ini terhenti, menjadi terjangkau secara komersial.

Yang ketiga menyangkut jangka waktu kontrak sebagai instrumen. Tenor lima belas tahun adalah yang mengubah proyek yang layak secara teknis menjadi layak dibiayai. Ketika entitas publik menjadi pihak dalam kontrak, baik sebagai pembeli, sebagai pemilik lahan, maupun sebagai pemasok bahan baku melalui perkebunan negara, durasi dan kredibilitas komitmen yang mereka tawarkan termasuk perangkat paling kuat yang tersedia bagi mereka, dan itu tidak memerlukan modal.

Yang perlu diamati berikutnya adalah lini masa konstruksi stasiun injeksi Sei Mangkei, apakah model klaster ini direplikasi di provinsi perkebunan lain termasuk Riau dan Kalimantan, serta apakah pengaturan spesifikasi dan tarif untuk menginjeksikan gas terbarukan dikodifikasikan sedemikian rupa sehingga proyek berikutnya dapat bersandar padanya tanpa merundingkan setiap kasus dari awal.

BagikanLinkedInWhatsAppFacebookEmail
Sirkularium

Sirkularium adalah lembaga thought-leadership dan advisory yang mempercepat transisi sirkular di sampah, air, dan energi, bekerja bersama pemerintah dan institusi publik.

Di energi dan iklim, Sirkularium mendukung penyusunan data dasar emisi, perencanaan energi terbarukan dan penyimpanan, serta kerangka karbon dan kebijakan yang kuat di lapangan.

Artikel terkait

Hamparan tanaman singkong dan sorgum di perkebunan luas di Kalimantan, dengan ahli agronomi mengambil sampel tanah di latar depan dan pabrik pengolahan di kejauhan
Energi & Iklim

BUMN perkebunan Agrinas Palma Nusantara menyampaikan pada 8 Oktober bahwa pihaknya telah memetakan satu juta hektare lahan khusus untuk jagung, sorgum, dan singkong sebagai bahan baku bioetanol, dengan potensi produksi sekitar 5 juta kiloliter per tahun untuk mendukung campuran 20 persen etanol dalam bensin. Rencana ini menggeser pembahasan E20 dari target pencampuran ke kebun, pabrik, dan perizinan yang akan memasoknya.

Oleh Sirkularium Editorial Team, 8 menit baca

Kontainer berisi sel baterai litium ion dimuat ke kapal kargo di pelabuhan kawasan industri Weda Bay, Halmahera Tengah, dengan bangunan industri dan perbukitan hijau di latar belakang
Energi & Iklim

Presiden Prabowo Subianto meluncurkan ekspor perdana baterai kendaraan listrik Indonesia dan 11 proyek hilirisasi senilai US$10,2 miliar di Indonesia Weda Bay Industrial Park. Babak berikutnya bagi kawasan ini adalah memenuhi kebutuhan listrik 7,1 GW dengan lebih banyak tenaga surya dan angin.

Oleh Sirkularium Editorial Team, 8 menit baca

Panel surya atap di sebuah pabrik pulp dan kertas besar di Indonesia, dengan bangunan pengolahan pabrik di latar belakang
Energi & Iklim

Grup pulp dan kertas ini berkomitmen menggunakan 100 persen listrik terbarukan di seluruh operasinya paling lambat pada 2050, berangkat dari bauran energi 2025 di mana sumber terbarukan, terutama black liquor dari pabriknya sendiri, sudah memasok 57,3 persen total penggunaan energi.

Oleh Sirkularium Editorial Team, 8 menit baca

Reaktor dan jaringan pipa pabrik amonia di kompleks Pupuk Kaltim, Bontang, Kalimantan Timur, pada siang hari
Energi & Iklim

Deklarasi bersama dengan pemegang lisensi teknologi asal Swiss, Casale, pada 6 Oktober menegaskan bahwa Ammonia Pabrik-2 di Bontang hasil revamping menurunkan konsumsi energi dari 39,28 menjadi 35,25 MMBTU per ton sekaligus menaikkan produksi 4,18 persen, menghemat sekitar Rp228 miliar dan 110.000 ton CO2 per tahun.

Oleh Sirkularium Editorial Team, 8 menit baca

Unit pemurnian biogas dan kolam limbah tertutup di samping pabrik kelapa sawit di Sumatera Selatan, dengan jaringan pipa gas menuju stasiun meter
Energi & Iklim

PGN memastikan akan membeli dan menyalurkan biometana dari fasilitas baru di Sumatera Selatan yang dikembangkan perusahaan patungan KIS Biofuels dan Toyota Tsusho. Peletakan batu pertama dilakukan pada 5 Oktober, dengan target sekitar 150.000 MMBtu per tahun untuk Toyota Motor Manufacturing Indonesia dan industri lain mulai 2027.

Oleh Sirkularium Editorial Team, 8 menit baca

Deretan panel surya terapung di permukaan waduk yang tenang di Indonesia dengan dinding bendungan dan perbukitan hijau di latar belakang
Energi & Iklim

Pada 5 Oktober, Masyarakat Energi Terbarukan Indonesia (METI) menemui Wakil Ketua MPR Eddy Soeparno dengan 22 rekomendasi untuk RUU EBET dan usulan memanfaatkan 263 bendungan milik negara, dengan potensi PLTS terapung dan PLTA sekitar 23,9 GW, untuk mempercepat program PLTS 100 GWp.

Oleh Sirkularium Editorial Team, 8 menit baca