Lompat ke konten
Sirkularium
Kembali ke Insight
Limbah & Polusi

TNI AD dan empat pemerintah daerah sepakat mengubah timbunan sampah di TPA menjadi bahan bakar

Oleh Sirkularium Editorial Team, 9 menit baca

Pejabat daerah dan perwira TNI AD dalam penandatanganan kerja sama pengelolaan sampah, dengan tampilan fasilitas pirolisis di TPA pada layar pendukung

Pada 7 Agustus 2026 TNI Angkatan Darat menandatangani komitmen bersama dengan Pemerintah Kota Bekasi, Pemerintah Kota Bogor, Pemerintah Kabupaten Bogor, dan Pemerintah Kota Semarang untuk membangun fasilitas pra pengolahan dan pabrik pirolisis di tempat pemrosesan akhir. Rencana ini memberi jalur pengolahan bagi sampah yang sudah menumpuk di TPA, bukan hanya bagi sampah harian yang masuk.

Sekilas data
22,17 juta
Ton sampah nasional yang belum terkelola dengan baik, data 2024
146.780
Ton per hari proyeksi timbulan sampah nasional pada 2029
20,0%
Porsi strategi penanganan nasional yang dialokasikan untuk pirolisis
4
Pemerintah daerah yang menandatangani komitmen bersama

Program persampahan nasional Indonesia mendapat mitra pelaksana baru pada 7 Agustus 2026. Di Aula Jati Kusumo, Markas Besar Angkatan Darat, Jakarta, TNI Angkatan Darat menandatangani komitmen bersama tentang pengelolaan sampah berbasis teknologi dengan empat pemerintah daerah: Pemerintah Kota Bekasi, Pemerintah Kota Bogor, Pemerintah Kabupaten Bogor, dan Pemerintah Kota Semarang. Kepala Staf Angkatan Darat Jenderal TNI Maruli Simanjuntak menandatangani untuk pihak TNI AD. Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan menyaksikan penandatanganan secara langsung.

Isi komitmen ini bersifat spesifik dan praktis. Para pihak akan mengembangkan fasilitas pra pengolahan dan pabrik pirolisis di tempat pemrosesan akhir, yang mengubah sampah menjadi bahan bakar minyak. Bupati Bogor Rudy Susmanto dan Wali Kota Bogor Dedie A. Rachim menandatangani untuk dua wilayah Bogor, dengan TPA Galuga, tempat pemrosesan akhir regional yang melayani keduanya, disebut sebagai lokasi yang masuk lingkup kerja sama. Wakil Wali Kota Bekasi Abdul Harris Bobihoe menandatangani untuk Bekasi, dengan sasaran timbunan sampah di Bantargebang.

Yang membedakannya dari jalur sampah menjadi listrik

Indonesia sudah menjalankan program besar pengolahan sampah menjadi energi listrik melalui skema PSEL, dan perjanjian Bogor mencakup dua jalur sekaligus: komponen waste to energy yang memasok Gardu Induk Karacak, serta komponen pirolisis yang menghasilkan bahan bakar minyak. Membaca keduanya secara bersamaan adalah kunci untuk memahami arti pengumuman ini.

Pembangkit sampah menjadi listrik dirancang di sekitar pasokan harian. Fasilitas seperti itu membutuhkan tonase terkontrak yang datang setiap hari agar dapat beroperasi pada kapasitas desain, sehingga yang tertangani adalah sampah yang akan dihasilkan sebuah kota mulai besok. Jalur tersebut, dengan sendirinya, tidak mengurangi apa yang sudah tertimbun. Pirolisis yang diterapkan pada timbunan di TPA menjawab separuh persoalan yang lain, yaitu material yang sudah menumpuk selama puluhan tahun dan kini menentukan bentuk fisik lokasi seperti Bantargebang.

Zulkifli Hasan menyampaikan pembedaan itu secara langsung dalam acara penandatanganan. Ia mencatat bahwa kerja sama sebelumnya mengubah sampah menjadi listrik, dan perjanjian ini menambah jalur yang mengubah sampah menjadi bahan bakar minyak, sehingga timbunan di Bantargebang, yang ia gambarkan setinggi gedung 16 lantai, menjadi bahan baku dan bukan persediaan permanen.

"Sampah tidak lagi dianggap sebagai beban. Sebaliknya, sampah kini menjadi sumber energi," kata Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan dalam penandatanganan, menandai pergeseran dari memperlakukan sampah sebagai pos biaya menjadi memperlakukannya sebagai masukan energi.

Angka di balik komitmen ini

Angka yang dipaparkan dalam rangkaian penandatanganan menunjukkan skala pekerjaannya. Data nasional yang dikutip dalam acara tersebut mencatat 22,17 juta ton sampah belum terkelola dengan baik menurut catatan 2024, dengan 54 persen masih berada di lokasi yang beroperasi dengan pola open dumping. Proyeksi timbulan sampah nasional mencapai 146.780 ton per hari pada 2029, tahun yang ditetapkan Indonesia sebagai target Indonesia bersih.

Terhadap kondisi itu, strategi penanganan nasional yang dipaparkan dalam acara membagi pengolahan ke dalam lima jalur. Pengolahan organik di sumber sebesar 12,4 persen. Fasilitas TPS 3R dan bank sampah sebesar 19,8 persen. Fasilitas TPST yang menghasilkan bahan bakar jumputan padat atau RDF sebesar 25,3 persen. Pirolisis sebesar 20,0 persen. Proyek PSEL listrik sebesar 22,5 persen.

Alokasi tersebut layak dibaca dengan cermat, karena menjawab pertanyaan yang diajukan banyak pemerintah daerah sejak pemilahan dari sumber mulai diwajibkan. Strategi ini tidak bertumpu pada satu teknologi. Pengolahan organik di tingkat sumber dan bank sampah komunitas bersama sama menanggung 32,2 persen, kira kira sepertiga, sehingga pemilahan rumah tangga tetap menjadi inti dan bukan pelengkap. Jalur termal dan bahan bakar, yaitu RDF, pirolisis, dan PSEL, secara gabungan menanggung 67,8 persen. Pirolisis dengan porsi 20,0 persen adalah pendatang terbaru dalam kelompok itu, dan satu satunya dari lima jalur yang secara khusus cocok untuk menangani timbunan lama, bukan pasokan harian.

Lokasi fasilitas yang direncanakan

Penerapan pirolisis ditargetkan pada sedikitnya lima lokasi, mencakup Jakarta, Bogor, Bekasi, Semarang, dan sejumlah wilayah lain. Sasaran itu sejalan dengan daftar calon lokasi yang disampaikan Jenderal Maruli pada tahap awal pengembangan program, 4 Juni 2026, yang menyebut TPA Bantargebang dan TPA Sumur Batu di Bekasi, TPA Galuga di Bogor, TPA Sarimukti di Kabupaten Bandung Barat, TPA Jatibarang di Semarang, dan TPA Suwung di Denpasar.

Masing masing lokasi membawa kendala yang berbeda. Bantargebang memiliki volume dan ketinggian timbunan. Sarimukti melayani kawasan metropolitan Bandung, yang tengah menyelesaikan penanganan darurat sampah. Galuga melayani dua wilayah administratif sekaligus, dan itulah sebabnya Pemerintah Kabupaten Bogor dan Pemerintah Kota Bogor sama sama menandatangani. Jatibarang menjadi tumpuan sistem Semarang. Memilih lokasi dengan tekanan tertinggi memberi instalasi pertama tolok ukur kinerja yang nyata, bukan sekadar lokasi peragaan.

Bupati Rudy Susmanto merangkum posisi Bogor dalam penandatanganan dengan kalimat yang menggambarkan cara pemerintah daerah menempatkan proyek ini, yaitu dari Bogor Barat untuk Indonesia. Kerangka itu penting. Yang ditawarkan adalah aset daerah yang masuk ke dalam program nasional, bukan aset nasional yang ditempatkan di daerah.

Yang ditambahkan TNI AD pada neraca keuangan daerah

Keterlibatan TNI AD mengubah perhitungan pelaksanaan dengan cara yang melampaui aspek seremonial. Jenderal Maruli menyatakan bahwa institusinya siap mendukung program pemerintah melalui kekuatan dan sumber daya yang dimiliki, dan bahwa Presiden meminta seluruh jajaran ikut berperan aktif dalam mencari solusi.

Bagi pemerintah kabupaten atau kota, tiga kendala biasanya menentukan apakah sebuah fasilitas pengolahan sampah terbangun dan kemudian tetap berjalan: modal, kapasitas pemasangan teknis, serta operasi dan pemeliharaan yang berkelanjutan. Kemampuan anggaran daerah sangat beragam, dan semakin kecil sebuah wilayah semakin berat ketiganya. Institusi dengan logistik nasional, satuan zeni, dan personel tetap dapat menyerap sebagian dari kendala kedua dan ketiga dengan cara yang tidak bisa dicapai oleh pengadaan peralatan sekali beli.

Wakil Wali Kota Harris Bobihoe menambahkan catatan yang menjaga rencana ini tetap realistis, yaitu bahwa kolaborasi teknologi energi terbarukan tersebut merupakan langkah baik, namun harus dibarengi perubahan pola hidup masyarakat, khususnya pemilahan sampah dari sumber. Poin itu menghubungkan perjanjian kembali ke porsi 12,4 persen dan 19,8 persen dalam alokasi nasional. Pirolisis dan RDF sama sama bekerja lebih baik pada bahan baku yang fraksi organik dan daur ulangnya sudah dipisahkan, sehingga kerja di tingkat komunitas dan kerja di tingkat industri saling menguatkan, bukan memperebutkan tonase yang sama.

Pandangan Sirkularium bagi pemerintah dan institusi publik

Bagi pemerintah provinsi dan kabupaten yang sedang menyusun pengaturan pasca open dumping, keunggulan paling berguna dari perjanjian ini adalah masuknya timbunan lama ke dalam jalur pengolahan yang jelas dengan mitra pelaksana yang jelas. Sebagian besar peta jalan persampahan daerah kuat pada sisi pasokan ke depan dan tipis pada sisi volume yang sudah tertimbun, karena penambangan timbunan dan pengolahan stok lama membawa biaya yang jarang bertahan dalam pembahasan anggaran daerah. Program nasional yang menetapkan 20,0 persen strategi penanganan untuk pirolisis memberi perencana daerah dasar kebijakan untuk memasukkan pengolahan timbunan ke dalam dokumen mereka sendiri.

Poin kedua yang layak dibawa ke depan adalah struktur pemasangannya. Bogor menandatangani untuk komponen sampah menjadi listrik dan komponen pirolisis pada kompleks TPA yang sama, dengan titik penyaluran listrik yang jelas di Gardu Induk Karacak. Memperlakukan pasokan harian dan timbunan lama sebagai dua produk dari satu rencana lokasi, dengan teknologi dan pengaturan penyerapan hasil yang berbeda, menghasilkan konfigurasi yang lebih layak dibiayai dibanding menjalankan salah satunya saja. Pemerintah daerah yang menyiapkan studi kelayakan sebaiknya menilai apakah lokasi TPA mereka dapat mendukung konfigurasi ganda yang sama.

Yang perlu diamati dalam beberapa bulan ke depan adalah pembagian tanggung jawab antara TNI AD dan setiap pemerintah daerah, khususnya apakah TNI AD mengambil peran konstruksi dan uji operasi, operasi dan pemeliharaan berkelanjutan, atau keduanya, serta bagaimana penyerapan hasil bahan bakar minyak diatur setelah unit pertama berproduksi dalam volume. Dua pertanyaan itu menentukan apakah komitmen bersama yang ditandatangani di Aula Jati Kusumo menjadi templat yang dapat direplikasi bagi kabupaten dan kota lain, atau tetap menjadi empat pengaturan yang bersifat khusus. Sirkularium akan mengikuti perjanjian tingkat lokasi di Galuga, Bantargebang, dan Jatibarang sebagai indikator awal paling jelas mengenai arah yang akan terjadi.

Alokasi strategi penanganan sampah nasional

Values in persen

BagikanLinkedInWhatsAppFacebookEmail
Sirkularium

Sirkularium adalah lembaga thought-leadership dan advisory yang mempercepat transisi sirkular di sampah, air, dan energi, bekerja bersama pemerintah dan institusi publik.

Di limbah dan polusi, Sirkularium membantu merancang sistem pengumpulan, pemilahan, dan pemulihan, menyusun kebijakan dan peta jalan, serta mengubah sampah menjadi sumber daya yang terkelola.

Artikel terkait

Petugas pemadam kebakaran dan truk tangki air bekerja di tepi TPA sampah yang luas saat senja, dengan alat berat membongkar tumpukan sampah di latar belakang
Limbah & Polusi

Dinas Pemadam Kebakaran Kota Semarang mengerahkan sekitar 50 personel untuk mengendalikan kebakaran yang dipicu gas metana di zona aktif TPA Jatibarang pada 30 September. Kota ini memperlakukan rangkaian kejadian musim kemarau sebagai masa jembatan menuju PSEL Semarang Raya, fasilitas pengolahan sampah menjadi energi listrik berkapasitas 1.000 ton per hari yang ditargetkan groundbreaking pada Desember 2026.

Oleh Sirkularium Editorial Team, 8 menit baca

Petugas dinas lingkungan hidup dan relawan lingkungan mengunjungi rumah di sebuah gang rindang di Jakarta Selatan, menunjukkan kepada warga cara memisahkan sampah dapur ke dalam tong hijau dan sampah kering yang dapat didaur ulang ke dalam kantong kuning
Limbah & Polusi

Pada 28 September 2026 Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta meluncurkan proyek percontohan kolaboratif di RW 06 Srengseng Sawah, Jakarta Selatan, tempat lebih dari 400 rumah tangga di empat RT mendapat pendampingan dari pintu ke pintu dan sampah dijaga tetap terpilah dari dapur hingga fasilitas pengolahan. Sekitar 21.000 rumah di Jagakarsa sudah memilah sampah dari sumber.

Oleh Sirkularium Editorial Team, 8 menit baca

Deretan truk sampah compactor oranye yang sudah diperbarui terparkir di depo milik Pemprov DKI Jakarta, siap diserahterimakan, dengan pejabat Kota Bogor dan pejabat Jakarta memeriksa unit pemadat di bagian belakang salah satu truk
Limbah & Polusi

Pada 29 September 2026 Gubernur Pramono Anung menyatakan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta akan memprioritaskan permohonan Kota Bogor atas truk sampah compactor dan mobil pemadam kebakaran bekas yang masih layak, serta menawarkan ambulans dan bus sekolah. Permohonan yang diajukan sejak pertengahan tahun itu kini berlanjut ke pengajuan tertulis resmi.

Oleh Sirkularium Editorial Team, 8 menit baca

Warga menyerahkan botol plastik dan kantong berisi sampah sachet yang sudah terpilah kepada petugas di kios penyetoran sampah kecil di halaman Balai Kota Bogor, dengan timbangan digital dan ponsel yang menampilkan poin imbalan
Limbah & Polusi

Pada 26 September 2026 Pemerintah Kota Bogor bersama Rekosistem membuka waste station di Balai Kota, tempat warga menukar sampah anorganik terpilah, minyak jelantah, dan sampah elektronik rumah tangga dengan poin senilai Rp100 hingga Rp6.000 per kilogram. Wali Kota Dedie A. Rachim kemudian mengisyaratkan bahwa model ini dapat diperluas ke setiap kecamatan di kota tersebut.

Oleh Sirkularium Editorial Team, 8 menit baca

Sentra pengolahan sampah skala kawasan di Bandung, dengan sampah terpilah dimasukkan ke mesin pencacah dan bal bahan bakar tertumpuk siap diangkut
Limbah & Polusi

Lima pihak yang dimotori Danantara menyiapkan empat sentra pengolahan sampah skala kawasan di Bandung dengan total kapasitas 1.200 ton per hari, dan PLN Energi Primer Indonesia kini menjelaskan bagaimana perusahaan akan menyerap hasil olahannya sebagai pasokan energi primer.

Oleh Sirkularium Editorial Team, 8 menit baca

Warga sebuah banjar di Bali memilah sampah rumah tangga ke wadah organik dan anorganik di bank sampah desa, dengan bangunan TPS3R di latar belakang
Limbah & Polusi

Dalam Dialog Kenegaraan di Denpasar pada 25 September 2026, Ketua DPD RI Sultan Baktiar Najamudin mendorong Bali menjadi pelopor gerakan pilah sampah nasional, dengan menunjuk desa adat, banjar, dan aturan adat sebagai infrastruktur sosial yang selama ini menopang 292 TPS3R dan 962 bank sampah di provinsi tersebut.

Oleh Sirkularium Editorial Team, 8 menit baca