Semarang kendalikan kebakaran TPA Jatibarang saat kota bersiap menuju pengolahan sampah menjadi energi 1.000 ton
Oleh Sirkularium Editorial Team, 8 menit baca

Dinas Pemadam Kebakaran Kota Semarang mengerahkan sekitar 50 personel untuk mengendalikan kebakaran yang dipicu gas metana di zona aktif TPA Jatibarang pada 30 September. Kota ini memperlakukan rangkaian kejadian musim kemarau sebagai masa jembatan menuju PSEL Semarang Raya, fasilitas pengolahan sampah menjadi energi listrik berkapasitas 1.000 ton per hari yang ditargetkan groundbreaking pada Desember 2026.
Pada Rabu malam, 30 September 2026, kebakaran terjadi di zona pembuangan aktif TPA Jatibarang, tempat pemrosesan akhir yang melayani Kota Semarang di Kecamatan Mijen. Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kota Semarang mengerahkan sekitar 50 personel dan tujuh mobil pemadam, didukung truk tangki air dan instansi mitra, serta sejak awal beralih ke strategi penyekatan yang sesuai untuk TPA dengan kandungan gas metana tinggi. Ini adalah kebakaran ketiga di lokasi tersebut dalam kurang dari dua minggu, setelah kejadian pada 18 dan 28 September.
Respons ini penting, dan begitu pula konteksnya. Semarang berjarak sekitar dua tahun dari jawaban struktural atas tekanan di Jatibarang. PSEL Semarang Raya, fasilitas pengolahan sampah menjadi energi listrik yang dirancang mengolah 1.000 ton per hari dari Kota Semarang dan Kabupaten Kendal, ditargetkan groundbreaking pada Desember 2026 dan beroperasi pada akhir 2028. Kota ini kini mengelola sebuah masa jembatan, dan cara kota mengelola masa jembatan tersebut memberi pelajaran berharga bagi kota lain di Indonesia yang menempuh jalur serupa.
Apa yang terjadi dalam tiga malam
Laporan menyebut kebakaran 30 September bermula sekitar pukul 18.04 WIB di zona 1, lalu merembet ke zona 2 dan 3. Tantri Pradono, Kepala Bidang Operasi dan Penyelamatan Dinas Pemadam Kebakaran Kota Semarang, menyampaikan kepada detikNews bahwa pemadaman langsung tidak dapat dilakukan karena kadar gas metana dalam tumpukan sampah tinggi, sehingga petugas memusatkan upaya pada penyekatan area yang terbakar. Sih Rianung, Kepala Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kota Semarang, menyampaikan kepada ANTARA bahwa prioritasnya adalah melokalisasi api agar tidak meluas. Dukungan datang dari PDAM, Palang Merah Indonesia, Dinas Lingkungan Hidup kota, dan kelompok relawan.
Perkiraan luas area terdampak berbeda antarmedia, hal yang wajar untuk kebakaran yang masih dalam penanganan pada malam hari. ANTARA melaporkan sekitar 10 hektare di zona 1, 2 dan 3. Jatengnews menyebut sekitar 8,43 hektare untuk zona 1 dan 2 serta sekitar 3,8 hektare untuk zona 3, yang jika dijumlahkan sedikit lebih besar. Sirkularium mencantumkan keduanya dan menantikan kajian pascakejadian dari pemerintah kota untuk memastikan angkanya.
Dua malam sebelumnya, pada 28 September, kebakaran dilaporkan sekitar pukul 22.10 WIB di zona 3, yang oleh Muhammad Ariawan, Kepala UPTD TPA Jatibarang, disebut kepada iNews sebagai kawasan pembuangan pasif. Angin kencang dan material kering membuat api cepat meluas. Sumber kembali berbeda soal skala: detikJateng melaporkan sekitar 1.000 meter persegi, sedangkan iNews menyebut lebih dari satu hektare. Yang konsisten adalah hasilnya. Petugas menggunakan alat berat untuk membuka titik api tersembunyi di bawah tumpukan sampah, menyemprotnya secara langsung, dan menuntaskan pendinginan pada siang hari 29 September sebelum menarik personel. Tidak ada korban jiwa yang dilaporkan.
Kejadian paling awal, pada 18 September, melanda dua hingga tiga hektare di bagian lama TPA Jatibarang yang sudah ditutup, tempat sampah kering berusia puluhan tahun menjadi bahan bakar. Ekuatorial melaporkan sepuluh armada pemadam, satu truk tangki PDAM, dan Palang Merah Indonesia berhasil mengendalikan api di permukaan dalam waktu sekitar dua jam.
Mengapa gas metana mengubah cara pemadaman
Kebakaran TPA berperilaku berbeda dari kebakaran bangunan atau lahan rumput. Bahan organik yang terurai tanpa oksigen menghasilkan gas metana, yang terkumpul dalam kantong di bawah timbunan sampah. Ketika api permukaan mencapai kantong tersebut, api dapat membakar hingga ke dalam dan muncul kembali setelah nyala yang terlihat padam. Menyiram permukaan dengan air hanya sedikit menjangkau sumbernya.
Inilah alasan petugas Semarang menerapkan metode yang terarah. Listiyono, Kepala Seksi Penyelamatan Dinas Pemadam Kebakaran Kota Semarang, menjelaskan kepada Ekuatorial pada September bahwa tim tidak menggunakan pendekatan menyerang untuk kebakaran sampah, melainkan bekerja titik demi titik. Pada 28 dan 29 September, hal ini berarti alat berat membuka tumpukan agar bara tersembunyi dapat dijangkau. Pada 30 September, hal ini berarti membuat sekat api di sekitar area yang terbakar alih-alih mencoba membanjiri zona yang kaya gas metana.
Gas metana adalah bahaya di Jatibarang sekaligus sumber daya yang pernah coba dimanfaatkan kota. Masa jembatan hingga 2028 adalah tentang mengelola bahaya itu sambil membangun sistem yang mampu mengubah sampah menjadi nilai.
Wali Kota Agustina Wilujeng Pramestuti menanggapi hal ini secara langsung pada 30 September. Ia menyampaikan bahwa lapisan bawah timbunan mengandung gas metana yang menjadi sangat berbahaya pada musim kemarau dengan angin kencang, dan mencatat bahwa api berwarna biru pada kejadian sebelumnya di 2024 dan 2025 menandakan keberadaannya. Menurut Radar Semarang, pemerintah kota akan menyiagakan petugas pemadam kebakaran di Jatibarang agar dapat merespons lebih cepat jika api kembali muncul.
Angka di balik tekanan
Jatibarang menerima aliran sampah yang besar dan stabil. Data Dinas Lingkungan Hidup Kota Semarang yang dilaporkan Disway menunjukkan rata-rata 935,38 ton per hari masuk ke lokasi dalam tiga minggu sebelum libur sekolah 2026, lalu turun menjadi 865,78 ton per hari selama masa libur 22 Juni hingga 13 Juli, berkurang sekitar 69,59 ton per hari. Glory Nasarani, Kepala Dinas Lingkungan Hidup kota, menyebut penurunan ini terutama karena berkurangnya sisa makanan dan sampah dapur rumah tangga, yang merupakan aliran terbesar yang masuk ke lokasi. Sebelumnya pada tahun ini, saat Lebaran, sampah harian yang masuk mencapai 1.080 hingga 1.090 ton pada 18 hingga 20 Maret.
Penurunan musiman ini sendiri memberi pelajaran. Ketika timbulan sampah organik berkurang, beban TPA ikut berkurang. Hal ini menunjukkan pengelolaan sampah organik di sumber, melalui pengomposan, budi daya maggot, dan fasilitas TPS3R, sebagai tuas praktis yang dapat dijalankan kota sekarang, sejalan dengan pembangunan fasilitas besar.
Nasarani secara terbuka menyampaikan bahwa rekayasa TPA saat ini hanya memperpanjang umur Jatibarang untuk sementara. Wali kota menyampaikan kenyataan yang sama pada 30 September, dengan mengatakan kota akan menanggung beban sampah hingga 2028, saat fasilitas pengolahan baru selesai dibangun.
PSEL Semarang Raya dan jembatan menuju 2028
Rencana jangka panjang sudah cukup maju. Dalam pertemuan pada 8 September, Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi menyampaikan bahwa groundbreaking dapat dilakukan dalam sekitar empat bulan. Fadli Rahman, CEO PT Daya Energi Bersih Nusantara (Denera) sekaligus Direktur Investasi Danantara Investment Management, menetapkan target Desember 2026, dengan pengolahan sampah berjalan pada akhir 2028 dan masa operasi 30 tahun. Fasilitas ini akan berdiri di atas lahan 6 hektare yang disiapkan pemerintah kota di kawasan Jatibarang dan akan melayani Kota Semarang dan Kabupaten Kendal bersama sama, sebuah pengaturan regional yang membagi pasokan sampah sekaligus manfaatnya.
Minat investor pun kuat. Pada Juni, Pemerintah Kota Semarang melaporkan bahwa 85 investor dari berbagai negara menyatakan minat pada PSEL Jatibarang, dengan nilai investasi sekitar Rp3 triliun, dan sejumlah perusahaan melakukan kunjungan langsung ke lokasi. Dinas Lingkungan Hidup menyebut respons market sounding sangat positif.
Wali kota juga memaparkan langkah pelengkap untuk sampah lama yang sudah ada. Kota berencana menggunakan pirolisis untuk mengurangi timbunan lama secara bertahap sekaligus mencegah penumpukan lebih lanjut. Ia mencatat bahwa inisiatif sebelumnya untuk memanfaatkan gas metana Jatibarang sebagai listrik, yang dikembangkan bersama mitra, tidak memenuhi standar teknis operator jaringan ketika sampai di PLN. Pengalaman ini bermanfaat. Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa proyek penangkapan gas berhasil ketika kualitas bahan bakar dan spesifikasi jaringan dirancang bersama sejak awal, persis jenis integrasi yang dapat disediakan oleh PSEL berskala besar dengan skema offtake yang jelas.
Gambaran di tingkat provinsi juga mendukung. Jawa Tengah menetapkan target nol sampah pada 2029, memiliki sekitar 2.000 program pengelolaan sampah tingkat desa, menjalankan skema refuse-derived fuel di Cilacap, Banyumas, dan Magelang, serta sudah memiliki fasilitas pengolahan sampah menjadi energi yang beroperasi di Putri Cempo, Surakarta. Semarang bergabung dalam sebuah sistem regional, bukan membangun sendirian.
Pandangan Sirkularium
Bagi pemerintah dan lembaga publik, rangkaian peristiwa di Jatibarang membawa tiga pelajaran praktis.
Pertama, kesiapsiagaan kebakaran TPA kini merupakan fungsi operasional tetap, bukan fungsi darurat. Keputusan Semarang untuk menyiagakan petugas di lokasi, menggunakan alat berat untuk menjangkau bara tersembunyi, dan beralih lebih awal ke penyekatan mencerminkan pola kerja yang semakin matang. Kota dengan TPA besar yang kaya gas metana dapat mengadopsi protokol yang sama sebelum musim kemarau, termasuk kesepakatan pasokan air dengan PDAM yang disiapkan lebih awal dan stok tanah penutup untuk memadamkan titik panas. Pembahasan nasional tentang kewajiban peralatan pemadam kebakaran di TPA memberi kebijakan ini tempat berpijak.
Kedua, masa jembatan layak memiliki rencananya sendiri. Antara hari ini dan pembakaran pertama sebuah PSEL, alat paling efektif adalah yang mengurangi sampah yang sampai ke TPA, terutama sampah organik. Data Semarang sendiri menunjukkan sampah harian yang masuk turun hampir 70 ton ketika sisa makanan rumah tangga berkurang. Memperbesar kapasitas TPS3R, pengomposan rumah tangga, dan bank sampah di lingkungan dengan timbulan terbesar akan menurunkan risiko kebakaran sekaligus beban gas metana selama fasilitas dibangun.
Ketiga, gas metana sebaiknya dirancang sebagai sumber daya. Upaya gas menjadi listrik sebelumnya di Jatibarang adalah pelajaran tentang spesifikasi, bukan alasan untuk meninggalkan gagasannya. Penangkapan gas TPA di sel yang sudah ditutup, dipadukan dengan fasilitas baru, dapat menurunkan risiko kebakaran dan menghasilkan nilai, dengan catatan standar pengolahan gas disepakati bersama PLN sebelum investasi dilakukan.
Yang perlu dicermati berikutnya: kajian pascakejadian pemerintah kota atas kebakaran 30 September, pengadaan formal dan financial close PSEL Semarang Raya menjelang target groundbreaking Desember, dimulainya program pirolisis untuk sampah lama, serta kesepakatan pasokan sampah antara Semarang dan Kendal. Jika semua ini berjalan sesuai jadwal, Jatibarang dapat menjadi model tentang cara sebuah kota di Indonesia beralih dari satu TPA yang terbebani menuju sistem pengelolaan sampah terpadu yang menghasilkan energi.
Sumber
- ANTARA News, kebakaran di TPA Jatibarang Semarang (30 September 2026)
- detikNews, kebakaran TPA Jatibarang dan kandungan gas metana tinggi (30 September 2026)
- Jatengnews, kebakaran di zona 1, 2 dan 3 beserta data luasan (30 September 2026)
- detikJateng, kebakaran zona 3 padam dan selesai didinginkan (29 September 2026)
- iNews, UPTD TPA Jatibarang tentang kebakaran zona 3 (29 September 2026)
- Beritajateng, Wali Kota Semarang tentang akumulasi gas metana dan pirolisis (30 September 2026)
- Mata Semarang, Wali Kota Semarang tentang upaya pemanfaatan gas metana sebelumnya (30 September 2026)
- Ekuatorial, kebakaran di zona lama TPA Jatibarang (19 September 2026)
- Jatengnews, PSEL Semarang Raya ditargetkan groundbreaking Desember 2026 (8 September 2026)
- ANTARA News, PSEL Jatibarang diminati 85 investor (4 Juni 2026)
- Disway Jateng, sampah harian yang masuk ke TPA Jatibarang selama libur sekolah (18 Juli 2026)
- Radar Semarang, Wali Kota Agustina akan menyiagakan petugas damkar di TPA Jatibarang (29 September 2026)
- Halo Semarang, TPA Jatibarang nyaris penuh, DLH percepat proyek sampah jadi energi (5 April 2026)






