Enam instansi dan 26 sortie helikopter menahan laju api di TPA Putri Cempo
Oleh Sirkularium Editorial Team, 8 menit baca

Kebakaran yang bermula di Blok D TPA Putri Cempo Solo pada malam 2 September 2026 menjalar ke tiga blok sebelum respons gabungan 151 personel, 15 unit pemadam dan 26 kali penyiraman dari udara membawa penanganan ke 40 persen pada pagi hari ketiga. BNPB mencatat tidak ada korban jiwa, dan kota menjaga 400 ton sampah per hari tetap bergerak dengan jadwal pengangkutan terbatas.
Api yang bermula di Blok D
Pada malam Rabu 2 September 2026, api muncul di Blok D TPA Putri Cempo, tempat pemrosesan akhir milik kota di Kelurahan Mojosongo, Kecamatan Jebres, Solo. Api menjalar ke Blok B lalu ke Blok C.
Keesokan harinya, Wali Kota Respati Ardi menetapkan status tanggap darurat selama 14 hari. BNPB memastikan pada 3 September bahwa tidak ada korban jiwa.
Luas area terdampak dilaporkan berbeda antar sumber. Taksiran awal pada 3 September menyebut sekitar 2,17 hektare terbakar. RRI Surakarta, yang melaporkan pada malam yang sama, menggambarkan sekitar 6 hektare di tiga blok tersebut. Selisihnya cukup lebar untuk dinyatakan alih-alih didamaikan, dan selisih itu mencerminkan betapa sulitnya menaksir luas pada kebakaran TPA yang masih aktif, tempat bara dan nyala api tidak berbagi batas yang sama.
RRI melaporkan pemicunya adalah gas metana. Itu penyebab yang lazim di TPA Indonesia yang menampung material organik dalam volume besar dan sedang terurai, dan itulah rincian yang menghubungkan kejadian ini dengan kebijakan nasional alih-alih meninggalkannya sebagai kecelakaan lokal.
Apa yang dikerahkan dalam respons
Pada Kamis 3 September, 15 unit pemadam dan 151 personel gabungan bekerja di lokasi, berasal dari dinas pemadam kebakaran, BPBD, dinas lingkungan hidup, TNI, Polri dan relawan. BPBD Klaten mengirim mobil tangki air dan personel melintasi batas daerah sampai Kamis pagi, bentuk bantuan timbal balik yang tidak terjadi dengan sendirinya dan biasanya mencerminkan kesepakatan yang dibuat sebelum kejadian, bukan saat kejadian.
Pada Jumat 4 September respons menambahkan komponen udara. Satu helikopter melakukan 26 sortie, mengambil air dari Bengawan Solo dan menjatuhkan sekitar 9.000 liter setiap kali, total sekitar 234.000 liter, selama kurang lebih dua jam sejak pukul 10.00 WIB. Setiap siklus penjatuhan memerlukan sekitar lima menit. Dukungan datang dari Polresta Surakarta dan Sat Brimob Polda Jawa Tengah.
AKP Lingga Ramadhani dari Polresta Surakarta menggambarkan upaya dari udara itu terpusat di sisi timur, tempat asap masih mengepul. Operasi darat dihentikan sementara selama penjatuhan air berlangsung, langkah pengamanan yang standar dan perlu, yang juga memperlambat tempo keseluruhan.
Pada Jumat pagi dinas pemadam melaporkan kemajuan yang terukur.
Alhamdulillah sampai pagi ini progres ada 40 persen peningkatan untuk penanganan pemadaman.
Itu Indradi, Kepala Dinas Pemadam Kebakaran Solo. Ia dan jajarannya menyebut kendalanya secara terbuka: karakteristik material yang menumpuk, cuaca yang berubah, arah angin yang bergeser, serta akses yang sulit di sisi timur Blok C. Jalan pendekat yang sempit menjadi persoalan yang berulang bagi para petugas.
Proses pendinginan, yang berarti menyuntikkan air ke dalam timbunan sampah alih-alih hanya membasahi permukaannya, diperkirakan memerlukan sekitar satu pekan setelah api yang terlihat padam. Pembedaan itu penting bagi siapa pun yang membaca angka progres. Kebakaran TPA belum selesai ketika asapnya berhenti.
Menjaga 400 ton per hari tetap bergerak
Solo menghasilkan sekitar 400 ton sampah per hari, dan jumlah itu tidak berhenti karena TPA-nya terbakar. Tanggapan kota atas hal ini adalah bagian operasional dari cerita ini, dan bagian yang paling dapat dialihkan ke tempat lain.
Jalan akses diprioritaskan untuk kendaraan pemadam, yang berarti pembuangan harus dijatah. Dinas lingkungan hidup, yang dipimpin Herwin Tri Nugroho, membatasi akses hanya untuk truk ringan L-300 dan melarang kendaraan sampah roda tiga. Pada 4 dan 5 September, layanan berjalan pukul 14.00 sampai 17.00 WIB dengan satu rit yang diizinkan per kelurahan. Sampah dibuang di belakang area pabrik alih-alih di jembatan timbang.
Untuk 6 sampai 8 September jadwalnya diperhalus lagi, dengan kendaraan pelat merah dilayani pukul 08.00 sampai 12.00 dan kendaraan umum pukul 13.00 sampai 17.00. Antrean truk tetap terbentuk di sepanjang jalan pendekat.
Sekretaris Daerah Budi Murtono menggambarkan pendekatannya sebagai menampung apa yang masih dapat diterima sembari menjaga volumenya di bawah hari biasa. Kantor kelurahan diminta menahan sementara pengiriman sambil kondisi dipantau.
Menerbitkan jadwal pembuangan harian selama keadaan darurat, dengan jenis kendaraan dan jendela waktu yang ditetapkan, adalah tindakan administratif kecil yang mencegah kegagalan kedua. Tanpa itu, truk berdatangan lalu menunggu, jalan akses tersumbat, dan respons pemadaman itu sendiri melambat. Solo menerbitkan jadwalnya melalui kanal dinas lingkungan hidupnya sendiri dan merevisinya seiring keadaan berubah.
Pembatasan itu memang berdampak tidak merata. Pemulung yang bekerja di lokasi mendatangi Balai Kota terkait pembatasan material yang masuk, pengingat bahwa langkah darurat di sebuah TPA memutus mata pencaharian sekaligus logistik, dan bahwa rencana respons menjadi lebih lengkap bila mengantisipasi hal itu.
Metana adalah penyebabnya, dan itulah bagian yang dapat diperbaiki
Arti penting kebakaran ini bagi pemerintah daerah lain terletak pada apa yang memicunya. Metana terkumpul di tempat material organik bervolume besar mengendap dalam timbunan yang tidak dikelola. Setiap TPA yang masih beroperasi dengan dasar open dumping selama musim kemarau membawa risiko itu, dan risikonya tidak tersebar merata di seluruh lokasi. Risiko itu memusat di blok yang paling tua, paling dalam dan paling kurang dipadatkan.
Persis itulah yang hendak dijawab dorongan nasional untuk mengakhiri open dumping. TPA yang menerima sebagian besar sampah residu, dengan material organik dialihkan di hulu, menghasilkan metana jauh lebih sedikit. Lokasi yang dioperasikan sebagai controlled atau sanitary landfill, dengan penutupan tanah harian dan pemadatan, memberi api jauh lebih sedikit bahan untuk bekerja.
Solo memiliki fasilitas pengolahan sampah menjadi energi di Putri Cempo dan sedang bergerak menuju berakhirnya open dumping di lokasi tersebut. Kebakaran ini adalah alasan untuk mempercepat transisi itu, bukan vonis atas kotanya, dan respons Solo sendiri menunjukkan pemerintahan yang mampu mengoordinasikan enam instansi beserta satu aset udara dalam 48 jam.
Pandangan Sirkularium bagi pemerintah dan institusi publik
Tiga catatan bagi pemerintah daerah yang memasuki sisa musim kemarau.
Pertama, soal bantuan timbal balik. Datangnya sumber daya BPBD Klaten ke lokasi di Solo dalam sehari adalah rincian yang layak ditiru. Bantuan lintas daerah untuk kebakaran TPA berjalan bila kesepakatan, protokol komunikasi radio dan kecocokan peralatan tangki sudah diselesaikan sebelumnya. Pemerintah provinsi sebaiknya mempertimbangkan mengumpulkan kabupaten dan kotanya untuk memformalkan bantuan bersama kebakaran TPA sebelum musim kemarau berikutnya, bukan pada saat musim itu berlangsung.
Kedua, soal rencana keberlanjutan layanan. Setiap daerah dengan satu TPA sebaiknya memiliki rencana tertulis tentang apa yang terjadi pada pengangkutan harian ketika lokasi itu sebagian atau seluruhnya tidak tersedia. Solo menyusun jadwal yang berfungsi dengan cepat. Rencana yang disepakati lebih dulu, yang menyebut jenis kendaraan, jendela waktu, lokasi pembuangan alternatif dan kanal komunikasi, akan meniadakan antrean itu sepenuhnya, sekaligus mengatur bagaimana pemulung dan pengangkut swasta ditangani selama pembatasan.
Ketiga, soal ekonomi pencegahan. Biaya respons ini, berupa 151 personel, 15 unit, 26 sortie helikopter dan sepekan pendinginan, adalah angka nyata yang berdiri berhadapan dengan biaya penutupan tanah harian, pemadatan dan pengelolaan gas di lokasi yang sama. Pemerintah daerah yang kesulitan mendanai operasi rutin TPA sebaiknya menyandingkan kedua angka itu dalam pembahasan anggaran, karena pencegahan hampir selalu merupakan pos yang lebih murah.
Yang perlu dipantau berikutnya: kepastian luas area terbakar setelah lokasi selesai didinginkan, apakah status tanggap darurat berakhir dalam 14 hari, pemulihan kapasitas pembuangan normal, serta jadwal yang ditetapkan Solo untuk mengakhiri open dumping di Putri Cempo.
Tidak ada nyawa yang hilang, enam instansi bekerja di satu lokasi, dan kota menjaga pengangkutannya tetap berjalan. Sirkularium akan terus mengikuti proses pemulihannya.
Sumber
- Kompas Regional, progres penanganan mencapai 40 persen pada pagi hari ketiga
- Kompas Regional, kendala akses yang dihadapi petugas di lokasi
- Kompas Regional, kota menetapkan status tanggap darurat
- Viva Jogja, 234.000 liter air dijatuhkan dalam 26 sortie helikopter
- CNBC Indonesia, taksiran awal luas area yang terdampak
- RRI Surakarta, taksiran luas yang lebih besar, pemicu metana dan pembatasan pengangkutan
- Kompas Regional, jadwal pembuangan terbatas dan antrean truk






